theresa's posts with tag: life in indonesia
|  | Jaman Doeloe kalau mau menggoreng saja ribet banget, mesti ada anglo. Anglo harus diisi arang dan dibuat menjadi bara, dikipasi. Untuk menggoreng harus ada wajan, minyak kelapa, serok.
Kita juga harus menyiapkan tampah dan kertas merang untuk menampung kerupuk. Lain sekali dengan masa kini di mana ada kompor gas atau pun microwave.
Coretanku ini dulu kubuat kartu dan kujual di Pasar Malam Besar Tong-Tong di Den Haag, Holland. Lumayan, banyak penggemarnya, laris maris! Sedikit banyak coretan ini mengingatkanku pada nenekku yang kalau memasak dapurnya yang datang mendekat, semua peralatan dapur harus disiapkan di hadapannya (http://rumah-ngabean.blogspot.com/). Nostalgia!
CATATAN Besok akhirnya kami akan berbelanja ke Lakemba, sebuah suburb yang komunitasnya kebanyakan beragama Islam dan banyak juga orang Indonesia tinggal di sana. Terdapat "Lakemba Asian Grocery Store" dan "Lakemba Halal Meat" jadi bisa banyak membeli kebutuhan belanja Indonesia di sana. |
|  | Dahulu sewaktu masih kuliah di IKIP Sanata Dharma jurusan Bahasa Inggris, kami memiliki seorang dosen bernama Pak Hendro. Beliau mengajarkan poem di bawah ini untuk dihafalkan dan dibaca dengan lafal yang benar serta dihayati isinya.
Masih terngiang-ngiang suaranya ketika membacakan poem ini di depan kelas dan memang hingga kini isinya masih kuhayati setiap kali menatap padang rumput hijau yang ditumbuhi bunga Daffodils. Bunga kuning kecil itu baru akan muncul pada saat musim semi tiba nanti, kira-kira 3 bulan lagi.
The Daffodils (by W.Wordsworth) I WANDER'D lonely as a cloud That floats on high o'er vales and hills, When all at once I saw a crowd, A host of golden daffodils, Beside the lake, beneath the trees, Fluttering and dancing in the breeze. Continuous as the stars that shine And twinkle on the Milky Way, They stretch'd in never-ending line Along the margin of a bay:
Ten thousand saw I at a glance, Tossing their heads in sprightly dance. The waves beside them danced, but they Outdid the sparkling waves in glee:— A poet could not but be gay In such a jocund company! I gazed, and gazed, but little thought What wealth the show to me had brought: For oft, when on my couch I lie In vacant or in pensive mood, They flash upon that inward eye Which is the bliss of solitude; And then my heart with pleasure fills, And dances with the daffodils.
|
|  | Bersama benda-benda lain dalam kontainer, poci nenekku termasuk. Setiap kali melihat poci itu, terkenang olehku, nenekku tercinta.
Nenekku lahir pada tahun 1893 dan meninggal pada usia 83 tahun. Aku selalu dekat dengannya, dulu saat kecil. Adikku laki-laki 3 orang dan mereka bersama ibuku. Aku dirawat oleh nenekku. Ia tidak memiliki anak perempuan, keempat anaknya laki-laki semua.
Dari nenekku aku mewarisi banyak kegemarannya, antara lain, minum teh. Nenek selalu minum teh, pagi-siang-sore-malam. Tehnya pahit, tidak manis! Poci teh yang kubawa ini mungkin salah satu koleksinya karena biasanya ia minum teh langsung dari cangkir, teh tubruk!
Nenekku gemar memasak dan juga menginang (makan sirih). Setiap malam ia rajin mendengarkan siaran Radio "Phillips" (mirip Radiogramku) dan siarannya selalu "kethoprak" atau "Wayang". Banyak kosa kata bahasa Jawa kupelajari darinya, misalnya ; ludira, peksi, ganda dll sbgnya.
Dalam sebuah film yang pernah kulihat, seorang kakek yang akan meninggal berkata pada cucunya :"Bila aku tiada nanti, jangan terlalu bersedih, aku akan selalu ada di hatimu. Juga kalau kau lihat keturunanmu kelak, aku ada di sana, misalnya jarinya mirip aku atau caranya bicara, dll sbgnya."
