theresa's posts with tag: recipes
Bagaimana mencegah agar tidak terjadi kebakaran di dalam Microwave Anda? Jangan memasukkan allumunium foil atau piring metal, atau juga piring berpinggiran emas ke dalam MW. Lemak yang terlalu banyak juga bisa menyebabkan percikan api.
Gladwrap atau Clingwrap bisa dipakai yang bermutu bagus tapi ketika menutup jangan lupa meninggalkan celah sedikit dan saat membukanya nanti hati-hati dengan uap panas yang bakal keluar.
Pada foto tampak MW yang besar dan masih bagus sekali yang kuperoleh dari Garage Sale (hanya $30 saja, kalau baru bisa $200an). Splatter yang kupegang itu buatan Australia dan dipakai untuk menutup makanan yang dipanaskan agar tidak "nyepret-nyepret" dan agar panasnya merata.
Makanan orang Inggris yang bisa dibuat dengan MW adalah "Jacket Potatoes" yang biasa kami beli di Covent Garden bila ke London. Biasanya kentang berkulit dicuci dulu hingga kulitnya basah terus masuk kedalam MW dengan panas high selama 8 menit ditutupi splatter tapi ada juga alat lain semacam untuk Fish Steamer yang dibeli di toko Korea. Setelah 8 menit, kentang menjadi empuk, dibelah dua dengan pisau dan dilumuri sedikit mentega "Pro Aktiv" (anti kolestrol) ditaburi garam sedikit dan merica. Itulah Jacket Potato sederhana, untuk breakfast.
Langit yang kufoto itu adalah langit yang menudungi rumah ini pada jam 7 malam tadi. Walaupun MW bisa untuk merebus air, kuanjurkan untuk tidak melakukannya. Sudah banyak kecelakaan terjadi, orang terkena letupan air panas ketika menambahkan kopi dan gula ke dalam air yang dipanaskan dalam MW. Rebus saja secara biasa dan bila sedang menggunakan MW jangan berdiri didepannya, bisa-bisa terkena imbas "radiasi"nya.
Microwave bisa dipakai untuk memasak, aku belajar dari buku-buku pedoman serta video bawaannya. Nah, yang paling penting untuk diperhatikan adalah kebersihan MW itu sendiri. Setiap kali seluruh dinding bagian dalam serta piring pemutar harus dilap dengan lap basah. Piring pemutar bisa dicuci. Dan jangan menaruh apapun di atas MW, jangan dipasangi renda atau dibuat meletakkan patung hiasan. Jarak dari MW ke dinding harus ada (sekitar 10cm) dan ruangan samping-sampingnya juga jangan dipadati barang (terutama bagian lubang anginnya).
MW paling praktis dipakai di dalam flat karena alasan kebersihan dapur! Kini aku jarang memasak di MW kecuali memanasi namun dulu sewaktu tinggal di flat, ya harus, apaboleh buat!
Menceplok telur bisa dilakukan dengan MW, caranya lihat foto. Pertama telur dipecah dalam mangkuk. Tusuk bagian kuning telurnya agar berlubang dengan garpu kecil (kalau tidak bisa meledak dan MW jadi kotor). Bubuhkan sesendok teh minyak (boleh minyak sayur atau minyak wijen), taburi garam-merica dan masukkan dalam MW tutup dengan Splatter (kalau tidak punya, tutup dengan tisu dapur). Panaskan (High) selama kurang dari satu menit (setengah matang) dan satu menit bila ingin matang! Bandingkan baru saja kubuat 2 telur ceplok, satu dengan MW satu dengan WBH (Wajan Baja Hitam). Rasanya tentu enak yang dengan WBH tapi untuk cepat dan praktisnya ya dengan MW.
Satu hal lagi kegunaan MW adalah untuk memanaskan gorengan, caranya "gorengan" (pisang goreng, lumpia, pangsit) apa saja diletakkan dalam lipatan tisu dapur agak tebal. Tutup dengan Splatter atau diamkan demikian saja dalam MW, panaskan 1 menit (High) dan minyaknya akan diserap tisu dapur, gorengan ditunggu sebentar akan jadi "kemripik" (gak banget-banget sih, jangan dibandingkan dengan digoreng beneran).
Catatan: Alat keramik putih terlihat pada gambar adalah alat jadul yang bisa dipakai juga dalam oven. Alat keramik akan menyebabkan apa yang ditaruh diatasnya ada "gap" udara dan minyak bisa juga menetes disitu. Aku beli dari sebuah meja di Parramatta untuk menyumbang sesuatu (lupa), harganya hanya 50 sen. Waktu itu ada dua, aku kecewa tidak dibeli semua karena hampir setiap hari dipakai. Bisa berfungsi ganda, untuk di MW dan baliknya untuk menyajikan!
Aku punya 3 Microwave, yang beli dari toko hanya satu dan yang dua beli dari Garage Sale dekat-dekat sini, hanya $30 (Rp.210.000,-) berukuran besar dan merknya Sharp. Aku sudah membagikan 3 MW pada yang membutuhkan. MW murah sekali dan kadang orang yang pindah rumah membuangnya di tepi jalan. Herannya yang diambil pasti hanya piring pemutarnya tok!
