Life in Australia & Life in Indonesia

theresa's posts with tag: jalan-jalan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag jalan-jalan
Blog EntryMohon Bantuan Info Tentang Hotel di BaliJan 22, '07 8:35 AM
for everyone

Foto-foto ini kuambil pada saat perayaan Galungan beberapa tahun lalu yang diadakan oleh Masyarakat Bali di Sydney (Balinese Society of New South Wales). Lucu sekali bukan anak Indo-Aus yang ikut bersama ayahnya ketika bermain Gamelan Bali?

Persoalannya pada tanggal 5 Februari 2007 aku akan mendarat di Pulau Dewata ini pada jam 5 sore padahal pesawat terakhir pada jam 1 siang jadi harus bermalam semalam di Bali dan keesokan harinya pada jam 1 berangkat ke Yogyakarta. Ada waktu sedikit untuk berjalan-jalan di Bali.

Tahun-tahun sebelumnya selalu ada saudaranya iparku yang menjemput tapi ia pindah ke Surabaya tahun lalu. Hotel yang sering kudatangi adalah Puri Pamecutan di Denpasar tapi katanya sedang direnovasi. Dari internet kuperoleh keterangan suatu agen tentang beberapa hotel, misalnya Hotel Nikki.

Adakah pengalaman teman-teman tentang Hotel di Bali ? Adakah usulan? Dan apakah memesan dengan kartu kredit cukup aman di Bali? Mohon usulan, terimakasih!


Blog EntrySekedar Tips Bila Pergi Ke SingapuraOct 19, '06 7:23 AM
for everyone

Tips ini ditulis untuk sangu pergi ke Singapura bagi online-buddyku Sutono_kairos. Aku melakukannya pada tahun 2004 yang lalu namun aku sebenarnya memang sering ke Singapura apalagi sebelum kepindahanku ke Australia. Nah, perjalanan yang kulakukan kali itu banyak LHOnya.

Sebelum berangkat ke S'Pore yang perlu diperhatikan membeli Tiket Paket Wisata , dari Yogya kini ada Tiket Yogyakarta-S'Pore PP walaupun lewat Jakarta (Bagi Sutono pasti berbeda).Tiket bisa digabung dengan hotel berbintang 4 plus makan pagi selama 3 hari yang bisa diperpanjang. Sebelum berangkat sebaiknya menukarkan uang menjadi Singapore Dollars plus jangan lupa uang kecilnya (koin).

Kegunaan koin:

Untuk naik Bus No.36 Silakan baca http://theresajackson.multiply.com/journal/item/47

Bila belum mempunyai SimCard Singapura untuk HPnya, bisa menelepon dengan telepon pink yang tersedia di pertokoan hanya 10 sen tidak dibatasi waktunya. Daripada telpon roaming mendingan 10 sen kan (hanya lokal tapi bukan interlokal!). Uang kecil juga untuk membayar WC (toilet) harus bayar tissue kalau ada yang jaga! Uang kecil juga untuk tiket MRT dan pokoknya punya uang kecil berguna banget.

LHO yang pertama : Kejutan di pesawat, waktu itu aku duduk diapit 2 orang yang "hebat", satunya adalah seorang Polisi di Ngupasan Yogya yang dulu ternyata sewaktu dikirim tugas belajar pernah bertamu di rumah kami di Sydney di Darling Harbour (ia pangling) duduk diam saja, tapi aku tidak pangling dengan kumisnya:"Lho, Bapak kan...?!" Wah, ia jadi malu tapi teringat! (*Pak Polisi dah Naik Pangkat lho kini*) terus di sebelahnya lagi......Ya, DNT alias Didik Nini Thowok yang mau bertolak ke Barcelona (Ngetop lho DNT tuh! Kalau pentas di LN pasti membawa nama harum bangsa dengan tariannya *Siapa ya yang persis DNT*?)

Enaknya ambil paketan, hotelnya bisa pilih yang di Orchard Road dan di bawah hotel biasanya ada Pusat Jajanan 24 jam, apalagi kalau dekat Lucky Plaza, CK Tang dll sbgnya. Jajanan ada terus. Dan keuntungan paketan juga hotel sudah dengan makan pagi prasmanan. Aku waktu itu pergi dengan Nenny sahabatku mantan teman kuliah di IKIP Sanata Dharma dulu.