Benar juga, nenekku tercinta selalu kuingat, walau pun tak ada keturunanku langsung tapi ada cucu-cucunya yang lain dan cicit-cicitnya. Belum ada yang mirip sih! Tetapi ingatan tentang cinta kasihnya, apa yang diajarkannya padaku akan selalu tersimpan. Tidak saja terkenang ketika melihat poci atau ketika minum teh, ia, nenek tercinta selalu ada dalam kenanganku.
PS Poci ini bagian atasnya memiliki saringan berbentuk cangkir namun bagian bawahnya berlubang halus berbentuk seperti anyaman bambu. Poci bernomor 3 ini kemungkinan buatan Inggris.
|
|  | Tiba-tiba ada SMS dari teman-teman lama ketika kuliah di IKIP Sanata Dharma dulu. Aku terkejut namun juga terpukau, sekian tahun telah berlalu. Mereka memiliki milis dan aku akhirnya digabungkan ke milis itu, duh terharu sekali!
Aku masuk ke IKIP Sadhar pada tahun 1973 tetapi terus absen karena mondok di RS Bethesda selama setahun (sepanjang tahun 1973 itu) jadi setelah sembuh aku masuk kuliah lagi pada tahun 1974. Teman-teman kuliahku pun ganti karena yang angkatan tahun 1973 sudah naik ke tingkat dua.
Aku lulus BA pada tahun 1976 tetapi melanjutkan kuliah lagi di STSRI ASRI (memanfaatkan bakat kesenimananku) dan pada tahun 1981 aku melanjutkan tingkat Sarjana di IKIP Sadhar lagi, ASRI kutinggalkan.
Nah, itulah foto si Young TJ, sekian tahun telah berlalu! |
|  | Pada tahun 60an, boneka karet hitam dari Jepang ini amat populer di Indonesia. Bersamaan dengan itu diperkenalkan lagu Dako-chan yang kata-katanya adalah sebagai berikut :
Kulihat ada boneka baru, dari karet amat lucu. Dako-chan namanya bukan Sarinah, sayang-sayang mahal harganya (2x)
Dari kata-kata dapat dipetik beberapa hal. Saat itu belum ada plastik, yang ada barulah karet. Boneka itu berasal dari Jepang yang artinya "Dako = dark" dan Chan = anak" jadi "Anak Hitam". Sebetulnya berbau rasialis tapi orang menganggapnya lucu.
Saat itu juga di Indonesia terdapat "Department Stores" pertama di Jakarta disebut "Sarinah". Presiden Soekarno menamakannya untuk mengingat nama pengasuhnya semasa kecil bernama Sarinah.
Aku yang waktu boneka itu populer berusia sekitar 6 tahun tidak memiliki boneka impor yang mahal tersebut. Teman-temanku banyak yang punya. Saat itu ada "mode" yang lagi "in" di Indonesia yaitu para gadis berambut disanggul kebelakang, diikat tetapi terurai lepas disebut model "Buntut Kuda" dan pakaian yang sedang populer yaitu "blouse" disebut "you-can-see" karena tidak berlengan hingga tampak ketiaknya.
Celana panjang potongan 3/4 disebut "Jengki" dan lagu yang terkenal saat itu adalah :
Aduh genitnya si Buntut Kuda, lagak gayanya menggoncang dada!
Mereka mejeng sambil menempelkan sebuah boneka Dako-chan di lengan mereka. Ada juga boneka dako-chan kecil yang bisa ditempelkan pada pinsil. Aku suka sekali pada boneka Dako-chan mini pada pinsil itu, sayangnya harganya juga mahal, tak terjangkau!
Kini sudah tuir, punya hobby "koleksi mainan kuno" yang dulu tak terjangkau itu. Sayangnya, boneka karet ini tidak bisa "survive", lumer semua. Yang kuperoleh adalah sebuah tas jadul dengan gambar Dako-chan yang bisa "merem-melek" karena ada "gambar tiga dimensinya" dan sebuah komidi putar Dako-chan yang kubeli dari "Cromwells Auction" (Tinplate Toy buatan Jerman).