 Menggunakan Microwave di Australia sangat populer pada sekitar tahun 1980an, kini juga masih populer namun orang sering membicarakan segi negatifnya. Bagiku MW dipakai untuk memanaskan makanan dan kalau untuk memasak paling tepat adalah untuk membuat "Tim Ikan". Hal yang perlu diperhatikan adalah peralatan memasak untuk MW berbeda, di Australia ada serinya, bermacam-macam sekali. Ini daftarnya :
1. MW untuk menanak nasi (Rice Steamer)
2. MW untuk membuat Popcorn
3. MW untuk membuat Tim Ikan (Vegetable and Fish Steamer)
4. Steamer Caserole (Untuk menggulai)
5. Marinater (untuk merendam daging dalam bumbu)
6. Chicken Cooker (untuk memanggang ayam)
7. Bacon & Egg Cooking System
8. Ring Caserole
9. Mixing Bowl
10. Round Caserole
11. Serving Platter
12. MW Splatter
13. MW untuk "menggoreng" Krupuk
14. MW untuk membuat chips
15. MW untuk memanaskan makanan seporsi
Yah, banyak kan? Dan masih banyak lagi variasinya. Tetapi bagiku pribadi yang paling penting punya yang disebut "Fish Steamer". Itu yang paling praktis.
Caranya, ikan "Deep Sea Bream" dibersihkan perutnya, sisiknya dibersihkan juga dan badan ditoreh seperti pada gambar (bolak-balik). Bumbui dengan parutan bawang, merica, satu sendok minyak wijen, garam, air jeruk nipis atau lemon dan bila punya sedikit White Wine serta taburi irisan daun loncang (Spring Onions).Masukkan bumbu juga ke dalam torehan perut ikan!
Ambil MW untuk Tim Ikan, isi sedikit air di bawahnya (2 sendok makan), taruh ikan di atas saringan, tutup dengan tutupnya dan lubang udara dibuka penuh. Panaskan dalam MW selama 3 menit, balik panaskan lagi 2 atau 3 menit dan periksa, bila belum matang bagian dalamnya tambahkan 2 menit lagi. Air ikan akan menetes ke bawah, jangan dibuang sebab telah menjadi kaldu ikan yang bisa disiramkan di atas ikan ketika menyajikan. Praktis, enak, cepat dan tidak amis! (Pemanasan semua "High mode on" ).
Bila tidak memiliki Microwave, pakai saja keranjang tim dari bambu dan bila punya MW tapi tidak memiliki Fish Steamer, pakai saja piring biasa asalkan Microwave Proof dan tutup dengan "Splatter" (itu lho yang fotonya di sebelah keranjang tim) tapi tidak punya splatter ya sudah tidak perlu ditutupi dan waktu pemanasan disesuaikan, asalkan belum matang ya ditambah lagi waktunya! "Ting!" selesai, hidangkan dan dinikmati bersama nasi hangat!
Catatan : Postingan ini untuk online-buddy Ben yang sedang kebingungan butuh resep-resep dengan Microwave. Di Sydney anak-anak Indonesia bila melihat komputer berlayar gelas yang tebal itu berkata:"Wah, komputernya dah Microwave gitu!"

Hari ini berbelanja sayur-sayuran dan daging. Tukang penjual sayur bernama Freddy (bossnya si Jeannie tapi ternyata sepupu pula) dan tukang penjual daging bernama Leo (sama dengan guru mengemudiku namanya - kemarin latihan lagi yang ke 6). Aku membeli daging Chuck Steak (daging sudah tak ada tulangnya), mau beli daging koyor tidak ada jadi Chuck Steak digunting-gunting = koyoran.
Menu hari ini untuk memberi semangat yang "bersekolah" DKT alias Mbak Yun dimasakin berbagai macam yaitu ; Jangan Asem, Empal, Tahu Bacem, Ayam Goreng. Semua dimasak dengan cara LN (*Jangan ditertawain ya para ibu yang pandai memasak seperti Ine dan D'Ez*)
Tadi beli ayam bagian sayap, nah bagian paling ujung disebut "kepet", yang paling normal bagian tengahnya dan bagian ujung sekali itu besarnya kayak paha ayam di Indonesia. Bagian-bagian itu dipotong jadi 3, kepet, tengah, "paha". Daging Chuck Steak dipotong jadi beberapa bagian tetapi yang model "koyor" digunting lebih kecil. Semua dibumbui asem (tamarind dari Thailand), gula pasir sedikit, chicken powder, terasi bubuk, parutan bawang (soalnya gak punya brambang, laos juga pas abis) lemongrass sepotong (serei). Semua ditumis sebentar dalam sedikit minyak dan diungkep, ditambahi sedikit air dan daun jeruk (aku pakai daun Lemon).
Siapkan satu panci lagi, masukkan air, pindahkan air daging dari panci sebelah ke panci itu, tambahi koyor, potongan jagung, terong yang sudah diiris-iris, potongan lombok ijo. Kalau bisa jangan ditambahi gula, manisnya timbul dari jagung yang direbus disitu. Tambahi daun jeruk dan air jeruk Lemon.
Dalam panci satunya tambahkan tahu (Merk Nigari buatan Korea- merk lain ya boleh, tidak bermerkpun boleh). Rebus empal dan tahu hingga meresap bumbunya.
Sajikan Jangan Asem bersama Tahu Bacem Goreng, Ayam Goreng (diambil dari rebusan itu tadi) dan Empal Goreng ---Voila! Four-in-one siap sekejap! Dimakan dengan nasi hangat, yang terlihat di atas, percobaannya, yang beneran dalam jumlah banyak buat tamunya nanti untuk makan malam bersama! Ayo ikut! Bon Apetit!
Catatan : Tips bagi para ibu yang tinggal di LN, taruhlah batang lemongrass (bagian bongkotnya) dalam vas berisi air di dekat jendela dapur. Dua hal diperoleh yaitu ada persediaan lemongrass segar setiap saat dan lemongrassnya juga tumbuh, keluar akarnya, tinggal ditanam. Cara memakai, potong saja ujungnya dikit-dikit! Tips tidak berlaku bagi yang tinggal di Indonesia (*Berbahagialah mereka*)
Barusan kopdar lewat telepon dengan ibunya si Matthew yaitu Velly, silakan buka MPnya di http://matthewsmummy.multiply.com/ yang menarik karena tugasnya di bidang film industry. Asyik juga telpon-telponannya tadi, bisa mendengar celotehan si kecil Matthew nan lucu dan suaminya yang pandai berBahasa Indonesia yang dipanggilnya dengan sebutan mesra:"Yang" (Singkatan dari "Sayang").
