theresa's posts with tag: kolektormania
 Inilah KACIP PINANG koleksiku, salah satu benda yang "kubeli" dari tokoku sendiri saat memiliki toko di Australian Museum. Kacip berbentuk kuda dari Bali bersalut perak ini kukoleksi pada tahun 1993 dengan harga $400. Pemiliknya seorang Australia yang memiliki sebuah toko antik di Paddington dan beberapa barangnya dikonsinyasi di tokoku tetapi yang satu ini akhirnya kukoleksi. Bila Anda ingin melihat koleksi KACIP PINANG yang lengkap bisa membuka foto-foto koleksi PERPUSTAKAAN NEGARA MALAYSIA http://www.pnm.my/sirihpinang/sp-kacip.htm Koleksi seorang bernama Samuel Eilenberg dari London sungguh sangat mempesona terdapat dalam situs web ini. Aku cukup punya satu saja yang mengingatkanku pada nenekku yang dulu makan sirih (menginang). Beliau tidak punya KACIP seindah itu, cukup sebuah gunting tua saja! Kres-kres! Dan sendok untuk kapur sirihnya adalah sebuah paku besar yang dipipihkan sehingga berkilat! Kacip Pinang berbentuk Kuda itu di Bali disebut CAKET. CATATAN: Koleksi segala sesuatu mengenai SIRIH di Perpustakaan Negara Malaysia ini sungguh lengkap. Kita justru harus belajar menghargai kebudayaan sendiri dari negara jiran ini. Silakan buka tentang KACIP. Bahkan pantun tentang sirihpun disimpan disini. Tambahan : "Kacip,kacip,kacip..."Suaranya ketika benda itu kugerakkan dengan arah memotong. "Kacip,kacip,kacip!" Kubayangkan tangan seorang Raja Bali menggerakkan gagangnya memotong pinang. Bentuk kepala kudanya sungguh anggun, surainya tergerai lepas, ukiran pada tubuh kuda itu menggoreskan kejayaan masa lampau Indonesiaku tercinta. Ketika diamati ada lapisan perak dan emas menyaputi tubuhnya, ..Indah tak terkatakan!" Bagaimana bisa milik seorang Raja jatuh ke tanganku? (TJ) --- Komentar Thukul :"Ndeso!" (**Senyum-senyum sendiri membayangkan).
Si Beertje asli hilang jadinya timbul ide menjadi kolektor Beertje, dicari latar belakang ceritanya dan sudah siap untuk dibukukan hanya tinggal penataan ulang "Toys of Migrants in Australia" (silakan buka versi ringkasannya di http://theresajackson.blogspot.com/). Gara-gara menulis Blog dengan menggunakan Blogspot maka menemukan MULTIPLY dan para teman-teman sekalian yang berakibat proyek yang pertama itu terlibas 600 postingan. Senangnya berhaha-hihi dan berkomunikasi dengan para sobat di seluruh dunia, di Abu Dhabi, Jerman, Belanda, Amerika, Kanada, Jepang, Indonesia. Sungguh-sungguh suatu penemuan yang mempesona! Proyek pertama jadi ditunda setahun, hehehehe! Dan bukankah kalau "terlalu" merasa kehilangan si "Beertje" kini ada 2 Beertje hidup yaitu Bubu dan Cupik!? Kesimpulan: Gara-gara kehilangan "Beertje" mempunyai koleksi Beertje terus punya Blogspot terus jadi kecantol MULTIPLY dan kenal Anda sekalian! Semua gara-gara si Beertje!!!
|  | Sewaktu aku berusia 5 tahun aku diberi hadiah oleh seorang bibiku sebuah boneka beruang miliknya dulu. Kebetulan ultah kami sama, ia seorang mantan hakim agung. Sayang si Beertje itu hilang. Kemungkinan ia masih berada di dalam gudang di Rumah Ngabean, silakan buka http://rumah-ngabean.blogspot.com/
Kehilangan si Beertje memang berakibat aku mempunyai koleksi beertje-beertje yang lain namun tak satupun bisa menggantikan si Beertje asli. Seorang online-buddyku bernama Vania beruntung masih memiliki boneka beruangnya, kisahnya menarik. Boneka beruangnya bernama "Chayenne Shashin", Anda bisa membuka http://vaniahuebsch.multiply.com/
Itulah coretanku tentang si Beertje! Semoga pada suatu hari diketemukan! Silakan buka juga http://theresajackson.blogspot.com/ |
|  | Ini percobaan Scrapbook tanpa menggunakan program Photo frame show yang harus membayar. Hasilnya, pigura-piguranya polos. Program percobaan PFS akan habis 12 hari lagi dan harganya $25 US atau hampir 300 Ribu Rupiah. Kemungkinan akan beli juga karena piguranya cukup bervariasi.
Tampak pada gambar adalah koleksi Teddy Bearku gara-gara kehilangan Teddy Bear yang asli (milikku sewaktu kecil). Teddy Bear paling kusukai berada di pojok kiri atas buatan Inggris tahun 1930an.