Coretan gambar Dako-chan kubuat sebelum mendapatkan tas Dako-chan, coretan dengan ballpoint pen. Dari e-bay kuketahui, pasaran si Dako-chan bila ada sekitar US $25 tetapi cukup sulit untuk mencarinya. Dako-chan berupa komidi putar itu terbuat dari kaleng jadi awet, itu pun cukup mahal harganya.
Nah, inilah sedikit kisah si Dako-chan! Koleksi mainan yang lain bisa dilihat di http://theresajackson.blogspot.com/ berjudul "Toys of Migrants in Australia". |
|  | Foto ini diambil sekitar tahun 1964, jadul banget. Kami masih komplit sekeluarga. Ayah, ibu dengan empat orang anaknya. Aku anak sulung dengan tiga adik laki-laki. Kami selalu berfoto secara rutin karena pamanku memiliki foto studio. Dulu namanya "Foto Studio Radar".
Entah bagaimana, pamanku itu senang pada kata "Radar" yang saat itu modern banget. Ia juga menerima panggilan foto "manten" jadi kalau ada sisa film dalam kamera biasanya aku yang jadi obyek fotonya. Ia bujangan sampai hampir usia 40 kemudian menikah dan memiliki 2 anak perempuan. Sebelumnya, aku lah "anak perempuannya" (Hehehe, dipotretin terus).
Ketika berfoto di studionya pada foto yang tertera di sini, kami berempat memakai mantel berhiaskan "Dakochan" yang lagi "in" saat itu. Mantel itu kiriman pamanku yang lain di Jakarta. Ayahku 4 bersaudara, pria semua jadi "anak perempuan" dimanja dalam keluarga besar (Hehehe, untung!).
Dakochan adalah boneka terbuat dari karet buatan Jepang yang mahal sekali saat itu. Ada Dakochan kecil-kecil yang bisa ditempelkan pada pinsil, ada bonekanya yang besar bisa dilingkarkan tangannya pada lengan. Semua serba Dakochan! Sampai-sampai ada lagunya:
Kulihat ada boneka baru, dari karet amat lucu, Dakochan namanya, bukan Sarinah, sayang, sayang MAHAL harganya!
Ayahku meninggal saat aku berusia 15 tahun. Kami semua sedih sekali karena ia seorang ayah yang baik sekali. I still miss him until today. Ibuku meninggal pada usia 71 tahun pada tahun 1991. Ayahku pada usia 50 tahun pada tahun 1971.
Ayah dan ibuku sudah meninggal namun kenangannya tidak akan pernah mati. Kenangan itu ada pada kita selama hayat dikandung badan. Wahai para orang tua, perbuatan kalian akan dikenang selalu jadi berhati-hatilah dalam menanamkan cinta kasih pada anak.
Foto ini baru saja kutemukan terselip dalam Alkitab ibuku. Kedua Alkitab orang tuaku ada padaku, satu milik ayah, satu milik ibu.
Sudah tuir tapi ya masih merindukan mereka. One day we will be together again, Amin! |
|  | Iseng-iseng aku membuat gambar pada mainan kayu yang kusebut "Othok-Ithik" ini. Pada satu sisi bergambar seorang pria Madura dan pada sisi lain seorang wanita Madura (mengenakan kalung merjan).
Bila digerakkan kekiri dan ke kanan, kepalanya akan menyentuh kedua tangan terangkat dan berbunyi "Othok-Ithik". Dalam Bahasa Inggris disebut "A Rattler", untuk menghibur seorang bayi kecil agar tersenyum.