Nah, kami berjanji untuk kopdar di daerah Maroubra pada suatu hari tetapi ini ada makanan dibuat hari ini untuk Matthewsmummy sekeluarga "Tahu Petis a la TJ".
Pertama petis yang dipilih adalah merk "Otak Udang" (*Eeeeh-kok gitu sih namanya?*) alias Prawn Paste dikilang untuk Lintang Bayan Lepas (*Alamak*) Bayan lepas Industry kalau dibahasa Jawakan "Pabrik Doro Ucul" (*Ada-ada aja tuh jiran kita*)
Petis dimasukkan mangkuk diberi air hangat agar lumer ditambah parutan bawang serta separuh perasan jeruk Valencia (tidak perlu pakai gula atau pun cuka) dan ambil beberapa ebi diiris atau diuleg halus campurkan. Masukkan satu menit dalam Microwave! Tuink! Selesai!
Ambil tahu kotak-kotak (tahu pong kosong) merk Fortune (*Merk lain juga boleh*). Tuangi dengan saus petis tadi. Tahu kumasukkan dalam wadah kayunya orang Aborijin yang disebut tempat untuk "Tucker" (makanan). Tahu dicocol saus petis, dicucuk dengan garpu kecil perak made in England! Sungguh sangat multikultural bukan! Aussie!Aussie!Aussie! Oi-oi-oi!
Semoga segera dapat bertemu dengan Velly sekeluarga! Selamat makan Tahu Petis ya Vel!Velly yang orang Ambon berminat menjadi anggota Kerabat Jawa, oh..boleh! Welcome! Monggo-monggo! Semua bangsa Welcome bahkan londo Australi ya boleh!
Love from 7Hills!
Sejak hari Kamis aku sakit tetapi dipaksakan juga pergi pada hari Jumat untuk acara perpisahan dengan Konjen RI untuk Sydney semalam. Badan rasanya meriang, tidak ingin makan apapun. Teringat punya tempe buatan Yani (anggota paduan suara Kerabat Jawa). Aku ambil dari freezer langsung didefrost.
Tidak ada cobek di rumah nomor 57 jadi bawang diparut bersama kunir secuil dan garam laut dibubuhkan pada tempe yang super besar dan telah dipotong tipis-tipis memanjang. Sebagian dari tempe dilumatkan bersama telur, bawang-kunir parutan tadi serta garam dan dipulung seperti perkedel kecil. Semua digoreng di luar, dengan kompor gas portable sehingga uap gorengan menguap di kebun.
Saking besarnya tempe, aku bilang : "Yuk, mbeleh tempe!" (mbeleh =menyembelih). Lebih sedap lagi dikucuri jeruk sambal (jeruk purut = kefir lime) yang dipetik dari kebun sendiri.
Menu hari ini adalah nasi hangat dan tempe goreng kunir plus sambal cap Jempol! Betul-betul Jempol! Dimakan di atas kursi Madura sambil melihat kebun dan meluruskan tubuh...aduuuuuuh, penatnya!
Catatan : Deadline lagi sampai dengan tanggal 7 November 2006 harus menyelesaikan 8 halaman artikel untuk Majalah Ausindo yang akan segera naik cetak.
Memang tulisanku mengenai resep masakan itu lebih cocok untuk orang Indonesia khususnya orang Jawa yang tinggal di luar negeri seperti aku ini yang tinggal di Sydney, Australia. Tadi aku berbelanja di Blacktown dan berbelanja kebutuhan dapur di toko Korea di Main Street langgananku.
Salah satu yang dibeli adalah gereh alias ikan asin, nah jenis gereh kan banyak, yang ini yang model "Teri" (kecil-kecil). Bila membeli teri jangan sekali-kali beli yang dari China, rasanya hambar (mungkin pengeringan dilakukan dengan mesin jadi rasanya hilang, orang Jawa bilang sepo).
Aku tahu bahwa orang Jepang dan Korea tehnik pengeringan terinya dijemur dalam kurungan berjaring halus dan digantung-gantungkan memanjang pada tiang seperti kerekan burung perkutut di Yogya (namun tidak setinggi itu). Dengan tehnik pengeringan dalam jaring itu (*kapan-kapan kupasang fotonya*_Maaf belum ketemu), teri atau gerehnya kering terkena sinar mentari dan tidak dirubung lalat! Jadi bersih!
Nah, teri dari Korea (frozen alias beku) itu kugoreng dengan cara begini, pertama minyak disiapkan untuk menggoreng yang lain dulu. Minyak jernih hanya boleh dipakai 3 kali paling banyak! Jadi pertama buat menggoreng perkedel dulu. Perkedel kentang terbuat dari kentang, telur dan brambang goreng serta mrica dan garam. Kugoreng terlebih dahulu dengan tehnik 2 panci teflon dan dua saringan. Kalau perkedel menguning langsung disaring minyaknya pindah ke teflon lain. Teflon lain itu yang minyaknya bekas untuk menggoreng perkedel untuk menggoreng teri.
Sementara teri digoreng, ambillah daun jeruk purut, rajang halus, taburkan ke dalam penggorengan saat teri hampir kering. Siapkan tisu dapur di atas pinggan dan taruh gorengan teri di sana.
Catatan : Minyak yang sudah jelek dan berbuih harus dibuang nantinya (sudah jenuh tidak baik untuk kesehatan, terlebih lagi jlantah).