Foto pojok kanan bawah adalah foto seorang dokter boneka langgananku, profesinya memperbaiki boneka dan Teddy Bears. Teddy Bear yang digendongnya itu buatan Australia, milikku (tahun 1940an). Kalau ditanya Teddy Bear mana paling disukai? Jawabannya Teddy Bear hidup Bubu dan Cupik tapi lihat tampang Bubu ketika dipotret, ia ngambeg disamakan dengan Teddy Bear! Hahahaha!!! |
|  | Sewaktu keponakanku Alvin berumur 3 tahun, hobinya mengumpulkan batu, batu biasa. Kalau diberi oleh-oleh batu, ia senang sekali.
"Nurun" mungkin, karena aku juga suka mengumpulkan batu biasa yang aneh bentuknya. Tidak banyak, hanya beberapa tapi bentuknya unik. Penemuan terakhir paling unik adalah batu berbentu munthu (ulekan) yang bisa dipakai untuk ngulek beneran. Batu karang dari suatu pantai di Victoria.
Aku juga punya batu kayak sandwich (bagus untuk nggepuk bawang), batu leper, batu lonjong kayak telur (diketemukan di London). Batu-batu itu diletakkan dalam kotak bersama pernak-pernik lain, ada yang kugambari dan ada yang diletakkan di dapur.
Menurutku batu biasa itu indah karena terbentuk dari lava yang mengeras, prosesnya jutaan tahun. Sewaktu di Singapura aku sempat kaget, di Orchard Road kutemukan setumpukan batu yang sama bentuknya karena dicetak, terbuat dari semen (S'pore tak memiliki gunung berapi).
Batu biasa yang kukoleksi tidak banyak tapi berharga untukku! |
Gunting ibuku dulu CAP MATA buatan Sollingen, Jerman. Tapi hilang entah kemana? Oleh adikku laki-laki (anak ketiga - anaknya 1 perempuan dan 3 laki-laki) ia dibelikan gunting merk Soft Canary made in Japan (sewaktu ia pergi ke Eropa). Ibuku sangat menyukai gunting itu, dieman-eman sampai tak pernah dipakai! Bahkan sampai kepergiannya, gunting itu masih berada dalam kotaknya tak pernah dipakai! Beberapa tahun lalu aku menemukan sebuah gunting buatan Sollingen Cap Mata dibuang oleh pemiliknya yaitu walikota North Sydney (kebetulan aku tetangganya). Rupa-rupanya itu gunting milik ibunya. Nah, kini aku memiliki koleksi cukup banyak gunting. Kegunaannya bermacam-macam, ada yang merk Mundial buatan Brazil itu gunting dapur. Ada gunting buatan Inggris (Sheffield) yang kalau untuk menggunting pinggiran kertas tampilannya seperti pinggiran kertas koran. Ada berbagai gunting semacam gunting zigzag tapi tampilannya macam-macam. Yang paling top adalah yang terbaru gunting buatan Italia merk Preemax "Ever Sharp". Untuk menghindari "Eman-eman sampai gak pernah terpakai" semua gunting digantungkan pada gantungan khusus dan semua dipakai. Setiap kali memakai si Soft Canary dalam hati aku bilang:"Mam, guntingnya dipakai...dan akan selalu dipakai!" Kres-kres-kres!!!!! Hayo, ada tidak yang punya gunting belum pernah dipakai saking eman-emannya?
|  | Dulu selama bertahun-tahun aku sering ke Belanda bersama Mbak Ratri pada saat PMB(Pasar Malam Besar Tong-Tong) dan kami memiliki sebuah toko disana bernama TOKO INDOOZ (Satu-satunya peserta Indonesia dari Australia)menjual berbagai kerajinan tangan Indonesia serta karyaku sendiri berupa kartu gambar garis serta kalung dan gelang karya Mbak Ratri. Cukup laris lho tokonya, uangnya bisa untuk "jalan-jalan" dan selama bertahun-tahun itu kami menjalin banyak persahabatan serta memiliki "Koempoelan".
Kalau melihat boneka sapi kami teringat boneka-boneka sapi yang kami jual dulu. Orang Belanda selalu berkomentar:"Ah, die lieve koetjes! Zo schattig!" (Ah, para sapi yang mungil, alangkah menggemaskannya!).
Ini dua boneka sapi koleksiku yang diberi nama :"Koetje Serius" dan "Koetje Centil", semua diletakkan di rak lemari buku untuk menandai letak buku-buku. "Dimanakah buku-buku karangan NH Dini?" "Oh, itu terletak di belakang Koetje Centil" "Dimanakah buku-buku komik?" "Aha, itu terletak di belakang Koetje Serius biar dia gak terlalu serius!"
Henk, Marie serta Nadine akan berkunjung dan menginap di rumah nomor 57 pada bulan December ini , mereka adalah teman "Koempoelan" kami. Bulan April 2008 rencananya kami mau ke Belanda lagi untuk menonton PMB Tong-Tong serta jalan-jalan dan kopdar dengan teman-teman MP di Belanda! Asyiiiik kan? |
Nenekku memiliki Nenek (*Hmm Neneknya Nenekku - Kukukokikakekkukokkakukaku!* ) dan dari neneknya itu ia mendapat warisan 2 buah piring bergambar ikan koi biru (lihat foto nomor satu atas paling kiri). IKan koi biru di atas piring NKuadrat itu (Neneknya Nenekku) menurutku sangat indah coretannya dan di sebalik piring ditanda-tangani seniman yang menggoreskannya.