Mainan kayu itu adalah salah satu desain yang kubuat ketika sering bergabung PMB (Pasar Malam Besar Tong-Tong) dengan judul "Mooi Indie", toko kami bernama TOKO INDOOZ, satu-satunya peserta dari Australia (pada masa itu). Untung mainan ini tidak terjual (memang tidak dijual, hanya untuk "display"), yang terjual habis adalah kartu gambar garis buatanku.
|
Ini praktek kedua menghilangkan background dan sudah lebih maju dari yang pertama. Boneka ini ikut dalam kontainer yang dikirim ke Australia dari Yogyakarta. Bonekaku yang pertama kuperoleh dari ibuku pada sekitar tahun 1955 (tuir pokoknya). Terbuat dari atom (istilah untuk semacam plastik keras, plastik baru masuk ke Indonesia pada sekitar tahun 68 kira-kira). Sedikit nylonong ceritanya, pada tahun 68an itu kantong plastik diiklankan di Majalah Jaya (dulunya Star Weekly) bunyinya :"Bisa untuk menyimpan dokumen dan ditanam di dalam tanah, tidak akan rusak atau pun basah" (Iklannya dengan gambar komik). Pada masa itu memang banyak yang harus disembunyikan dalam tanah (dokumen maupun harta benda). Nah, boneka atom ini sudah memiliki tanda-tanda direparasi berulang-kali oleh ayahku (beliau kan punya bengkel mobil tapi sering mereparasi bonekaku juga). Bagaimana tidak? Matanya yang "merem-melek" sering rusak akibat rasa ingin tahuku "kok, bisa merem-melek ya?" Jadi matanya pernah di"operasi" dan juga tangan kanan yang menggendong "adik" sudah dilas ke badannya (alamak! Pasti copot juga!). Boneka ini memiliki tulisan di punggungnya "Empire Made" (buatan mana ya? Inggris mungkin?). Kini masih bisa merem-melek. Bonekaku ini namanya SITI ROHANI, ada lagunya, yang terkenal pada zaman 1960an yaitu: Ada anak baru masuk sekolah, pakai kacamata, rambutnya ekor kuda. Siapa namanya? Siti Rohani! Mana rumahnya? Jalan Banyuwangi! Walau pun tidak berekor kuda, karena lagu itu sedang populer, ya jadi namanya SITI ROHANI. Barbie Dolls belum musim zaman itu di Indonesia, kalau pun ada harganya tak terjangkau. Koleksiku yang lain bisa dilihat di http://theresajackson.blogspot.com/ (Toys of Migrants in Australia).
|  | Maksudnya mau membuat yang begini! |
|  | Olas adalah putera online-buddyku Oom Kondre http://kondombocor.multiply.com/ dan komik ini adalah hadiahku untuk ulang tahun Oom Kondre. Olas memang lucu dan imut, sewaktu dibawa ke Taman Mini ia ditemani botol susunya dan pernah sakit-sakit Olas harus bersekolah hingga ketiduran di bangku. Dalam komik, Olas bersama Opungnya sedang memetik rambutan.
Kelemahan program yang kupakai ini hurufnya sering ada yang hilang ketika diupload! Hati-hati ya Olas, rambutannya jangan sampai dicuri! Kartun pohon rambutan dan anak-anak yang mencuri buah rambutan itu kubuat sekitar tahun 1989 di Yogyakarta. Silakan buka juga http://theresajackson.multiply.com/photos/album/167
HAPPY BIRTHDAY to Oom Kondre!!! Semoga berbahagia selalu sekeluarga dalam lindunganNya! Amien. |
|  | Adakah yang bisa menjelaskan tentang Bus Way? Apakah menjadikan kemudahan ataukah malah menjadikan jalan menjadi jalan untuk Bus Way?
Sewaktu di Yogya, aku mendengarkan komentar para pendengar bila Bus Way juga diterapkan di Yogya. Masa ada pendengar yang usul ingin Bus Way dengan rute tempat-tempat jajanan yang digemari?
Bagaimana pendapat teman-teman tentang Bus Way, is it the way to go or is it a way for the bus? |
Waktu itu umur Edo 3 tahun. Ia adalah anak sulung adikku laki-laki. Dulu hampir setiap hari ia meneleponku meminta digambarkan Dinosaurus. Aku menggambar untuknya dan mengirimkannya lewat Fax. Ini salah satunya, dibuat pada sekitar tahun 1990. Pada waktu aku pulang ke Yogyakarta pada bulan Februari lalu, Edo sudah kuliah, ia berusia hampir 20 tahun. Ia sudah bisa mengantarku kemana-mana dengan mobilnya (walau pun ia lebih suka naik sepeda motor). Waktu berlalu sedemikian cepat. Masih kuingat saat-saat ia meneleponku menjelaskan tentang mimpinya malam itu. "Edo bertemu burung besar sekali, paruhnya bengkok...dll dll" Gagang telepon diletakkan dan ia sibuk menggambarkan paruh tersebut dengan tangannya, tentu saja pembicaraan jadi terputus. Telepon nyambung lagi, ujarnya:"Kira-kira apa ya namanya?" Waduh! Aku bilang saja:"Burung GIGUK" Hahahaha! Sekarang ia sudah dewasa, sibuk berolah raga "body building"...Kalau ingat dulu semasa ia kecil, aku tersenyum sendiri.