Tadi pagi dari rumah nomor 57 menuju ke pertokoan dulu untuk berbelanja. Hari ini membuat 2 macam masakan yaitu "T Bone Steak dan Spinach" serta "Bakmi goreng Cap Kapal Terbang".
Sewaktu berbelanja di toko daging langgananku yang dimiliki oleh orang Italia, tidak lupa mengambil brosur-brosur resep masakan yang terdapat di sana (gratis dan diganti dari waktu ke waktu, ada temanya). Untuk pengambilan resep kali ini temanya "Healthy meals from the dawn of time to dinner time"
Sebelum memasak T Bone Steak marilah sedikit meninjau dapur-ku yang sederhana dan nyentrik! http://theresajackson.multiply.com/journal/item/41 Sewaktu membeli rumah nomor 17, keadaannya masih belum direnovasi. Dapurnya juga belum direnovasi tetapi kupikir lebih baik tetap dipertahankan seperti ini soalnya dalam waktu 5 tahun lagi mungkin juga dijual tetapi ternyata dapur yang seperti ini sungguh "bebas" untuk memasak.
Tidak takut kotor, tidak harus terlalu berhati-hati (seperti dapur super modern di Flat dulu, akhirnya tidak pernah dipakai sebab membersihkannya sulit, untung juga bagi si pembeli karena sewaktu dijual dapurnya masih baru). Kalau yang ini, oh sangat mudah pemeliharaannya.
Lemari dapurnya jadul banget, hanya ditambah alat dapur tidak terpakai namun indah untuk dipajang sebagai handle! Juga beli dari "Cromwells Auction" sebuah lemari dapur dari kayu pinus buatan Denmark dengan laci-lagi yang bisa "tlusar-tlusur" dan bahkan ada laci-laci untuk serbet dll.
OK, back to business! Bikin T Bone Steak ya! Mula-mula T Bone Steak nya dicuci di bawah keran terus dilumuri parutan bawang dan diberi Kecap Jepang Kikkoman serta merica (Bangka lagi!).Spinachnya dikeluarkan dari kardusnya (beku soalnya) dan diletakkan dalam mangkuk.
WBH (Wajan Baja Hitam) berdinding tinggi diletakkan di atas tahta (kompor) dan tuangi sedikit minyak. Biarkan hingga panas! Terus daging diletakkan di atasnya (kecapnya tinggalkan di mangkuk). Seperti biasa 60%-40% pembalikan (biarkan setengah matang 60% baru dibalik 40%). Sambil membalik, guntinglah kisi-kisi daging hingga memudahkannya untuk matang!
Tiriskan daging di atas tempat. Cepat-cepat masukkan bayam dan kecap serta sisa bawang ke dalam WBH. Tunggu hingga bayam matang! Sajikan T Bone Steak dengan bayam serta pisau dan garpu. Kami pun siap akan makan! Tiba-tiba...Klonong-klonong-klonong (Bel Sapi http://theresajackson.multiply.com/journal/item/61 kami berdentang) dan seorang tamu menunggu di luar! Seorang Aussie yang mau mengambil hasil terjemahan untuk isterinya (Lho kok sudah jadi "Indo" banget sih, janji datangnya tuh kemarin lho! ).
Catatan : Aku makan di dapur dan Yu....yah sepuluh menit kemudian! (*Sigh* Kasihan ..eh, tapi kan dapat "Job"? ).

Pesta setiap hari kemarin-kemarin ini menyebabkan aku harus membuat menu khusus. Maklum kan harus mengontrol kadar gula dalam darah agar tidak tinggi dan juga ikutannya yang lain kolestrol, tekanan darah tinggi dll sbgnya. Kupersiapkan "Sup Kacang Merah" alias "Bruine-bonen Soep" a la TJ.
Siapkan "Red Kidney Beans", rendam dalam air kira-kira 2 jam (bisa juga pilih yang kalengan tapi yang masih berbentuk kacang merah polong lebih sehat).
Naikkan panci ke tahtanya dan masukkan kaldu ayam ke dalamnya, didihkan, masukkan kacang merah, masukkan daging sapi (T Bone Steak tipis), beri parutan bawang merica, pala, sedikit garam dan Dashi * (akan diterangkan nanti*) dan juga kentang. Rebus hingga lunak semuanya dengan api kecil. Sementara itu ambil gunting dapur dan guntinglah daging hingga menjadi potongan kecil-kecil. Kaldunya akan jadi tidak berminyak sama sekali.
Dashi adalah semacam taoco tetapi kedelainya dilumatkan bersama Bonito (ikan kakap), bagi orang Jepang sup yang diberi ini akan menyempurnakan rasanya (sebagai pengganti bumbu masak). Sanae-san teman Jepangku selalu bilang:"Put this in any dish, and you will be amazed!" Memang Brunie-bonen Soep-ku ini tidak terlalu berlemak dan enak juga rasanya, sehat pula!
Aku makan soep itu dan minum teh Cina yang kubeli kemarin berasal dari Shanghai namanya Suguard untuk mengontrol kadar gula darah. Rasa teh itu seperti arak obat. Ini sedang uji coba!
Setelah soep matang, panci ditutup dengan serbet (jangan tutup panci), uap yang terungkep tidak bisa keluar merubah rasa soep. Aku masih selalu memakai serbet untuk menutup makanan, walau pun kadang-kadang gladwrap dipakai juga!
Andaikan pelajaran sejarah dilakukan di dapur, pasti anak-anak mendengarkan dengan seksama dan langsung ingat karena ada "rasanya". Tahukah Anda tentang sejarah Wajan?