Tips untuk berwisata, silakan mencari brosur di hotel dan bisa memesan paket wisata yang ada dan bisa dijemput di hotel tersebut. Pilihan yang dianjurkan : Naik Kapal ChengHo sambil Menikmati Singapura di Malam Hari Plus Dinner! Sekitar $70 S perorang. Lho yang di sini adalah, lho! Kapten kapal dan ABKnya orang Indonesia! Tapi naik kapal ini sangat mengesankan!

LHO yang kedua:

Tanpa perjanjian, eh ketemu 2 adik laki-lakiku di Orchard Road. Lucu banget deh! Terus Reuni.com eh kopdaran KKN. Lho yang lain lagi, dijemput adiknya iparku LHO mobilnya kok sama persis dengan mobilku di Sydney, baik merk mau pun warnanya Toyota Avencis Gold.

Tips yang lain, cobalah Hokkien Mie di Singapura, sungguh sedap! Dan bila ingin mencoba MRT pakailah sistim "Malu bertanya sesat dijalan" Waktu itu kami ke People's Park naik MRT. Selamat berjalan-jalan!


Blog EntryBelajar Bahasa Jepang Kilat di Kereta Api KilatSep 22, '06 3:04 AM
for everyone

Ceritanya kini loncat ke Jepang! Pada tahun 2003 aku berkesempatan pergi ke Jepang bersama Sanae-san, ikut bersama kami juga adalah iparku Ratna (aku punya 3 adik laki-laki). Selama 15 hari kami berkeliling dari Tokyo ke Jomokogen (menginap di tempat Profesor ahli beruang di kabin yang di belakangnya masih ada beruangnya), ke Yokohama - Miura Beach - ke Nagoya - Ise - Kamakura - Kyoto - Tokyo. Asyik dan menarik sekali perjalanan itu. Yang jelas setelah bersama-sama mengalami "culture shocks" dengan iparku Ratna, hubungan kami jadi dekat sampai hari ini. Baru menyebut kata "Waktu di Jepang  dulu.." gitu aja udah tertawa bareng sampai sakiiit perut. Salah satunya adalah ketika kami memisahkan diri dari Sanae-san sehari untuk mengunjungi sahabat karibku di Tokyo (orang Semarang menikah dengan orang Jepang). Waduh, cukup deg-degan juga karena bahasa Jepangnya hanya hafalan dan minim. Harus menghafalkan nama-nama setasiun dan harus tahu pindah kemana. Dari Shinkansen (kereta api super kilat) pindah ke kereta api biasa yang melingkari kota Tokyo (tapi ya banteerrrr juga jalannya walau gak sebanter Shinkansen) dan penuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhhhh buangetttttt sampai badan rasanya dah dilipat dua masih belum cukup. Ratna berteriak :" Tolong! Tolong!" Aku juga, semuanya acuh beibeh! Malahan asyik membaca buku.

Ketika penumpang turun dalam jumlah banyak maka kami segera "berburu tempat duduk" dan dapat di sebelah seorang bule (berkepala gundul gakda rambutnya). Orang itu ternyata orang Amerika dan sudah lama tinggal di Jepang, ia seorang penyiar radio. Tak sadar aku ngomel panjang-pendek tentang peristiwa "terjepit" tubuh-tubuh manusia tadi. Ia bilang :" Do you want me to teach you some Japanese to impress the Japanese?" Wuah, tentu saja aku bilang "Please.." Terus ia berkata : " First to impress them when they ask you whether you speak Japanese, you have to say 'Nihonggo wa chimpun kampun des" (Artinya "Aku ni gak bisa Bahasa Jepang sedikit pun deh!") .Ia melanjutkan :"They will be very surprised and to give them more impression you have to do this ..." Ia mendemonstrasikan telapak tangan kiri dibuka dan genggaman tangan kanan diputar pelan-pelan di atasnya  sambil bilang :"gomasuri!" Artinya : Biji wijen bila ditumbuk baunya menyebar kemana-mana! = Nanti kepalaku besar lho! Itu adalah "gesture" kesopanan untuk memperlihatkan "rendah hati" bila dipuji. Di tengah-tengah frustrasi kesempitan itu kami belajar sesuatu. Tak terasa kereta telah tiba di tempat tujuan. Dewa matane! (bukan mata Dewa tapi sampai jumpa lagi).

Benar! Hal itu sudah kupraktekkan berpuluh bahkan beratus-ratus kali! Hasilnya? Orang Jepang selalu ternganga, bagaimana bisa... bisa ngomong kayak gitu kok bilang belum bisa berbahasa Jepang?   "Sugohine!...." Kata mereka. Kayaknya kita bertanya pada orang bule :"Bisa Bahasa Indonesia?"  Jawabnya "Ah, nggak gue mah Bahasa Indonesianya cuman bisa dikit!" Terus dipuji ia akan bilang sambil dua tangan memegang kepala :"Wah, nanti kepala gue gede dong..."