Bandingkan dengan piring semacam yang bisa diperoleh hari ini, lukisan ikan koinya kurang bagus dan dibalik piring dicap Made In China, kemungkinan besar, lukisan itu sudah sablonan.
Sebaliknya bila diperhatikan lukisan Ikan Koi biru pada piring email bin enamelku yang jadul, lukisannya boleh juga! Lumayan mendetil! Kedua piring NKuadrat ikut kuajak bermigrasi ke Australia (*Hayo ada gak yang masih punya warisan NKuadrat?* Bangga mode-on!).
Ikan Koi adalah pertanda keberuntungan di China. Menurutku, mengapa orang senang menaruh lauk di atas piring bergambar ikan koi? Karena paling tidak, apa pun yang ditaruh di atasnya sudah ada "Ikannya" yang nangkring, menimbulkan selera makan!
Catatan : Tehnik lukisan di atas piring itu disebut "wash" artinya kuas langsung dicoretkan pada waktu menggambar kemudian warna biru diterakan pada ikan. Tinta yang "mbleber" kesana-kemari tapi teratur dan indah itu disebut "wash". Tak ada gambar kedua yang bisa sama, setiap goresan kuas berbicara dan memiliki keindahan tersendiri seperti puisi!
Foto ikan goreng kuambil di sebuah warung makan ikan ketika berkunjung ke Pulau Bangka.
 Pagi ini ketika mau berbelanja, melihat meja-meja sedang dipasang. Nah, ini dia "Ngembrek Show" alias para nenek berjualan Bric-a-Brac" , kuganti istilahnya jadi Ngembrek, menjual barang-barang daur ulang yang hasilnya disumbangkan pada badan sosial. Hari ini disumbangkan pada Dunrossil Challenge Foundation untuk para penderita cacat mental.
Para nenek bilang :"We are still setting up!" Okay, kita belanja dulu di supermarket Jewels dan membeli keperluan untuk kucing yaitu 2 kantong besar pasir. Petugas yang melayani adalah seorang gadis yang kami juluki GK (Gadis Kasar..*Kasihan*). Bayangkan, dua karung pasir dicampakkan sedemikian hebatnya hingga robek dan diisolasi ujungnya. Setumpuk tisu gulung juga dicampakkan hingga robek kantongnya (*Sabar mode-on* ). GK ini selalu marah-marah dan kalau kerja kasar sekali. Dulu aku sering marah padanya sampai pada suatu hari aku menyaksikan suatu kejadian....
Kilas Balik (*Sreeeetttt*) ada seorang wanita paruh baya yang selalu berkata pada kami , setelah melihat belanjaan :"So much for the cats and so little for you!" Iya, habis kalau belanja kalengan kucing segitu banyak dan untuk kami sendiri belanjaannya minim. Nah, sebut saja si wanita ini dengan Mrs. So-much-for-the-cats-so-little-for-you (*disingkat Mrs.S*).
Suatu hari GK melayani seorang pria tua dan pada saat itu tiba-tiba ia ngambeg total, tidak mau melayani sama sekali. Mrs.S yang melihat langsung mendekat, katanya pada si pria :"OK, I'll take over. Come on girl, don't be too hard on your old man!" Ternyata pria tua itu adalah ayah si GK. Rupanya sepanjang hidupnya GK marah pada ayahnya yang kelihatannya seorang pemabuk berat. Bisa dibayangkan, ia sudah kehilangan respek dari anaknya. Sejak melihat kejadian itu biar si GK brak-bruk, aku diam saja (*maklum* Yo wis ben mesake, ngelus dada).
Keluar dari Jewels, beli juga karet gelang alias rubberbands 78 sen. Kami menengok meja para nenek dan membeli satu boneka kucing sedang menjahit 50 sen dan piring kecil kucing untuk snacknya Bubu-Cupik juga 50 sen! Murah meriah!
Sehabis ke Jewels kami berbelanja sayur dan buah-buahan di tempat si Freddie dan di balik counter adalah seniman kita si Jeannie (silakan buka http://theresajackson.multiply.com/journal/item/57). Ia sedang membuat karya tulisan, initial nama pacarnya. Sambil meladeni pembeli, Jeannie selalu menggambar. Bila Anda simpati padanya tolong berikan masukan di sini atau di postingan yang lalu itu, aku berjanji untuk mengeprint postingan ini untuk diperlihatkan padanya. Give her your support, please! Catatan : Mangkuk sudah dipakai Bubu, reaksinya:"Kok,kecil amat sih!" (Hahaha).
 Setelah melihat postingan Pepi tentang Toeng Mart, aku "dudah-dudah" (mengudal-udal isi lemari) dan menemukan "harta karun" tersebar di mana-mana. Silakan baca postingannya Peppy's Collection di http://evimeinar.multiply.com/journal/photos/album/93
Warnanya ngejreng genjreng dan berwarna-warni, namun warna kesukaanku adalah Kuning Kunir. Bagaimana cara mengumpulkan benda-benda asli jadul ini di Australia? Hunting! Berburu di toko-toko alat-alat Camping di Australia (pesanan khusus untuk Australia dibuat di China lebih bagus kualitasnya, tebal dan tidak mudah penyok). Tetapi aku juga berburu di toko-toko antik dan..."The Vinnies" alias St.Vincent de Paul atau di pasar-pasar barang antik.
