Aku teringat pada almarhum nenekku dan juga orang-orang yang menjadi tua dan kita menjadi perawat mereka. Aku pernah merawat ayahku, nenekku dan ibuku. Ketika sedang menjalankan tugas merawat itu, sungguh berat tantangan yang harus dihadapi. Hanya kekuatan dariNya yang bisa menolong kita.Proses yang terjadi sehabis merawat orang tua adalah timbulnya kekuatan dariNya untuk melampaui semua ini dan menyadari kelemahan dan ketergantungan kita padaNya sebagai manusia. Tulisan ini kuperuntukkan bagi seorang sahabatku yang sedang merawat ayahnya, semoga dikuatkan olehNya! Amien.
SIKLUS KEHIDUPAN
Ia bertubuh dewasa, namun berjiwa bayi,
menyerupai raksasa tua yang kehilangan gigi,
ompong, terkapar tak berdaya, kalah perang.
Ia sedang menjalani akhir siklus hidup
seorang anak manusia.
Ia berteriak, ia menjerit, ia menangis,
ia lupa diri, ia menceracau, ia berada
dalam kubangan kotorannya sendiri.
Ia merengek, ia menggerutu, ia mengomel berkepanjangan,
ia berada dalam kubangan air seninya sendiri.
Ia berubah, menjadi hantu di siang bolong,
dan jin di malam hari,
mengganggumu, memaki dan memasung kakimu
serta membuatmu malu.
Di saat seperti itu, serasa ingin kau cekik
dan kau pancung kepalanya.
Namun, dahulu kala,
ia menggendongmu, ia menyuapimu, memeliharamu, memperhatikanmu,
mengurusimu, menyayangi dan mencintaimu
dengan cintanya yang mengalir murni dari lubuk hatinya,
kaulah anak semata wayangnya, biji matanya,
pujaan hatinya.
Ia menghiburmu dikala kau menangis,
menina-bobokanmu dikala kau mengantuk,
menjagamu berhari-hari tanpa tidur ketika kau sakit.
Pada saat ingin kau benci dia,
sebal pada semuanya,
ingatlah semua yang manis yang telah dilakukannya.
Ambil air,
basuh wajah dan tubuhnya,
ingatlah saat ia memandikanmu.
Ambil handuk, keringkan tubuhnya,
pakaikan pakaiannya, nyamankan dia
seperti yang dilakukannya saat kau kecil.
Ambil minyak kayu putih,
borehkan pada perutnya,
persis seperti saat kau bayi.
Ia harus dipapah,
seperti saat kau belajar melangkah.
Ia harus diasuh,
tak kuasa menguasai dirinya lagi.
Ia harus disuapi,
seperti dulu ketika membesarkanmu.
Ketika menyuapinya,
bayangkan dulu ketika kita disuapi,
dan kelak kita pun akan disuapi lagi.
Ketika memandikannya,
bayangkan ketika dulu kita dimandikan dan
pada suatu saat akan dimandikan lagi.
Siklus hidup terlalu berat,
terlalu sengsara,
ketika sedang dijalani.
Jalankan dengan tawakal,
niscaya ada manfaatnya,
ketika pada setiap detik kau merawatnya,
kau panjatkan doa padaNya,
memohon kekuatan dariNya,
agar anak manusia yang lemah,
bisa melampaui semua ini.
Sayangi dia, doakanlah dia,
dalam segala keterbatasannya,
hanya DIA yang bisa menolongmu.
Ketika hatimu marah,
redakanlah dengan doa,
agar bisa mencintainya secara lengkap,
ia yang "dulu" dan ia yang "sekarang".