Setiba di setasiun yang telah ditunjuk, temanku rupanya sudah mencariku. Orang Semarang ini bilang :" Bagamaina kan kusuruh berdiri dekat "Exit" kok malah di sini?" Aku bilang :"aku gak bisa baca" Ia menunjuk tulisan itu yang segede gajah "Tuh dia, masak gak kliatan?" Hahaha! Bukannya gak kliatan tapi BUTA HURUF!....oh,kasihannya *sigh*!


Blog EntryMeneer Mentos (Revised Edition)Sep 22, '06 12:41 AM
for everyone

Dalam salah satu perjalanan kami kami ke Belanda, pernah menyewa rumah di Gouden Regen Straat di kota Den Haag. Sudah berkali-kali kami ke Belanda untuk mengunjungi dan berpartisipasi dalam Pasar Malam Besar Tong-Tong yang diadakan setiap tahun pada bulan Juni (12 hari). Pengalaman tinggal di sana macam-macam, apalagi di Pasar Malam yang dikunjungi sekitar 125 ribu pengunjung dari seluruh dunia itu. Satu yang akan diceritakan di sini adalah seorang tetangga kami di jalan Hujan Emas itu. Laki-laki tua yang sudah pikun itu setiap hari kerjanya menunggu di depan pintu dan selalu memanggil setiap orang yang lewat, tua, muda semua saja, ucapannya selalu "Mevrouw heeft U Mentos voor mij?" (Nyonya, apakah punya mentos untuk saya?). Anak muda juga dipanggilnya, anak kecil juga. Sebenarnya ia tidak benar-benar "butuh" Mentos. Ia hanya ingin berkomunikasi dengan orang. Bayangkan tanpa "salam Mentos" itu ia tak akan berbicara dengan siapa pun. Ia pensiunan dan tinggal seorang diri di rumahnya. Sayang, pada kunjungan terakhir Meneer Mentos telah tiada. Perkenalan dengannya mengingatkan kita untuk selalu memperhatikan orang-orang tua di sekeliling kita, suatu hari kita juga akan menjadi tua.

Pasar Malam Besar itu diadakan juga agar para pensiunan dan orang-orang Indo seperti ini bisa berkomunikasi dan memiliki dunia lain, dunia yang diciptakan untuk mereka. Ketika memasuki Tenda raksasa PMB Tong-Tong, kita masuk ke dalam dunia "Mooi Indie" tahun 1940an. Berbagai tontonan ada di sana dan juga makanan serta kudapan menarik. Nantikan kisahnya!

Catatan : Foto Mentos diambil baru-baru ini (*sulit dapat Mentosnya sih*) dan foto pria itu diambil di Circular Quay, Sydney. Ia adalah contoh seseorang yang kreatif, mengisi akhir hidupnya dengan mendemonstrasikan kebolehannya bermain "Musik Daun". Sehelai daun Eucalyptus digulung dan dipakai sebagai pengganti harmonika memainkan lagu-lagu tradisional Australia seperti "Waltzing Mathilda" dll sbgnya. Foto diambil beberapa tahun lalu mungkin pria itu sudah tiada lagi. Banyak orang mengagumi keahliannya.


Blog EntrySecuil Ladang SayurSep 15, '06 5:37 AM
for everyone


Setiap kali pergi ke Negeri Belanda, kami selalu tinggal di rumah teman kami Petra. Kami menyewa rumahnya, pernah sampai 2 bulan.Ia seorang polisi Imigrasi dan tinggal di Zoetermeer, tidak jauh dari kota DenHaag. Ada mungkin sepuluh kali kami ke Belanda, acaranya ikut Pasar Malam Besar Tong-Tong yang diadakan di DenHaag setiap tahun sekali pada bulan Juni. Juga ada acara jalan-jalan bertema, ke museum-museum atau menapak tilas perjalanan VOC dll sbgnya. Kami berkenalan dengan Henk melalui Petra karena Henk adalah guru Bahasa Indonesia Petra.