Harganya bervariasi, kalau lagi untung bisa 50 sen (kemarin dapat piring blik jadul 2 @ 50 sen = Rp.3000,-) tapi kadang berharga antara $2 atau $4. Barangnya biasanya masih baru hampir dikatakan jarang dipakai kecuali Basi biru serba gunaku yang ada cecelnya dikit dan Cerek Kuning muda itu yang juga ada cecelnya. Bahkan ada piring bergambar ikan yang sangat indah persis seperti piring beling yang ada.
Ketika kami kecil, kami makan dengan piring seperti ini. Aku ingat, setiap jam 8 malam teng aku dan ketiga adik laki-lakiku harus tidur (karena esoknya harus ke sekolah) tapi malam-malam kami sering keluar diam-diam ke dapur. Karena tidak ingin "grombyangan" maka kami mengambil telur bebek dalam keranjang kawat dan merebusnya dalam Ceret yang selalu berada di atas kompor. Istilahnya "DoDogRet" (Nggodog Endog nang njero Ceret = merebus telur dalam cerek). Telur rebus itu dikupas dan dimakan di atas piring blik kami sambil berkemah-kemahan di bawah meja dapur! Asyik!
Makan menggunakan peralatan terbuat dari email ini (*bukan e-mail@ ya!*) mengingatkan pada masa-masa kecil dahulu! Sungguh sedap!
Terimakasih pada Peppy, kalau ke Surabaya kelak pasti toko itu akan kukunjungi!
Catatan : Istilah tehnik pembuatannya menurut kamus Dutch-English, English-Dutch (Hippocrene Concise Dictionary) disebut enamel atau email (brandschilderwerk - lukisan tehnik bakar seperti pada piring bergambar ikan itu). *Thanks to Elkaje!
Di belakang gedung apartemenku di kota terletak Gedung Pusat Pelelangan (Auctioneer) Cromwells dengan pelelangan yang diadakan dari waktu ke waktu. Menjelang kepindahanku ke suburb ini aku melihat sebuah kotak pos merah antik yang dipajang di etalase Cromwells. Singkat cerita aku ikut lelang dan menang. Kotak Pos merah dari metal berasal dari Brisbane itu dikirim oleh Cromwells ke rumah nomor 17. Diperoleh dalam keadaan tanpa kunci.
Seorang Dokter Kunci dipanggil dan pintu kotak pos dicopot barulah kuncinya bisa dibuat! Ternyata separuh kotak pos itu berisi "sampah kering" (kertas bungkus coklat, kembang gula, karcis lotto dll sbgnya. Ada juga sebuah koin 50sen bertahun 1980. Memang kotak pos itu beroperasi di Queensland sampai pada tahun 1980an. Semua brosur dan "sampah" bertahun sekitar tahun 80an itu.
Setelah dipasangi kunci dan dibersihkan dari sampah maka kotak pos metal itu dipersiapkan untuk dipasang di luar, di halaman dekat pintu masuk! Aneh! Tukang yang disuruh memasang menolak, Scotty berkata bahwa sangat berbahaya memasang kotak pos itu disana. Pertama orang akan menyangkanya kotak pos surat beneran dan kedua mungkin ada yang iseng memasukkan sampah (*memang terbukti sudah*) atau "mercon"!
Jadi kini kotak pos metal merah itu kuletakkan di sudut dekat pintu masuk. Bisa pas berada di sana, dan bila tergesa-gesa ingin pergi dan menyimpan sesuatu agar tidak hilang, tinggal "plung" masuk ke kotak pos pribadi tersebut! Di atasnya terdapat dua klakson terompet yang bunyinya cukup keras. Bila memanggil seseorang di halaman tinggal memijit klakson terompet itu "Toooot !!Tooot!" Pasti orangnya akan menengok pada kita "Eh, ini payungnya tertinggal!" (Posisi rumah kita seperti rumah panggung dan jarak dari pintu pagar ke rumah cukup jauh).
Ada juga "anak" Kotak Pos Merah berasal dari Inggris, dibeli melalui e-bay. Lucu dan menawan! Sekalian tadi ketika pergi berkunjung ke Toko Kam Eng ada seorang "Postie" lagi "rehat". Aku pun minta izin untuk memotretnya sehingga semua bisa melihat seorang Postie dalam tugas!
Di bawah adalah foto Kotak Pos di kota Yogyakarta yang kufoto pada bulan November 2005 saat jajan kepiting di Warung Yogya Sae dekat Setasiun Tugu. Kotak Pos itu seperti tidak pernah dipakai, terletak di sebelah warung. Coba lihat perpaduan warnanya! Kepitingnya oranye, Kotak Posnya juga oranye dan pelanggan restorannya juga berkaos oranye!