Wajan Baja Hitam itu kini sudah tergantikan oleh yang alumunium, yang metal, yang monel, yang Teflon, tapi aslinya ya WBH alias Wajan Baja Hitam. Dimulai pada zaman kejayaan Raja-raja Mongolia termasuk KuBiLayKhan. Mereka meluaskan jajahan bahkan sempat mengirim utusan ke Tanah Jawa.
Tetapi yang penting kembali ke pokok persoalan tentang Wajan, dulu sewaktu berperang para serdadu menggunakan helmet baja mereka atau pun perisai untuk memasak. Perisai baja itu bentuknya kan seperti wajan, eh keliru dibalik dong WBH seperti perisai serdadunya KBK.
Sedangkan helmetnya eh helmnya itu untuk panci, tinggal dibalik, untuk masak kuah-kuah dan sebangsa gulai. Masak orang perang bawa peralatan memasak? Gak lucu kan? Itulah yang terjadi. Dagingnya mungkin daging binatang buruan atau ..(Kuda*? Sudah gaksah diterusin). Sayurnya seadanya. Tahukah Anda bahwa Seledri itu awet? (*Hahaha, kalau punya kulkas*).
Untuk mengenang serdadu KBK dan WBHnya mari kita memasak So'un ala KBK. So'un yang dipakai kebetulan terbuat dari ketela rambat tapi Anda boleh pakai so'un apa saja. Jerang air panas, masukkan so'un kedalamnya, tutup selama 10 menit. Siapkan bawang putih, parutlah satu atau dua siung. Merica Bangka, Kecap Jepang dan Seledri besar yang sudah diraut dengan peraut sayur hingga kulit kerasnya hilang.
Kalau memasak, perhatikan saja bumbunya tidak ganti-ganti tapi rasanya yang berganti, silakan dibuktikan! Tehniknya, jerang WBH di atas api menggelegak seperti zaman KBK. Tunggu hingga panas (*sambil merenung berimajinasi jadi serdadunya KBK yang kelaparan tapi dapat tugas memasak*). Masukkan telur ayam, langsung dua! Srooong! Kacaukan dengan solet dan setelah seperti orak arik tuangi kecap Jepang sehingga baunya wangi.
Masukkan bawang putih parutan, tunggu hingga wanginya bikin orang bilang "Hmmm masak apa sech?" Terus masukkan so'unnya yang sudah ditiriskan. Tambahkan kecapnya, lihat kecap dan telurnya seperti diserap habis oleh so'un.
Beri Merica Bangka (merica lain juga gak nolak) terus masukkan irisan seledri yang sudah dipotong tipis-tipis! (Jangan ada sayur lain! Seledri tok!). Tambahkan kucuran setengah Lemon atau jeruk nipis (Lemon dan Seledri pengganti garam!). Hmmmmm sedap!
Aku perhatikan masakan mie dari Beijing yang mienya dibuat dengan ditarik tangan, sungguh unik! Sayurnya hanya seledri saja karena campuran seledri dan mie serta kecap akan menimbulkan rasa khas yang unik (* Double- khas dan unik! Biar mantaf!)
Taruhlah so'un dalam wadah, taburi bawang goreng dan ambillah (kalau punya) Sendok Spaghetti (kayak garpu) itulah alat paling tepat untuk menyendok mie atau pun so'un! (Perhatian: Marcopolo pernah ke Cina sehingga orang Italia juga makan pasta, spaghetti, sejenis bakso dan pangsit tapi mereka tidak memakai sumpit melainkan sendok spaghetti untuk mengambil pasta).
Siapkan mangkuk, masukkan so'un, tambahkan acar! Makanlah dengan...sumpit tapi yang terbuat dari kayu atau bambu! Hmmmmmm sedap nian! Berimajinasilah sebentar menjadi serdadu KuBiLayKhan!
Sewaktu pulang ke Yogyakarta pada bulan November lalu, aku diajak iparku Ratna jajan Brongkos. Tempatnya tersembunyi di tengah Pasar Prambanan. Warungnya berwarna "ijo royo-royo" dan brongkosnya sungguh sedap. Iparku Ratna memang jagoan jajan dan tahu tempat-tempat jajanan terbaik (konon sehabis berlatih tenis ia dan kawan-kawan barter koleksi tempat berjajan-ria! *Wink2* Terus hasil olah-raganya bagaimana ya?
Rasa brongkos masih "terasa-rasa" dilidahku karena kebetulan besok aku dan Yu Ratri harus menghadiri "Pertemuan Kerabat Jawa" yang diadakan di rumah salah seorang anggota di kota. Nah, harus "Bring a Plate" kan? Dan makanannya itu harus yang "Jowo" banget, apalagi kalau tidak Brongkos!
Jadilah aku "dudah-dudah" aliah bongkar-bongkar perpustakaan dapur menengok persediaan yang ada. Wah, lumayan "kaya", ini hasil temuanku: Tempe, Keluak (frozen dibeli di Maroubra) terus ada jugaBelinjo (frozen, waduh $4.50 seplastik kecil beli di Randwick), Coriander alias ketumbar yang kubeli kemarin Merk "Master of Spices". Wah, banyak juga kekurangannya jadi aku pergi berbelanja. Aku membeli ayam ukuran sedang (Pitik Dere - ayam remaja), beli setangkai lemongrass atau serei (Alamak $2). Karena cabai mahal maka beli yang model pasta botolan. Pulangnya mampir di rumah nomor 57 mengambil Kidney Beans alias "Kacang Tholo" (Kacang Merah tepatnya karena Tholo warnanya hitam). Serbuk Belacan dari Malaysia (Terasi sudah dibakar berbentuk bubuk). Heboh nian!