Henk kadang juga menjemput kami dari Bandara Schiphol. Ia tinggal bersama isterinya Marie tak jauh dari rumah Petra. Kami selalu mendapat jatah sayur-mayur dari Henk. Mengapa? Karena ia memiliki sepetak kebun sayur. Dewan kota Zoetermeer "menyewakan" lahan-lahan tanah dengan gratis, peraturannya cukup ketat. Lahan hobi itu harus dikerjakan dan diatur dengan rapi. Air daur ulang tersedia untuk menyirami tanaman (tidak untuk diminum). Pengurusnya membuka kantor di sana hanya dari dalam sebuah kargo bekas. Lahan hobi itu diberi petak-petak dan bernomor. Henk menanami lahannya dengan berbagai jenis sayur, ada wortel, kentang, buncis, sledri dan bahkan ia berhasil menanam kangkung dalam "rumah kaca" mininya, kadang hanya berbentuk kotak bertutup kaca. Kami selalu mendapatkan kubis, wortel, buncis, kangkung dll darinya. Tampak dalam gambar ia juga kami kirimi makanan seperti petani di Indonesia, Bakmi Goreng dengan sayur-sayur dari kebunnya. Kerja Henk ringan dibantu peralatan taninya yang praktis, untuk menanam ada "cethok" khusus yang menggali lubang persis untuk satu tanaman sekali tekan. Para petani lahan yang disebut kebun hobi itu memiliki tema untuk kebunnya, ada yang kebun sayur, kebun bunga atau pun tanaman obat. Para petani juga saling barter hasil kebun. Bila Henk panen saat kami di sana, kami mengundang teman-teman dan mengadakan pesta yang disebut "koempoelan" dengan acara makan, mendengarkan musik, baca puisi, main drama, menyanyi dan humoria!

Lahan sayur itu adalah tanah reklamasi. Dulu Belanda melebarkan sayap dengan menjajah negara lain, kini dengan menguruk laut atau mengeringkannya. Tanah-tanah hasil reklamasi itu cukup luas dan kadang tanah yang tadinya tertutup laut itu ketika dikeringkan menumbuhkan tanaman-tanaman purba yang dulu punah. Lahan yang dikerjakan Henk dan kawan-kawan tampak hijau dari jalan. Tanah itu semula gersang namun kini hijau dan di depan "perkebunan" itu telah didirikan bangunan-bangunan apartemen untuk dijual. Foto-foto dibuat pada tahun 2002 tetapi sampai hari ini Henk masih berkebun seperti itu. Sayang, Petra meninggal tahun lalu.

Catatan : Klik foto untuk memperbesar. Di atas adalah foto Henk sekeluarga ketika berlibur ke Sydney.


Blog EntryManfaat Teh Hijau JepangSep 13, '06 2:27 AM
for everyone

Pada tahun 2002, aku berkesempatan mengunjungi perkebunan teh hijau Aoi Secha Co Ltd di Nishio (wilayah Ise). Sahabat Jepangku Sanae-san membawaku ke sana, waktu itu kami masih sama-sama menerbitkan majalah di Australia, Gamelan dan yang diterbitkan olehnya adalah JP Australia (Japan Press Australia). Kami sering bekerja-sama terutama dalam acara "jalan-jalan" (Ia juga sudah dibawa berkunjung ke Indonesia).

Mrs. Ayano Honda adalah presiden perusahaan teh itu dan dibantu oleh ketiga anaknya. Suaminya adalah sang walikota jadi sudah cukup sibuk. Kami dibawa berkeliling perkebunan teh yang anehnya ditanam seperti tanaman pagar di sekeliling rumah para stafnya. Ada juga lahan yang luas untuk ditanami teh tapi teh sebagai tanaman pagar itu cukup menarik. Para staf bertanggung-jawab pada daun teh di pekarangannya yang letaknya juga tidak jauh dari pabrik teh Suncha itu sendiri. Pabriknya pun tidak terlalu besar namun jangkauan pasarannya luas sekali di seluruh Jepang, bahkan mendunia. Sanae-san berkenalan dengan keluarga Honda ini ketika ditugaskan mencari pabrik teh terbaik di Jepang.

Mrs. Honda menyeduh teh hijau untuk kami dan harus diminum dengan cara yang benar. Mangkuk teh harus diputar  3 kali dan ada cara meminumnya tersendiri. Jenis teh hijau juga bermacam-macam namun pada pokoknya meminum teh hijau secara teratur gunanya adalah : Mengurangi tekanan darah tinggi (menyeimbangkan tekanan darah), mengurangi / mencegah resiko penyakit jantung dan kolestrol , mencegah atau menekan pertumbuhan sel kanker, memelihara kesehatan gigi dan mencegah karies, menurunkan berat badan, meningkatkan daya tahan tubuh, memperlambat proses penuaan, mencegah perdarahan berkepanjangan akibat luka, mengendalikan kadar gula dan mengobati migrain atau sakit kepala dan rematik.