Oh,nasib! Kotak Pos Merahku dan Kotak Pos Oranye di Yogya itu keduanya berfungsi sebagai "pajangan"! Masih lumayan Kotak Pos Merahku bisa dipakai sebagai pengganti "Lemari Besi"

Bagi yang punya "bemper" besar memang dingklik kecil agak sulit "menampung" tubuh kita. Sebenarnya kalau sedang mencari buku di Perpus pribadiku, aku selalu duduk di "Kursi-Dingklik" ini, jadi apa ya "KuDing" gitu!
KuDing ini buatan Australia "Hand made", mungkin sekitar tahun 1950an. Praktis, kuat dan "lebar". KuDingnya juga punya "kuping" yang bisa dicangking kayak panci! Karena kerangkanya dari besi jadi super kuat, lagipula ada sandarannya. Mungkin bagi yang tidak memiliki dingklik bisa pergi ke tukang las dan memesan KuDing.
Coba bagaimana kalau begini :"Duduk di KuDing, sambil memangku KuCing dan makan PuDing dan bernyanyi" Ini lagunya (Lagu tradisional Bengkulu) : "DingDing ka DingDing ambin umbut!" (Siapa tahu lagu itu? Aku tahu lagu itu karena seorang sobatku berasal dari sana dan ia mulai menyanyikan lagu itu kembali justru ketika ia tinggal di Sydney, kini ia berada di Kuala Lumpur).
Silakan baca juga postingan tentang Dingklik di http://theresajackson.multiply.com/journal/item/156
Lanjutan postingan tentang koleksi dingklikku, aku memiliki 4 dingklik yang ditampilkan di sini. Dingklik dari kota Yogyakarta dari kayu jati kubeli ketika sedang dipakai sang perajin mengukir. Duduk di dingklik itu harapannya, kreativitas si Mas Perajin menular. Trus jadi "kreatif" bisa "mengukir fantasi dan imajinasi" yang positif.
Dingklik kedua berasal dari Eropa Timur, pada tempat dudukannya penuh digambari bunga-bunga berseni. Sebelum duduk mengamati karya itu dulu (*karena harus dilap, soalnya berdebu*).
Nah, dingklik ketiga dari Denmark. Orang Denmark terkenal pandai bertukang-kayu atau pun mencipta desain yang sederhana namun kuat dan berseni tinggi. Perhatikan struktur desainnya! (*Difoto di depan cermin supaya terpantul bayangannya*).
Yang terakhir adalah dingklik bersejarah karena mungkin dibuat sekitar tahun 1800an. Jenis kayunya berwarna gelap kemungkinan walnut. Konstruksinya juga menarik kemungkinan dibuat untuk meletakkan kaki ketika duduk membaca. Dingklik nomor 2 dan 3 kemungkinan dibuat untuk duduk memerah susu sapi! OK! Demikianlah sekedar informasi tentang perdingklikan! 
 Kalau pulang ke Yogyakarta (bingung nih istilahnya, ke Yogya "pulang", ke Sydney juga "pulang") aku selalu menyempatkan diri berburu "gembok kuno". Aneh kan? Memang aneh! Karena gembok-gembok itu sudah langka. Pada bulan November lalu ketika mudik, aku mendapatkan sebuah gembok berantai yang dulunya dipergunakan untuk merantai pintu pagar besi. Beeerat buanget! Sayang tidak ada kuncinya!
Di Indonesia, apa pun bisa dilakukan! Aku pergi ke Dokter Kunci (tukang ahli bikin kunci) dan 3 hari kemudian kunci gembok aneh itu "jadi"! Dokter Kuncinya juga geleng-geleng kepala saking anehnya! Oleh sang Dokter Kunci, kunci dibuat dari lempengan besi dan dikikir hingga bentuknya seperti tertera pada gambar (kok seperti kepala Semar tapi rambutnya berjambul seperti Elvies Presley!) - Pekerjaan tangan tingkat tinggi!
Setiba di Australia (beratnya sekilo sendiri), kukalungkan ke pintu pagar. Tukang kunci Australia , eh, Dokter Kunci Australia tidak ada yang sanggup membuat duplikatnya! Ampuh tenan! (Sungguh canggih!). Dokter Kunci Jawa tak terkalahkan! Orang mau buka pagarku cukup pusing juga! Kuncinya kok kayak gitu sih! Biasanya di Sydney kunci diduplikat pakai mesin, nah yang ini tak ada satu mesinpun yang sanggup!
Catatan : Kami mendapat surat dari Jawatan Listrik dan Gas, kalau pagar dikunci dan petugas tidak bisa masuk untuk memeriksa meteran, silakan berlangganan ke Jawatan lain (lho, Jawatan yang mana? payah! Ngambeg nih ye?). Jadi diputuskan pagar tidak digembok lagi karena kami baru sadar bahwa para tetangga pagarnya ternyata juga tidak ada yang digembok. Ya sudah, gemboknya pensiun, sekarang untuk merantai tangga yang sebenarnya tidak perlu dirantai! *sigh*, daripada menganggur!
Mantan pemilik rumah ini meninggalkan tangga seperti tertera pada foto di atas untuk memangkas tanaman rambat berbunga putih di kebun kami. Kadang terjadi badai yang kencang di Sydney jadi tangga itu dirantai agar tidak "kabur" bukan kabur oleh maling tapi oleh angin!