Siap tempur! Wajan Baja Hitam berdinding tinggi naik tahta. Sebelumnya bumbu diulek yaitu ketumbar, garam laut, bawang putih hingga lumat dan dicampuri sedikit tempe (pengganti "Tempe Bosok"). Tadi sebelum berbelanja "Kluek" direndam air panas dalam mangkuk, campurkan kluek dalam ulekan.Ayam dipotong-potong menjadi bagian-bagian cukup kecil.
Tuangkan minyak sedikit ke wajan dan masukkan bumbunya, setelah menguning masukkan potongan ayam dan tempe (tempenya dipotong kecil-kecil). Ungkep! Tutuplah wajan dengan tutup panci kemudian setelah semua menguning, tambahkan air (bisa juga kaldu). Masukkan juga air rendaman Kluek tadi. Masukkan Blinjo! Masukkan serei yang sudah dimemarkan sebesar sekilan (15 cm).Setelah mendidih, kecilkan apinya, tunggu hingga warna kuah menjadi coklat, sementara itu tambahkan satu sendok teh serbuk terasi. Setelah ayam empuk, potongan dagingnya bisa diperkecil lagi dengan gunting dapur. Masukkan juga Kidney Beans kalengan (karena tidak perlu direndam, sudah empuk lagipula "Low GI").
Blinjo dan buah Kluek didatangkan dari Queensland (1500 kilometer dari Sydney). Cuaca di Queensland tropis seperti halnya di Indonesia.
Ketika memasak aku selalu ingat pada nenekku. Bila memasak, dapurnya yang datang padanya. Nenekku duduk di bangkunya yang super lebar (bukan dingklik) dan menyuruhku mengambilkan seluruh peralatan dapur ke hadapannya duduk. Wajan Baja Hitam, anglo, kipas, telenan, minyak, kompor, susruk, solet, irus, ceret, tampah, tambir, kalo, pisau, bumbu-bumbu dapur, bahan yang akan dimasak dll sbgnya. Tapi nenekku itu sangat pandai memasak. Masakannya enak sekali! Kami dulu tinggal di daerah Ngabean di Yogyakarta kini Jalan Kiai Haji Achmad Dahlan.
Selesai memasak semua peralatan dikembalikan lagi ke tempat semula (setelah dicuci tentunya). Cukup heboh bin kuesele top! Di Yogyakarta dulu ada Ketjap Nomor 1 dan nomor 2 (Jujur ya! Lihat fotonya - Produksi Tjan Goen Liem / Moentilan). Sekarang kecap di Indonesia nomor satu semua.
Nenekku selalu mengkritik pedas hasil kerjaku, pokoknya dapat nomor 2 pun pasti tidak. "Ngrajang kok koyo mamahan jangkrik ngene!" (Mengiris kok kasarnya kayak remah-remah bekas gigitan jangkrik begini!). Tapi ia cinta sekali padaku dan aku pun demikian. Dalam hatiku setiap memasak aku ingat pelajaran memasak nenekku, selalu. Orang-orang yang kita cintai ada dalam kenangan kita selamanya.
Catatan : Foto Brongkos dalam mangkuk pada foto paling atas di warung Brongkos itu adalah hasil masakanku hari ini. Yu Ratri sudah ngicipin "Ya, sudah, sudah persis!" Besok aku pengumuman" Para sederek ingkang minulya, kula mbetha Brongkos!" Horeeeeeeeee !!!!(Mereka bilang) "Asli wonten Kluekipun" (Waaaaah!!!!) "Mawi mlinjo wonten klathakipun" (*Gedebug bok semaput* alias *Gubraks pingsan!*).
  
"Par Excellence" adalah istilah Bahasa Perancis yang artinya "Superb", alias istimewa! Tahukah Anda bahwa pada zaman tahun 1930an untuk menaik-daunkan masakan Indonesia (kebanyakan masakan Jawa), di Restoran Belanda atau di Buku Masakan namanya ditulis dalam Bahasa Perancis, karena "Haute Cuisine" atau kulinari Perancis sangat terkenal di dunia, jadi masakan bisa dinamakan : Deviled Eggs a la Javanaise, Sauteed Tofu (Tahu) Juliene, Poulet a la "Madame Berek" (*Hahaha* - *Kopi Betul* ini ciptaanku sendiri).
Keterangan : Bagi yang pandai memasak pasti tahu bahwa "Deviled Eggs" biasanya "a la Dijonaise" (Telur dibelah diisi mustard dll , klo cara Jawa gimana ya? Dipindang aja ah!), Sauteed artinya ditumis dan Juliene adalah tehnik memotong wortel yang bisa diterapkan pada tahu, Poulet artinya ayam dan Madame Berek adalah "Mbok Berek" (neneknya Nyonya Soeharti - ingat "Ayam Goreng Soeharti"?).
Okay, sekarang "Telur Dadar Par Excellence" ku ya! Paling mudah memang selalu tersedia telur di kulkas. Kini harga telur terus merambat naik, di suburbku $3.50 dapat 2 lusin. Tadinya $2.50 dapat 3 lusin). Ambil 2 atau 3 telur, pecahkan dalam mangkuk, bubuhi garam laut dan merica (Merica Bangka). Kocok telur !
Siapkan Skillet (Wajan Baja Hitam ceper) dan solet (milikku ini buatan Melbourne, Victoria pada tahun 1950an) dan jerang di atas kompor gas. Tunggu hingga panas, tuangi sedikit minyak, terus kocokan telur dituang!
Telur Dadar ini dibiarkan tebal, ungkit si telur dadar hingga cairan yang masih belum termasak mengalir ke bagian bawah telur. Setelah coklat kekuningan, balik! Sret! Tunggu semenit! Jadi! Voila --Telur Dadar Par Excellence! Bon appetit!