|  | Dulu aku memiliki sebatang pohon rambutan Rapi'ah di kebunku yang selalu berbuah lebat. Pada waktu musim rambutan, anak-anak sibuk mencuri rambutan. Kartun itu kubuat sekitar tahun 1989. Kini rumahku di jalan Suroto nomor 1 di Kota Baru, Yogya itu telah dibeli oleh Mirota dan menjadi "Roemah Mirota" (Warnet). Pada bulan Februari 2007 lalu aku menjenguk rumah itu dan "tilik" si Rambutan! Ia tampaknya "Happy-happy saja". Aku sempat "berbincang-bincang" dengannya! Hehehehe!!! Kangen padanya, apalagi buahnya!!!! Ada yang mau tilik? Ia masih berada disana... |
Nenekku demen mendongeng. Ia hafal cerita pewayangan, ia juga bisa menceritakan hikayat-hikayat kuno seperti Bintal Jemur, tapi juga hafal kisah klasik seperti Sie Djien Koei. Ia bisa memulai cerita itu dari mana saja dan selalu tokoh-tokohnya hafal di luar kepala. Jadi sambil memijat tubuhnya, kami para cucu paling suka menagih ceritanya.
Kisah yang diceritakannya kadang-kadang kisah nyata dalam kehidupannya, kisah ketika ia masih kanak-kanak, kenakalannya dan lain-lain sebagainya. Kami belajar tentang kehidupan juga dari ceritanya. Salah satunya, ia sering menceritakan lelucon versinya yang mungkin didengarnya dari orang lain atau pun dibacanya. Begini ceritanya (dalam Bahasa Jawa), sebagian diterjemahkan ;
Seorang nenek tua yang ompong berjongkok kedinginan pada suatu pagi dan cucu kesayangannya (perempuan) mendekatinya. Simbah ini sudah sedikit pikun karena tuanya. Ia sedang ngambeg karena merasa kurang diperhatikan. Cucu bertanya :"Mbah, kademen yo? Tak jupukke kemul opo?" (Mbah, kedinginan ya? Kuambilkan selimut ya?). Simbah memberengut, jawabnya:"Tak cuwek-cuwek cican (Karena ompong jadi pelo, artinya kusobek-sobek sekalian nanti!). Lalu cucu bertanya lagi:"Tak gawekke wedhang panas po, Mbah?" (Kubuatin air panas, bagaimana?) Simbah menjawab :"Ooo, tak uwat-awut cican!" (Uh, kubuang kemana-mana!" Galak banget deh nih Simbah satu! ).
Sang cucu bertanya lagi:"Tak gawekke pendiangan piye Mbah, ben anget!" (Kunyalakan api dalam anglo Mbah, biar hangat tubuhnya?). Jawab Simbah manyun :"Tak oyak-ayik cican!" (Kuorak-arik nanti bara apinya!). Weleh-weleh, kehabisan akal si cucu mendekat, merangkul Mbahnya dan berbisik:"Tak keloni, po Mbah?" (Baiklah aku akan berbaring di tempat tidur menemanimu, Mbah). Jawab Simbah :"Oya cucah toyan-tayen!" (Gaksah ribut, kerjakan saja!).