Setiap kali naik kelas (waktu masih duduk di Sekolah Dasar (dulu sebutannya SR = Sekolah Rakyat), kami berempat (aku anak sulung wanita dengan 3 adik pria) selalu mendapat hadiah. Hadiahnya selalu buku dan boleh memilih sendiri. Kami naik mobil kuno ayahku (memang semuanya penggemar barang kuno) merk Hudson Super Six buatan tahun 1925 (ceritanya menyusul) yang klaksonnya berbunyi:"Hauuuuuuuuuuuhauuuhauuuaaaaakkkk!!!" Satu kilometer orang sudah dengar. Kami menuju ke jalan Malioboro ke Toko Buku Hien Hoo Sing. Toko buku itu langganan ayahku membeli buku-buku bacaan antara lain juga buku-buku Cersil (Cerita Silat) yang bisa sampai jilid ke 50.
Ayahku bersahabat dengan pemilik Toko Buku Hien Hoo Sing ini. Kebiasaan membeli buku diteruskan sampai aku kuliah di IKIP Sanata Dharma (beli buku Komik Tin Tin asli dalam bahasa Inggris, semua uang "gaji" habis buat beli buku) juga termasuk membeli buku kesusasteraan (hobiku baca koleksi cerpen).
Ayahku meninggal muda (usia 50 tahun) dan pemilik Toko Buku itu juga meninggal muda. Usaha dilanjutkan isterinya. Ketika anaknya yang sulung membuka percetakan, aku sudah memiliki Kursus Bahasa Inggris bernama Britannia Language Centre dan buku-buku pegangan dicetakkan di Toko Buku yang namanya berganti menjadi "Sari Ilmu". Kuliahku dari IKIP Sanata Dharma kuhentikan hingga BA saja dan aku kuliah lagi menuruti hatiku di STSRI "ASRI" jurusan Ilustrasi dan Grafis.
Waktu itu aku punya pacar dan ia geleng2 kepala :"Kamu itu bagaimana sih? Semua-semua serba setengah-setengah! Bahasa Inggris belum selesai dah ambil kuliah di ASRI. Kalau misalnya pendekar silat, kau tuh bisa pedang, tombak, panah tapi semua serba tidak kau kuasai, begitu ada musuh yang lihai dalam satu bidang misalnya ahli pedang! Kau bakalan keok! Kalah total!" Jadi aku hanya 3 tahun di ASRI terus kembali ke IKIP Sanata Dharma jurusan Bahasa dan Sastra Inggris untuk merampungkan gelar Sarjana. Nah, pada waktu itulah aku sekelas dengan pemilik Toko Buku Sari Ilmu yang sekarang yaitu Yohanes. Eh, malahan kini ia jadi online-buddyku! (Baca postingan terakhirnya : "Koleksi Alkitab") . Toko Buku Hien Hoo Sing dulu juga penerbit malahan sering menerbitkan buku-buku Hanacaraka dan buku-buku berbahasa Jawa. Ayah Yohanes itu juga unik, ia pandai sekali naik sepeda dengan pelbagai gaya seperti akrobat, lepas setang, roda satu, jungkir-balik dll sbgnya.
Di Perpusku pribadi di Yogyakarta, ratusan bukuku berasal dari Toko Buku Sari Ilmu! Sampai hari ini aku masih menjadi pengumpul buku. Tetapi gara-gara seorang murid Bahasa Indonesiaku yang punya kegemaran buku-buku kuno dalam bidang Rumah Joglo, aku membantu mencarikannya sampai ke Leiden di KITLV. Perpus itu lengkap sekali, segala jenis buku kuno mau pun modern tentang Indonesia ada di sana. Aku malah jadi ketularan koleksi buku antik tentang Indonesia (dalam bahasa Belanda, Melayu, Inggris).
Dua buku tertera disini adalah contohnya, yang pertama buku berjudul "Ayo Pada Nembang" karangan R.C.Hardjasoebrata terbitan Noordhoff - Kolff NV Djakarta 1955 yang berisi tembang-tembang dolanan : Kidang Talun, Gundul-gundul Pacul, Yo do dadi Wayang! dll sbgnya (Buku ini justru kuperoleh di Belanda). Buku yang lain berjudul :"Odd Folks at Home" terbitanCassell Petter & Galpin, London dan buku itu dijual beserta foto pemiliknya seorang anak perempuan bernama C.Kendall yang mendapatkan hadiah buku ini di sekolahnya pada tahun 1881 karena "Good conduct" di kelasnya. Buku ini membahas mengenai ikan-ikan dan mahluk di laut termasuk "teripang" yang ditangkap para nelayan Indonesia pada zaman itu. Ilustrasinya bagus sekali dan bukunya berpinggiran emas!
Dari koleksi buku-buku itu kita bisa melihat masa lalu serta kekayaan kebudayaan kita sehingga kita harus menyadarinya serta memeliharanya! Sayangnya, buku-buku di Indonesia mudah menguning dan diserang rayap. Bila dibandingkan dengan buku sezamannya, buku tahun 1881 itu masih seperti baru padahal sudah setua itu, iklim tempat menyimpan juga menentukan.