Catatan : Perhatikan tatakan makannya! Sebuah sketsa Andong dari Yogyakarta mengingatkan kita pada lagu "Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota...." Selamat menikmati telur dadarnya ya! Dan sebenarnya telur dadar ini oleh orang Jawa dinamakan "Dadar Kothongan" (artinya kosong, tidak ada bumbu-bumbu istimewanya) tapi gara-gara kunamakan ala haute cuisine, sekarang jadi 'naik daun', Par Excellence! Hebat! Luar biasa!
Menanggapi postingan Agnes tentang "Jothakan", nah ini fotonya "Wawuh" (Ya, membutuhkan kelingking orang lain untuk memotretnya, dalam hal ini kelingkingnya Yu Ratri "Pinjem Yu! " -- Klik!).
Akan halnya aku, harus jothakan dengan nasi dan karbohidrat berlebihan dan juga gula atau yang manis-manis. Dietnya "Pemilik Pabrik Gula" bersaing dengan PT Madukismo ya cukup berat tapi sebetulnya asal menyadari kegunaannya ya tidak terlalu berat. Ada yang enak-enak juga kok. Antara lain :"Steak" boleh. Hari ini aku bikin "Brunch" (Breakfast gabung Lunch). Sebaiknya orang diabet makan 6 kali dengan pembagian "Sedang-kecil-Sedang-kecil-Sedang-kecil" (Sedang = Breakfast-Lunch-Dinner, Kecil = Snacks= buah atau biskuit ringan).
Ini "Steak Obong"ku hari ini. Semua harus gerak cepat selesai dalam waktu 15 menit karena kalau disajikan dingin tidak enak, itulah susahnya menyiapkan makanan barat. Pertama, taruh kentang dalam Microwave (Hehehe-aku juga menyebut komputer kuno dengan istilah "Microwave"). Kentang dimasak di MW selama 10 menit sebelumnya dicuci dulu, jadi masih basah masuk MW.
Siapkan daging (T Bone Steak), marinate alias rendam dalam parutan bawang dan Katsuo Tsuyu (Yo ben, Jepang dan Australia gitu) tambahi merica (So pasti MB = Merica Bangka yang gak abis-abis). Pilih dari perpus Dapur (*milang-miling ke gantungan wajan") yaitu Skillet alias wajannya orang Inggris dari baja hitam berat bergagang dan pantatnya datar (lihat foto).
Jerangkan Skillet di atas kompor gas. Tunggu hingga panas, tuangi sedikit minyak sayur (Canola), lalu letakkan daging T Bone Steak tadi. Rumusnya (*tiru-tiru Ine*) untuk "Well Done" 60%-40% dan "Medium" 40%-40% (Apa sih itu? Mumet.com?) Artinya bila bagian bawah Steak sudah 60% matang baru dibalik dan tunggu hingga 40% matang (membolak-baliknya hanya 2 kali aja tidak lebih tidak kurang!). Sementara itu ambil gunting dapur dan Steak digunting kiri kanan ("kiwir-kiwir show") jadi lebih matang dan nantinya agak kayak sate tidak perlu sulit memotongnya sewaktu makan.
Siapkan piring ceper dan letakkan Steak di sana tetapi sementara itu tadi wortel sudah direbus dan diiris model serong-serong. Kentang yang di MW langsung dipotong jadi dua (kentang jenis kecil-kecil) dan "Maaf ya, tidak perlu dikupas karena vitaminnya justru di balik kulit dan lagi kentangnya bersih banget". Skillet dibersihkan di bawah kran, langsung naik "tahta" lagi. Beri minyak "sedikit" masukkan potongan kentang beri garam laut sedikit dan di "ongklok" (Kentang Ongklok). Pada saat wajan panas kentang diaduk hingga tidak menempel di wajan dan timbul keritip-keritip gosong yang enak. Sajikan bersama T Bone Steak dengan wortel dan potongan "Lebanese Cucumbers" (Mentimun). Sangat Multikultural! Selesai!
Catatan : Silakan baca juga http://dibetkah.blogspot.com/
Wajan di dapurku digantungkan di mana-mana, ada wajan janggel (bertangkai), wajan pipih, wajan ini-itu tetapi yang paling kusukai adalah wajan "with flat bottom" - tampak pada foto, kalau ditumpangkan pada kompor tidak bisa terguling. Wajan ini cukup praktis untuk membuat "stir fry" alias menumis. Wajan kesayanganku adalah "Wajan Baja Hitam" bentuknya agak mirip panci, tebal *solid tok-tok-tok* dan kalau dibuat menumis minyak tidak "muncrat" kemana-mana serta panasnya cukup tinggi, wajan Jepang ini oleh para Nihonjin dipakai untuk membuat "Sukiyaki" sedangkan bagiku yang menyebut diriku Niseimono alias Jepang palsu ya dipakai untuk apa saja.
Untuk tehnik "Masak Obong", apinya harus besar (Tehnik Restoran Soen Ki - By the way, Milka kakaknya Ine sudah mencoba "Tamie" di Soen Ki, komentarnya :"Benar-benar sedap, lain dari yang lain - perlu beli lagi!"). Wajannya harus baja supaya panas!
Siapkan dulu yang mau ditumis, yaitu "Tokolan" alias kecambah/taoge/Beansprouts, cuci bersih masukkan dalam kalo (penyaring anyaman dari bambu). Kupas dan rajang bawang putih (itu baik untuk kesehatan jadi boleh 3 atau 5). Siapkan "ebi" alias udang kering kecil-kecil (aku beli yang buatan Malaysia) serta kecap Jepang Katsuo Tsuyu (di Indonesia adanya hanya di Hero Supermarket - kalau di Yogyakarta). Merica bangka disiapkan juga (gak abis-abis lho - masih dalam botolnya - Untung!Untung! Kok kayaknya aweeeeet banget! Soalnya dieman-eman, disayang *Sigh-"Dulu kok cuma beli 1 botol?*).
