Pada tahun 2004, aku mengunjungi Kuala Lumpur atas undangan sahabatku yang menjabat sebagai Atase Perdagangan RI, ini bukan KKN karena beliau dulu memang pernah study di Sydney dan akrab dengan kami. (pernah menjabat sebagai bagian pemasaran Gamelan). Aku menjadi tamu di rumah kediamannya selama seminggu. Catatan perjalanan ke Malaysia itu diterbitkan di Majalah Gamelan No.41 Edisi Maret 2004.Artikel pada halaman 18 tentang 'Menyiasati Kehidupan di Malaysia' judulnya: TKI di Kuala Lumpur.
Sampai saat ini jumlah TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Malaysia masih cukup tinggi, namun lebih banyak yang ilegal daripada yang legal. Pada tahun 2002, pengelolaan hubungan bilateral antara Indonesia dan negara-negara tetangga terdekat menghadapi beberapa ujian berat seperti masalah pemulangan TKI tanpa dokumen dari Malaysia, masalah proses hukum terhadap WNI di Filipina serta masalah-masalah yang menyangkut isu terorisme dengan Singapura dan Australia. Malaysia memang pernah membutuhkan banyak TKI dari Indonesia sehingga pernah menerbitkan "Red Documents" bagi TKI yang pada akhirnya dicabut kembali. Banyak TKI yang terdampar tak dapat pulang ke Indonesia. Pekerja resmi yang sudah habis masa kontraknya terkadang tidak kembali ke Indonesia namun tetap bekerja padahal pekerja ilegal bila tertangkap akan mendapatkan hukuman berat.
Dua orang TKI asal Indonesia berhasil ditemui oleh Gamelan, perihal statusnya tentu saja tidak dapat dipertanyakan karena bersifat rahasia. Seorang laki-lakii bernama Pak Asa'at mengaku berasal dari Sampang, Madura, menciptakan pekerjaan sendiri sebagai tukang kebun. Dengan mengayuh sepedanya yang sudah dilengkapi peralatan potong rumput, ia berhasil berkeliling dari rumah ke rumah untuk menawarkan jasanya. Mesin pemotong rumput sederhana terpasang dengan rapi terikat pada rangka sepedanya, sebuah jerigen plastik berisi bahan bakar motor itu tersandang rapi di setang. Ia mengutip biaya seratus ringgit untuk memangkas sebidang kebun yang cukup luas. "Potong pokok lain lagi upahnya!" ujarnya, memakai ungkapan bahasa Malaysia. Pokok artinya pohon. Dari merk rokok yang disedotnya, pasti penghasilannya cukup memadai. Bayangkan, rokoknya rokok impor, merk "Jisamsu" paling tidak delapan ringgit harganya.
Lain lagi halnya Bu Nawiyah yang berasal dari Jawa Timur dan ditemui Gamelan sedang bekerja sebagai penjaga "Bilik Tandas" (Toilet). Setiap orang harus membayar 30 sen sekali masuk dan 20 sen untuk tisu. Ia mengaku telah lima belas tahun bekerja di Malaysia. Ia merasa cukup bangga dengan pekerjaannya, terbukti ia mengatakan, "Saya ini sebagai pimpinan di sini." Yah, tentu saja, hanya ia seorang bertugas di bilik tandas tersebut, tak ada orang lain lagi, berarti ialah pimpinan bilik tandas itu.
Memang bekerja untuk diri sendiri lebih tidak mengandung risiko karena masalah yang ada adalah majikan kasar, bekerja ganda (rumah dan kedai), gaji tidak dibayar, pelecehan seksual, tidak dibenarkan berkomunikasi dengan pihak luar, makanan tidak layak, tidak boleh sholat, disuruh memakan makanan tidak halal serta memandikan anjing. Bila bekerja sendiri semua hal itu terhindarkan.
Catatan: Majalah Gamelan selalu menerbitkan "Kisah-kisah Imigran" yang kebanyakan mengetengahkan perjuangan orang Indonesia di Luar Negeri. Juga menulis tentang TKI dan TKW di LN, nantikan kisah-kisahnya!