Catatan : Dicari! (Hehehe) buku-buku tua tentang Indonesia atau Majalah Anak-anak bernama Si Kuntjung tahun terbitan lama (antara 1950 sampai awal 1970). Juga buku-buku komik lama pewayangan, komik Si Apio, Komik Put On - Hubungi saya (Theresa Jackson).
 Wah, ketiban sampur! Harus menceritakan 6 keanehan diriku..! Hahahaha! Lucu sekali! Akan kuceritakan dan yang kejatuhan sampur berikutnya tanpa harus menyebutkan darimana sumber yang kasih sampur adalah Ine, Amerellia, Estherlita, Jaehee dan Phitree. Nah, inilah keanehan diriku :
1. Suka banget motret, tiada hari hari tanpa memotret sampai para ponakan bilang :"Apa-apa difoto, ulet bulu difoto, batu, pasir, air, daun ......semua-semua dipotret!
2. Happiness is everyday wearing a new TShirt! Itu yang kusuka. TShirt setiap hari, klo baru apalagi, sukaaa buanget! Gak pernah gak pakai TShirt. Waktu mewawancarai GKR Ratu Hemas juga pakai TShirt tapi bergambar Logo Keraton Ngayogyakartahadiningrat!
3. Kalau ndengerin ceramah, seminar, ikut kuliah, pidato ..tidak bisa konsentrasi kalau gak sambil nggambar2 bikin coretan kartun ...
4. Walau pun sudah "gede" masih suka mainan anak-anak dan boneka dan kadang mainan bareng sama anak2, payah deh!
5. Kalau tidur lampu harus mati, kalau tidak gelap gak bisa tidur.
6. Cinta pada binatang tapi takuuut pada kupu-kupu (aneh ya?) karena phobi waktu kecil lari-lari tak sengaja nginjek kupu-kupu (oh, kasihan)...
Yak,segitu aja.....lempar baton pada yang lainnya tadi!

Pintu di rumah-rumah di Australia memiliki keunikan diganjal dengan "Doorstop", biasanya bentuknya hanya segitiga macam irisan keju, tetapi pada rumah-rumah berkarakter, doorstopnya dari besi. Penahan pintu dari besi cor itu tidaklah murah harganya namun menambah keunikan rumah dan memberikan karakter sesuai dengan zamannya. Aku memberikan penahan pintu pada pintu-pintuku, hanya satu yang benar-benar penahan pintu besi dari zaman Victoria, itu yang berbentuk singa berwarna emas. Kubeli doorstop itu di sebuah toko antik di kota Berry, kira-kira 300 kilometer dari Sydney. Penahan pintu lain adalah kreativitasku saja, sebuah setrika kuno yang dulu sering dipakai di Jawa (setrika ini dibeli di sebuah toko di daerah dekat Blue Mountains, sepasang suami-isteri Belanda mempunyai toko antik mendatangkan benda-benda kuno dari Belanda, salah satunya ya setrika itu, memang cetakan ayam jagonya lebih jelas - jadi yang di Jawa itu dulu mengopi dari ini), terus ada juga "Pasah Kayu" yang berukuran besar. Yang ini paling praktis dipakainya karena panjang dan ada ungkit pegangannya (seperti biasa bagian bawahnya diberi stiker agar pisaunya aman). Yang terakhir adalah "Kereta Api Besi dari Solo", yah, dibelinya di Pasar Triwindu. Beraaatnya minta ampun! Kereta api itu hasil bubutan seorang siswa kerja praktek bubut di Solo, nama apprentice tukang bubut itu adalah Soemarsono, tercetak di bagian bawah kereta api itu. Aku memang selalu tertarik pada kereta api, terutama lokomotif tua yang masih berpraktek di Jawa.   
 Semuanya memang serba sederhana. Lantainya cuilan batu yang dipoles dan isinya hanya sebuah bathtub tua yang merangkap sebagai "cubicle" untuk mandi setelah tirai ditutup. Kamar mandi ini lantainya selalu kering karena kalau mandi yang dipergunakan hanya bak mandi itu saja. Australia sedang mencanangkan hemat air jadi bathtub yang boros air jarang dipakai (dipenuhi air untuk mandi). Mandinya ya seperti mandi dengan dus saja. Karena penghematan air di Sydney, bagian suburb kami hanya boleh menyirami tanaman pada hari Rabu dan Minggu, pagi sebelum jam 9 atau sesudah jam 6. Bila tidak ditepati dendanya 'on the spot' $220! Hari-hari ini tidak usah menyiram karena akan hujan sampai hari Rabu.
