theresa's posts with tag: photography
|  | Salah satu hobiku adalah berkunjung ke Toko-toko kamera yang terletak di George Street Sydney. Kadang mereka memiliki keranjang khusus untuk menempatkan obralan peralatan kamera (yang aneh-aneh).
Pada suatu hari di suatu tahun mungkin sepuluh tahun yang lalu aku membeli seperangkat filter yang labelnya $36 tapi hanya dijual $5. Filter itu memang terbuat dari plastik tetapi bisa dipakai untuk bereksperimen. Ternyata "Colour Filter 20EA System" itu bisa ditempelkan di depan lensa kamera digital dan hasilnya cukup menarik!
Kali lain aku memperoleh seperangkat kamera polaroid kuno plus tripod dan filter-filternya, semua dihargai $150 tetapi filternya lebih bermutu, walau pun terbuat dari semacam plastik tapi kualitasnya bagus. Filter-filter ini kutempelkan di depan kamera digital dan hasilnya memang penuh kejutan, sedang asyik bereksperimen nih!
Apakah ada teman-teman yang memiliki filter-filter sejenis dan punya pengalaman tertentu? Asyik juga bereksperimen dengan filter-filter tersebut! |
|  | Ya, ini adalah hasil gabungan yang modern dan yang kuno. Dahulu kala aku memiliki sebuah kamera Polaroid yang dilengkapi filter-filter unik. Nah, inilah kombinasi pemakaian kamera digital dengan filter Polaroid berwarna merah nomor F105.
Eeeek! There's a Mouse on my Mouse! ...Idenya karena teringat di kota DenHaag dulu ada sebuah toko bernama "Eeek! It's A Mouse!" dengan gambar seorang wanita naik ke atas bangku gara-gara takut pada seekor tikus. Lupa, toko itu menjual apa, mungkin mainan, tapi namanya sangat menarik!
Tikus yang berada di atas Mouse-ku itu adalah sebuah spidol ! Lucu kan fotonya? Tikusnya juga imut kan? Eeeeek!!!
Foto kedua modelnya adalah seekor tikus yang kutemukan di ruang praktek seorang dokter (mungkin punya seorang anak yang tertinggal) dan seekor kucing hitam (gantungan mainan pada HP pemberian iparku). Selamat tersenyum! |
|  | Terimakasih ya Ag! Inilah hasilnya memasang berbagai pigura pada foto! TAPI awas TRIAL DAYS hanya 15 hari sudah itu harus beli! Jadi cepat-cepat! BAGAGE! Kata orang Padang! (Bergegaslah!). |
|  | Harganya hanya @ 700 Rupiah, aku beli sepuluh dan kuberi penjualnya 10 Ribu Rupiah. Sungguh Sedap! Tetapi....3 hari jadi sakit karena makan 5 jagung! |
|  | Itulah menuku setiap hari pada pagi atau malam hari, siang boleh jajan asal berhati-hati. Pada foto tampak aku memotret mobil Atoz lain di depanku, mobil kecil mungil itu paling cocok untuk suasana lalu-lintas Yogya yang menurutku semrawut kayak dawet "uyuk-uyukan" main salip kanan-kiri-depan-blakang wat-wut sat-sut!!! Tadi pagi aku jalan kaki mau motret Malioboro ditutup buat olah raga, eeeehh hampir ditabrak sepeda motor ngebut , untung bisa menjepitkan diri kayak cecak di tembok! Ketikanku juga sering meleset karena papan keyboardnya hurufnya banyak yang kalau tidak dipencet keras tidak normal! Maafkan ya! |
|  | Kujumpai ia kemarin pagi di depan Hotel Mutiara, aku membeli 2 bungkus Thiwul seribu Rupiah dan kuberi ia 5000 Rupiah yang langsung dikipaskan ke dagangannya :"Laris laris laris" Ia menjual Lopis, Thiwul, Ketan dan diserta Juruh (sirop gula Jawa kental) atau parutan kelapa. Thiwulnya untuk Mbak Parti di rumah (aku kan gak boleh makan) Cukup fotonya saja. Penjual seperti ini sudah jarang ditemuikan. |
|  | Cerita panjangnya menyusul ini cerpennya, foto-foto diambil ketika menjenguk Ayu yang sakit di Taman Siswa. Kami bertemu dengan Bu Rini ibu Helien dan ayu serta saudara-saudara yang lain. Kami = Wiwit, Vary, Yohanes, Hida dan aku sayangnya Vary menangis minta pulang (takut padaku..ihiks). Jadi foto-foto Vary kugabung dengan foto dapur Bu Rini yang kuanggap eksotis. Vary lagi masak-masakan difoto ibunya Wiwit (pinjem ya Wit). Ayu tampak gembira kami kunjungi. Semula Vary suka mengunjungi Jukli sang kura-kura tapi waktu kufoto jadi menangis padahal di Sydney tukang menghibur anak-anak di Yogya tidak lulus "mengasuh" Vary (payah ya?). |
|  | The six of us are planning to climb Harbour Bridge tomorrow (Media Team for AusIndo Magazine) just wait and see... |