Jerangkan wajan di atas kompor gas, tunggu hingga panas. Tuangi minyak sayur sedikit, masukkan ebi, goreng hingga kering, masukkan irisan bawang (tunggu sampai kuning) langsung "Sruuuooooooooooooong!!" kecambah masuk berbarengan kecapnya di "srut-srut-srut" sampai berasap gitu! Baunya haruuuuuuuuuum kemana-mana! Itulah dia "Masak Obong" kita hari ini. Sewaktu kecambahnya masih "kres-kres" langsung kompor dimatikan dan tuanglah hidangan di atas pinggan. Selesai!
Dimakan dengan nasi hangat (*Punyaku "Basmati Rice") serta lombok ijo yang udah diulek dengan bawang putih dan sedikit garam laut. "Itadakimas!" Kata si Niseimono artinyo "Selamat Makan!" (Linak-Lico, Linggo-Libeh ...Astaganaga! "Lali anak-lali konco, lali tonggo, lali kabeh! alias lupa segala! Gawat). Silakan mencoba! Boleh di KOPI tapi di http://wajan masing-masing.com/ ya! (ini gakda lho, just kidding!)
Catatan : Untuk Joice, nih! Dah tak masakin! Ayo dimakan, jangan ditambahi apa-apa lagi lho! Nyam-nyam-nyam-nyam....Untuk Estherlita (*Jangan ngambeg dunk!*) juga (Rada minder wong dah puinterrrr buanget masaknya) juga Ine (Aduuuuh malunya aku), Nukky, Haley, Agnes, Deshinta, Tian Arief, Sutonokairos, Digiq, Chatarina, siapa lagi Phitree, Wiwit dan si kecil Vari, Oom Andre (KB), Yohanes, Monaliza dan Dion n D'Papap, Mamanya JaeHee, Pardede, Lydia and Christine Tanod, semua online buddyku yang sekarang baru hampir 100 (makanya ayo join dong!)
Yang ngintip langsung tak tambahkan namanya di sini dan silakan ambil sendiri di WAJAN masing-masing! Silakan buka juga http://theresajackson.multiply.com/journal/item/71
Tadi malam aku menemukan buku resepku, yaitu buku khusus untuk mencatat resep-resep pribadi. Tak terasa sudah 13 tahun tinggal di Sydney dan selama itu sudah kira-kira 12 kali pindah rumah! (Kayak kucing memindahkan anaknya saja ya?).
Pada tahun pertama hidup di Australia, sulitnya luar biasa karena dari mata uang Rupiah meloncat ke Dolar Australia. Semua harus serba dihemat, bahasa Jawanya "ngirit". Dalam buku kumpulan resep itu terlihatlah pengiritan itu. Ada resep "Kepala Udang Kering". Memang udang di Australia besar-besar ukurannya. Nenekku dulu selalu menggoreng kepala udang untuk lauk (ternyata kutirukan, kurasa sudah lebih dari 10 tahun aku tak melakukannya lagi karena sadar akan "kandungan kolestrolnya").
Resep Kepiting juga ada ala Tanjung Pinang dan yang paling geli, aku menertawakan diriku sendiri resep ikan yang bernama "Leather Jacket". Ini ku-share disini yah! (*twinkle-twinkle* = geli mode on ). Semua resep kuberi ilustrasi gambar dengan pena dan pinsil berwarna, kayak ngeBlog tapi ini ngeBlock (Blocknotes).
CHINA-MAN-IN-LEATHER-JACKET (alias Ikan Jaket):
Yang istimewa adalah tulangnya yang besar (lihat gambar) dan berada di tengah. Menurut Dr.Ove Hugh Guldberg (temanku yang ahli Oceanography) hal ini untuk menghindari ikan itu ditelan oleh ikan besar. Ikan besar takut memangsa ikan ini karena tulang itu.
Bersihkan ikan, gores-gores tubuhnya, beri parutan bawang, jahe, fish sauce. Goreng sampai kering. Atasnya dituangi Kum Lum Kee.
Kepala ikan jaket pasti sudah dibuang bila dibeli. Wajahnya seperti "china-man" (bermata sipit) dan kulitnya seperti jaket jadi namanya adalah "China-man-in-leather-Jacket" alias "Si Orang Cina berjaket kulit", ada-ada saja! Di Toko Ikan dijual sebagai "Jacket Fish" dan harganya tidak mahal. Ikan yang agak mahal tapi seram wajahnya dan namanya keren adalah John Dowry, wajahnya jelek nian seperti "Butho Cakil" (Raksasa bernama Cakil).
Dalam buku itu aku juga mencatat bumbu yang ada di Australia serta peralatan dapur untuk mempermudah pelaksanaan kerja (habis tak ada pembantu). Ini daftarnya :
alat pencucuk daging, chopper (agar mata tidak pedas terkena brambang), alat pemegang onion, penjepit setop (sekali jepit langsung jepitan terkunci), penjepit kerang, penjepit panci panas, alat penyaring es batu, pemotong tomat, alat pemeras jeruk, alat penghancur kentang, alat pemarut bawang, alat pemotong buncis (sekaligus mengambil serat kiri kanan yang keras), alat pengupas wortel, alat pengupas apel dan kentang, alat pemotong mangga, alat pengupas Melon (daging buah langsung terkelupas bulat), pisau putar pemotong mentimun, pengocok telur kecil (untuk dadar), alat pelunak daging, pencetak telur ceplok, Microwave steamer, Microwave splatter, Microwave popcorn maker, alat pengukur spaghetti, alat pembuka botol selai (kotak ataupun bulat), pisau penoreh Grapefruit, kapak daging....dll sbgnya!
| |