Hiasan yang ada di kamar kecil ini sekaligus berfungsi misalnya "Kantong Ikan" dari Jepang yang biasanya dipasang di luar rumah setiap tanggal 5 Mei itu dipakai sebagai "tempat menyimpan tisu gulung"(bisa masuk 12 buah) lagipula aman debu. Di Bali "Kantong Ikan" seperti ini model Bali (Ikan Mas) dijual di Bandara Ngurah Rai Rp.50 Ribu. Terdapat juga dua lemari kecil menempel rata pada dinding dengan daun jendela berkisi-kisi. Pada kisi-kisi itu dipasang beberapa mainan anak-anak dan juga untuk "mengingatkan" tentang kesehatan gigi dipasang iklan dokter Gigi kuno (tahun 1940an) di Kogarah, Sydney yang dipigura (Drg.Kaldwell). Keranjang cucian dari rotan untuk menyimpan pakaian kotor diletakkan di bawah bak cuci tangan dan bathtub juga dihiasi beberapa kapal serta sebuah keranjang rotan untuk meletakkan buku bacaan. Buku yang tergeletak di sana berganti-ganti, sifat bacaannya "ringkas-menarik-informatif" bukan yang untuk dibaca berlama-lama. Ada juga boneka untuk menaruh tisu gulung bersifat darurat, bila tergesa-gesa tinggal menarik dan meletakkannya pada tempat tisu gulung kemudian diganti dari dalam "Kantong Ikan", oleh karena itu dalam percakapan sering terdengar :"Wah, Ikannya kosong, harus diisi!" Dan ketika tamu bertanya :"Mana kamar kecilnya?" Jawabnya:"Itu tuh, yang pintunya ada stiker Jelek-jelek Tapi Bayar Pajak!" (Silakan di-klik pada foto, ukuran lebih besar untuk mengintip) - Di Australia, pajaknya sepertiga dari pendapatan! Alamak! 
 Aku mempunyai hobi mengumpulkan benda-benda unik termasuk "kitchen gadgets". Peralatan itu daripada 'ngendon' dalam laci atau lemari dan akhirnya sulit dicari maka kusebar peletakannya di dapur. Semuanya jadi mudah dijangkau ketika memasak, dipilah-pilah dari segi keseringannya dipakai. Ada juga yang hanya 'hiasan' namun bila dibutuhkan 'siap' tersedia. Yang sering dibutuhkan seperti kalo (saringan anyaman bambu), cething (di Australia disebut 'Coriander" untuk menyaring cucian sayur atau 'spaghetti'), sendok-sendok besar, berbagai wajan (ada wajan janggel, wajan baja hitam) semua digantungkan di dekat kompor gas. Caranya mudah; sebuah pintu yang tak terpakai lagi disandarkan pada dinding terus diberi gantungan dan paku-paku untuk mencantelkan peralatan, bahkan kenop pintu bisa untuk cantelan wajan. Peralatan yang kurang begitu sering dipakai ada yang dipasang pada handle pintu lemari dapur sekalian untuk pegangan, misalnya; alat pembuka botol anggur (abis kami jarang minum-minum sih), sendok eskrim (abisnya diet...hehehe), dan alat pemecah kacang (Nut Cracker) semua dipasang pada kenop pintu lemari dapur.
Peralatan unik lain misalnya solet buatan Australia yang kuno dan sudah tidak ada lagi di pasaran. Solet ini 2 macam, bertangkai pendek dan panjang, sangat 'luwes' untuk menggoreng telur ceplok (untuk membolak-balik) karena lentur. Ada juga batok kelapa yang digunakan untuk mengambil nasi dari cething seperti yang dilakukan para simbok di Pasar Beringharjo. Ada juga saringan bambu anyaman dari Jepang, itu praktis untuk menangguk telur rebus dari air mendidih.
Beberapa alat dapur cetakan puding misalnya berbentuk ikan Mas dan kelinci hanya digantungkan sebagai hiasan. Walau pun dapurnya berbentuk kuno dan sederhana tetapi kami tidak malu memamerkannya pada para tamu karena alat-alat dapur unik yang menjadi hiasannya. Biasanya mereka berkomentar :"Aduh, lucunya...ini beli di mana atau ini dapat darimana? Aku juga mau deh.." Nah, ada rahasianya, nanti pada suatu hari dalam salah satu postingan....
Oh, masih ada yang tertinggal. Perhatikan jam kuno pada gambar! Sebenarnya ini hasil kreativitas menggabungkan ukiran kayu yang berasal dari sebuah gereja dan jam plastik. Ukiran itu semula terpasang di sebuah gereja mungkin untuk tempat lilin (dari abad ke 17 berasal dari Italia), tergeletak di sebuah toko antik tak tahu untuk apa bagi orang lain. Sebuah jam plastik bulat dipasang disebaliknya dan ukiran didirikan, jadilah sebuah jam antik kuno! 
 Dandang tembaga seperti ini sudah langka. Dahulu nenekku memakai dandang seperti dalam foto ini ketika menanak nasi, tetapi prosesnya terlalu rumit. Aku menemukan dandang kuno ini di Ulladulla sebuah kota kecil kira-kira 400 kilometer dari Sydney. Di sana terdapat sebuah toko furnitur antik dari Indonesia milik seorang Aussie bernama Monty. Ketika membeli sebuah meja jati tebal dapat bonus dandang ini yang nilainya sekitar $100. Monty memang pasang iklan juga di Majalah Gamelan.
Dandang ini tidak lagi dipakai sebagai alat untuk menanak nasi tetapi bila mengundang tamu untuk makan di rumah, dandang diletakkan di atas meja dan di atas saringannya bisa diletakkan wadah untuk menaruh nasi hangat mengepul. Para tamu biasanya akan sangat terkesan. Entong yang dipakai juga dari Indonesia, terbuat dari tanduk kerbau. Setelah tidak dipakai, dandang diletakkan di sudut dapur sebagai hiasan. 
| |