|  | Inilah bunga Wijayakusuma terbesar yang pernah ada di kebunku. Mekarnya bunga dimulai sejak sore hari dan foto pemekaran diambil pada jam 11.15 malam ini. Untung, gara-gara teringat hari pembuangan sampah jadi harus mengeluarkan tong sampah melewati tontonan menarik yang hampir terlewatkan ini. Sungguh-sungguh suatu keajaiaban alam, beberapa minggu lalu ada 2 bunganya. |
|  | Foto ini diambil tengah malam tadi sepulang meliput 2 acara yaitu Ultah Dharma Wanita Persatuan KJRI Sydney ke 7 dan Natal GKIA. Kebun dipenuhi ratusan bunga kaktus yang mekar dan dimanfaatkan untuk berfoto-ria. Mas Sony dan Mbak Yun belum pernah melihat bunga-bunga itu dan karena mengantar kami jadi bisa melihat bunga-bunga yang indah tersebut. |
|  | Bunga kaktusnya jadi Es Kaktus! Kelopaknya jadi bening! Dan bisa dibandingkan dengan keadaan di luar yaitu di kebun, semua bunga sudah menguncup kembali. Semalam bermekaran, kini kuncup "Now you see, now you dont!" Paling tidak ada yang masih mekar di dalam freezer walaupun bening! |
|  | Malam ini menjadi-jadi bunganya, pohon kaktus setinggi 4 meteran itu sarat dengan bunga. Banyak orang ingin melihat tapi bagaimana caranya karena mekarnya hanya pada malam hari dari jam 10 hingga 5 pagi. Tiba-tiba aku mendapat ide, kupetik setangkai bunga segede piring itu dan dimasukkan kedalam container bulat diisi air dan dimasukkan kedalam freezer hingga bunganya dibekukan disana dalam keadaan mekar. Bagaimana menurut pendapat Anda? Bisakan? |
|  | Setelah bunga-bunga kaktus bermekaran beberapa minggu lalu, tadi tepat pada jam 12 malam rombongan bunga-bunga kedua menyusul bermekaran secara serentak. Sungguh sayang untuk ditinggalkan pergi tidur, seperti mengendap-endap mereka hadir dan kini bersorak-sorai dikepekatan malam. Semua kelopak menatap kelangit dan semua seperti meniupkan terompet kemenangan, ceria, riang-ria! |
|  | Semuanya jauh dari kemewahan, diwarnai kesederhanaan alamiah dari unsur kayu,terracotta, metal dan tanaman. Bila perhatian terpusat pada detil keindahannya sungguh nyaman di mata, semua terpadu dan bersatu, menyatu enak dipandang dan membuat imajinasi melayang. Kreasi timbul, semangat hidup timbul dan perhatian pada hal yang kecil mewarnai hidup kita, walau pun sederhana namun "kaya" dalam kesederhanaan itu sendiri dan semuanya kembali pada sang pencipta untuk mensyukuri semua yang dianugerahkanNya pada kita. |
|  | Iseng-iseng nganggur kurang kerjaan sambil menunggu menguji murid nanti pada jam 2 siang ini masih jam 1 kurang jadi membuat fotogram palsu dengan Picassa. Komposisi irisan Jeruk Valencia serta kulitnya sehabis jeruknya dimakan (*diet-Sigh*).Silakan buka http://theresajackson.multiply.com/journal/item/329 tentang Photogram. |
|  | Bunga pertama muncul pada hari ini dan mekar beberapa menit yang lalu. Tunas-tunas bakal bunga bermunculan dan dalam dua-tiga hari ini kebunku akan dipenuhi bunga-bunga putih mirip teratai itu. Sungguh indah dan menakjubkan! |
|  | Dulu sebelum model zaman ngeBlog aku selalu mempunyai BlockNote atau NoteBook semacam diary yang diisi setiap waktu dengan tulisan tangan dan foto-foto panoramic pakai kamera Nikon (model banget masa-masa itu). Ini contoh salah satu Diary Book berjudul "Plain and Simple" khusus untuk mencatat perjalanan ke Belanda judulnya "Menapak Tilas Perjalanan VOC". |
|  | Bakul nasi berubah menjadi tempat kerupuk, keranjang rotan bayi jadul menjadi tempat pakaian yang dari jemuran, kawat jadul untuk menitiskan minyak dari gorengan. |
|  | Tempat nasi dari anyaman bambu namun dijahit dengan benang bordiran ini buatan Laos. Desainnya sangat sederhana untuk menyimpan sekaligus tetap menghangatkan nasi karena denuding bambunya double. Ketika mengadakan pesta dan nasi harus diputarkan di meja makan, tempat nasi ini pantas diacungi jempol! |
|  | Ketika mengunjungi Taronga Zoo di Sydney bersama Edo keponakanku beberapa tahun silam aku memotret Harimau Sumatera yang menjadi kebanggaan kebun binatang itu. Sang harimau langsung datang mendekat kira-kira 5 cm saja jaraknya (dipisahkan kaca setebal itu). Ia berpose untukku kemudian kembali berbaring lagi di bawah rumpun bambu. Belum pernah aku sedekat itu dengan harimau! |
| |