Kesimpulannya, si Embah ini butuh cinta kasih cucunya, bukan benda tapi perhatiannya. Lelucon ini kuingat terus dan ternyata berpuluh tahun kemudian, nenekku tercinta yang pandai mendongeng itu menjadi pikun, Rewelnya minta ampun dan aku ketika merawatnya selalu mengingat kisah kehidupan yang diceritakannya sendiri dan kini dialaminya. Pernah karena kecapaian, kami menitipkannya di Panti Wredha, baru "satu hari belum ada, mungkin beberapa jam" sang kepala Panti wredha sudah menelepon kami untuk mengambil nenekku itu, tidak ada yang "tahan" menghadapi ataupun merawatnya, nakaaaaaaal sekali Sewaktu diambil, persis seperti "anak nakal" yang ketahuan ibunya, nakaaaaal sekali! Ia telah berubah!
Memang tidak mudah untuk merawatnya, butuh cinta kasih dan kesabaran luar biasa, tapi belum sebanding dengan apa yang pernah dilakukannya padaku ketika aku kecil dalam asuhan cinta kasihnya.
Yang ingin tambahan cerita tentang nenekku bisa membuka http://rumah-ngabean.blogspot.com/ dalam kumpulan kisah PARADISE LOST.
Sebut saja namanya TS. Ia anak termiskin yang pernah kulihat di sekolahku dulu yang masih disebut SR (Sekolah Rakyat). TS adalah anak tunggal yang diantarkan oleh ayahnya ke sekolah naik sepeda bobrok. Ayahnya akan memarkir sepeda itu, menggelar dagangannya di muka sekolah berupa barang-barang rombengan. Dengan PD (penuh percaya diri) sang ayah yang bercelana cekak dan berkaos oblong itu duduk bersila di depan dagangannya sambil menunggu sekolah anaknya usai.
Dagangannya itu misalnya bos lampu bekas, sadel bekas, pokoknya segala onderdil bekas untuk sepeda. TS sang anak tunggal dibiayainya dengan berjualan semacam ini. Ketika itu tahun 1960an, semua orang dewasa pria dipanggil sang ayah dengan julukan :"Nip" (kependekan dari neef = nephew=sepupu) dan ciri khas yang lain ia selalu memulai pembicaraan dengan berkata :"Dak Nip...!" (Maksudnya "Bukan begitu saudaraku..") jadi oleh kami anak-anak ia diberi julukan "Oom Dak Nip".
Kepala Sekolah kami orangnya berwatak keras dan kejam. Ia sering menghina orang kurang mampu dan di sekolahnya selalu menomor-satukan orang mampu. TS selalu menjadi sasaran hinaannya dan ia diam saja.
Berpuluh tahun berlalu! Aku berada di Bandara Changi, Singapura. Aku masuk ke dalam lobby eksekutif dan ketika sedang asyik menyeruput kopiku, aku melihat pemandangan yang "tidak biasa". Sebuah keluarga terdiri dari ayah, ibu dan dua anak sedang berada di sana, dan yang tidak biasa adalah, sang kepala keluarga adalah si TS! (Sebetulnya ia adik kelasku).
Aku menyapanya dan iapun masih teringat padaku. Ia memperkenalkanku pada isteri dan kedua anaknya. TS telah menjadi orang sukses, ia menjadi seorang pengusaha. Sekolahnya ditamatkan dari biaya "Oom Dak Nip" dan ia tidak mengecewakan ayahnya. Dimulai dari usaha kecil-kecilan, kini TS telah menjadi seorang pengusaha sukses yang bisa melanglang buana bersama anak dan isterinya. Oom Dak Nip masih hidup dan tinggal bersamanya.
Bagaimana dengan nasib kepala sekolahku yang sombong itu? Ia mengalami pernah kecelakaan dan kemudian pindah ke pulau Riau namun nasibnya tampaknya kurang beruntung. Nasib anak-anaknya tak ada yang seberuntung si TS. Bila ia mengetahui masa depan anak didiknya TS, apakah dulu ia tega berbuat seperti itu terhadap murid tidak mampu?
Adakah teman-teman yang mempunyai pengalaman serupa?
Di antara tahun 1930 hingga 1950an nenekku memiliki sebuah perusahaan batik di Ngabean. Ia sendiri juga mendesain Batik Tulis dan juga karya lain yang dalam Bahasa Inggris disebut TieDye atau "Ikat". Ada lagi desainnya yang menggunakan potongan-potongan kertas yang digunting-gunting, tehniknya tetap dicelup "malam" (wax) tetapi mirip tehnik sablon.