Banyak sekali manfaatnya dan orang Jepang minum teh lebih dari 5 kali sehari. Tadateru-san putra Mrs.Honda baru-baru ini menciptakan "Macha in Tetra Packs". Teh hijau yang dikemas saringan jaring sutera berbentuk segitiga, tinggal dicemplungkan ke dalam air es! Dengan cara ini vitamin serta nutrisi dalam teh tidak terbuang.

Yang jelas sepulang dari Jepang bahkan semenjak bersahabat dengan Sanae-san, kami selalu minum teh hijau setiap hari. Tak ada hari tanpa teh hijau dan teh manis sama sekali dijauhkan. Yang penting bukan enak rasanya tapi sehat di badan!

Catatan : Ikut bersama kami juga salah satu iparku dan kami terpesona pada sebuah mangkuk keramik yang tehniknya disebut "Retak Seribu" karena keindahannya dan harganya ..hanya 250 ribu Yen! Wah...kalau pecah bagaimana ya?



Blog EntryNaik Bis Nomor 36 (Jalan-jalan ke Singapura)Sep 11, '06 9:46 PM
for everyone

Artikel ini sangat berguna bagi pembaca yang ingin "ngirit" ketika berkunjung ke Singapura. Artikel ini telah dimuat di Majalah Gamelan No. 41 Edisi Maret-April 2004, Laporan Perjalanan Indonesia-Malaysia-Singapura, halaman 20. Dulu ketika masih mengelola Britannia Language Centre sebuah kursus Bahasa Inggris di Yogyakarta pernah bekerja-sama dengan Sala Laboratory of English (di Jl. Perintis Kemerdekaan, Solo) mengadakan "study tour" membawa sekitar 20 peserta ke Singapura dan menyewa sebuah Singapore Public Bus! Pengalaman yang menarik. Kini di Sydney hari hujan dan marilah pergi bersama ke Singapura!

Setiba di Bandara Changi Singapura, Anda bisa memilih "public transport' yang tersedia, MRT (semacam tram listrik), bis kota atau pun taksi bahkan limosin. Biaya naik taksi dari bandara ke kota sekitar $30, naik MRT cukup murah dan aman namun Anda harus tahu jalur yang ditempuh. Paling mudah adalah naik bis kota, bis menuju ke kota dari bandara adalah bis nomor 36. Caranya mudah, Anda harus berjalan menuju ke tempat pemberhentian bis di lantai dasar (Basement) Changi Airport. Biayanya hanya $1.70 (waktu itu). Sebelumnya Anda dapat menukarkan uang di Bank yang terdapat di Bandara, jangan lupa untuk mendapatkan recehan koin untuk naik bis.

Perusahaan bis kotanya disebut SBS Transit dan Anda harus memilih Bus No.36 (Between Changi Airport & Tomlison Road). Rute yang ditempuh antara lain : Airport Boulevard-Marine Parade-Neptune Court-Amber Road-Temasek Boulevard-Raffles Boulevard-Stamford Road-Penang Road-Somerset Road-Orchard Link-Orchard Boulevard-Tomlison Road-Tanglin Road-Orchard Road-Brass Basah Road. Nah, silakan turun di Orchard Road persis di depan CK Tang Department Store (yang berbentuk seperti pagoda Cina, paling terkenal di Singapura).

Setelah puas berjalan-jalan di Orchard Road yang dipenuhi dengan pusat perbelanjaan, Anda bisa naik bis yang sama dari tempat semula Anda turun kembali ke Bandara (hal ini dilakukan kalau punya hanya beberapa jam di S'pore). Waktu perjalanan dengan bis ke Bandara sekitar 30 menit! Kalau mau lebih cepat bisa naik MRT. Pedomannya :"Malu bertanya, sesat di jalan!" Pusat jajan dan makanan juga terdapat berlimpah di Orchard Road, uang $30 untuk taksi bisa diirit untuk jajan.

Catatan: Tiket bis langganan ada juga, tak perlu dikeluarkan dari tas, cukup sentuhkan tas di mana tiket disimpan ke alat magnetic strip. Kadangkala penumpang menyimpan tiket di antara barang belanjaan dalam tas plastik, tas disentuhkan ke alat dan 'cret' magnetic stripnya bekerja. Di dalam bis dilarang membawa durian! (hahaha!)



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help