Nenekku kalau menggambar pensilnya tidak pernah diangkat jadi merupakan garis yang terus meluncur membentuk bunga, daun, kupu-kupu, sulur tanaman, sambung menyambung. Disini tampak salah satu karyanya yang olehnya diberi nama "Taplak", ya sekedar taplak meja. Dulu ada setumpuk dan berwarna-warni, warnanya cerah sekali dan bunga-bunga itu ciri khas desain nenekku.
Seingatku aku masih menyimpan beberapa helai di rumahku dan pada saat bebenah pada bulan Februari lalu aku menyuruh salah satu pembantu adikku untuk membersihkan noda di meja. Ia datang dan asyik menggosok meja dengan sebuah "lap", betapa terkejutnya daku, lap itu adalah salah satu taplak desain nenekku, bukan yang ini tapi yang berwarna hijau pupus.
Aku tidak marah, hanya kuhentikan segera pekerjaannya dan kuberi penjelasan bahwa "lap ajaib" itu bukan lap tapi barang antik yang usianya mungkin sudah lebih dari 70 tahun. Ia terperanjat dan minta maaf tapi "lap" itu terlanjur "bolong". Apa boleh buat? Lap itu kini sudah dicuci bersih dan kubawa sekalian ke Australia, jadi aku punya 2 helai taplak desain nenekku, yang ini dan yang "itu" (*Walah-walah, ....@#^*?>).
Lelucon ini sengaja tidak diterjemahkan, bagi yang bisa membuat terjemahannya silakan?
SING KEMPLU SAPA?
Den Lurah akon bature apek krambil. Bareng wis mapah bature takon "Pundi ingkang dipun andapaken, Den ?"
Den Lurah : "Sing tua sisih kulon."
Batur : "Niki?"
Den Lurah :"Kuwi lagi kemeruk"
Batur :"Niki?"
Den Lurah :"Kuwi lagi kemlamut."
Batur:"Niki pripun?"
Den Lurah :"Hus kuwi malah isih gemlothak ngono, kuwi lho kuwi!"
Batur :"Pundi tho Den, napa niki?"
Den Lurah :"O, bocah kemplu! Wis mudhuna dhikik."
Den Lurah banjur menek, bareng wis tekan ndhuwur celatu:"Iki lho, iki, wis weruh durung?" Deweke banjur mudhun. Bature dikon menek maneh, ngundhuh sing dituduhake.
(Kejawen, 1941)
Hayo, siapa bisa membuat terjemahannya yang persis dan lucu?
Untuk mengungkapkan kalimat :"Apakah Anda yang membeli sepeda ini?" Ada tiga tingkatannya, KRAMA, MADYA dan NGOKO, contohnya ;
KRAMA
1. Punapa nandalem ingkang mundhut pit punika?
2. Punapa panjenengan ingkang mundhut pit punika?
MADYA
3. Napa sampeyan mundhut pit punika?
4. Napa sampeyan tumbas pit punika?
NGOKO
5. Apa sliramu mundhut pit kuwi?
6. Apa kowe tuku pit kuwi?
Cukup memusingkan bukan? Hal ini sudah diselidiki oleh para ahli bahasa di Amerika, Anda bisa membacanya di situsnya, judul bukunya : "Style And Sociolinguistic Variation" Edited by Penelope Eckert and John R. Rickford (Stanford University)
Dua hari sebelum aku meninggalkan kota Yogyakarta, aku masih tergesa-gesa menyempatkan diri mengurus sebuah buku antik berisi banyak kenangan ini. Buku itu ukurannya 2 kilan 1 Blok kali 2 kilan. Bila Anda rentangkan jari Anda dari ibu jari sampai kelingking itu namanya sekilan dan 1 Blok adalah bila jari-jari dirapatkan dari ibu jari hingga ke kelingking itu istilahnya seBlok (ukuran bila tidak ada penggaris atau meteran).
Buku ini kubeli di Pasar Loak, tepatnya di Alun-alun (Kidul opo Lor yo?) pokoke bagian belakang yang ada kandang gajahnya. Di sana banyak tukang loak dan dalam salah satu perburuanku bersama adikku laki-laki (takut kalau pergi sendiri) aku mendapatkan buku itu, sudah jelek banget penampilannya, bodol banget! Mau dijilid belum sempat-sempat. Akhirnya kubawa ke Toko Foto Copy Prima depan Mirota Kampus minta pelayanan kilat penjilidan (hanya tambah biaya 2000 Rupiah jadi biayanya hanya 4000 Rupiah). Ketika diambil aku pangling, buku itu jadi indah sekali!!!!
Pada halaman depan tertera cap berbunyi : Pemerintah Daerah Istimewa, Sekolah Rakyat Putri, Keputran I, PS KotaBesar, Jogjakarta. Buku itu dijilid oleh guru pengajar kesenian Batik dikerjakan oleh murid-muridnya dalam kurun waktu 2 tahun (2 kelas). Nama-namanya jadul banget, Jawa banget, inilah beberapa nama yang tertera :
Kardiah, Sri Murni Sajekti (Baca Sayekti), Yasni, Njuwarini, Siti Wardijah, Sudiati, Sri Banar, Nurjanti, Sutini, Suratmi, Sri Murhandjati, Murniati, Rusmini, Rinta, Muljasih,Tugiarti, Mujilah, Sumarjati dan Nilawati.
Yang lucu lagi Kardiah mengeblat (menCopy) gambar Kangguru, Penguin serta burung-burung Australia. Siapa menyangka berpuluh-puluh tahun kemudian gambar itu betul-betul tiba bahkan ngendon di lemari perpustakaanku di Australia? Bu Kardiah sendiri mungkin sudah nenek-nenek yang sepuh sekali atau bahkan sudah ...(?) Kuperkirakan karena namanya masih SR (Sekolah Rakyat) bukan SD (Sekolah Dasar) pasti di bawah tahun 1960an, mungkin ketika Indonesia baru saja merdeka.
Buku itu berada di perpus pribadiku bersama buku-buku memori lainnya seperti Het Gedenk Boek (tahun 1940an) yang kubeli di Leiden, Belanda. Buku kenangan yang dihiasi foto-foto lama sekolah-sekolah di Jawa Barat itu bisa diambil salah satu fotonya untuk menggambarkan sekolah-sekolah di Jawa pada saat itu pada umumnya.
Kini pola-pola mawar itu kuamati, sementara seratus mawar sedang berbunga di kebun. Mawar-mawar dalam buku pola Batik itu sungguh indah dan patut diabadikan (marilah mengingat jasa Ibu Kartini, tanpa beliau buku pola itu juga tidak akan pernah ada karena wanita sebelumnya tidak diperkenankan bersekolah)
- Kula bade sowan Raden Idris
+ Nate tepang wonten pundi?
- Dereng nate, namung asring mireng asmanipun.
+ Wonten punapa?
- Menawi saged badhe kepanggih piyambak, punapa tindhakan?
+ Mboten.
- Mangga kula aturi ngaturaken sakedhap.
+ Mboten perlu, kula aturi tepangaken, kula punika Idris.
- Welhadhalah......
Untuk tertawa Anda harus mengetahui situasinya, sang tamu meng-underestimate yang menemuinya. Ia membayangkan Raden Idris penampilannya lebih dari itu. Pada ilustrasi ditampilkan tokoh Gareng dan Semar namun yang terjadi sebenarnya "Sang Raden Idris" berdiri di depan pintu rumah dengan pakaian sederhana, mungkin malahan sedang menyapu rumah sehingga sang tamu meremehkannya. Terjemahannya :
- Saya ingin berjumpa dengan Raden Idris.
+ Pernah berkenalan dimana?
- Belum pernah, hanya sering mendengar namanya saja.
+ Ada apa?
- Kalau boleh saya ingin berjumpa dengan orangnya sendiri, apakah beliau sedang pergi?
+ Tidak.
- Tolong disampaikan bahwa saya ingin bertemu.
+ Tidak perlu, silakan berkenalan, saya inilah Idris.
- Aduh! (Celakalah aku!).
Terambil dari "Campur Bawur " (1949)
| |