Life in Australia & Life in Indonesia

theresa's posts with tag: jajanan nusantara

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag jajanan nusantara
Blog EntryJajanan di Yogya : Gudeg Mbok CilikSep 18, '06 8:48 PM
for everyone

Kota Yogyakarta memang terkenal dengan Gudegnya oleh karena itu disebut Kota Gudeg. Hanya orang Yogya yang "ahli mencari Gudeg" dan herannya masing-masing orang memiliki selera berbeda. Ada beberapa Gudeg terkenal misalnya Gudeg Garuda, Gudeg Mbok Ginuk, Gudeg Juminten, Gudeg Plengkung, Gudeg ini dan itu...tetapi keluarga iparku bungsu memiliki Gudeg favorit keluarga karena kebetulan mereka memiliki Toko Mas di Jalan Malioboro. Langganan mereka adalah "Gudeg Mbok Cilik" di depan Pasar Beringharjo dan jam bukanya tengah malam hingga jam 3 pagi! Itulah saat kota Yogya 'hidup lagi', manusianya pada berkeliaran 'kelaparan' mencari jajanan. Semula Gudeg Mbok Cilik dikelola ibunya kini diteruskan oleh anak perempuannya (mungkin oleh sebab itu disebut "Mbok Cilik", kurang jelas). Ia mulai beroperasi pada jam 10 malam karena di Yogya, toko-toko buka hingga jam 9 malam. Mbok Cilik siap menjual gudegnya kira-kira pada jam 11 karena harus pasang tenda, tungku dan lain-lain sebagainya. Pagi hari berbelanja dan masak, sambil menunggu Gudeg matang, ia tidur sebentar dan malam harinya berjualan.

Rasa Gudegnya tidak manis tapi gurih dan "pas" di lidah. Terkenalnya ada daging ayam suwir maupun utuh, paha, sayap, dada bahkan kepala atau brutu (ekor). Ada juga telur yang sudah "gempi" karena direbus bersama Gudeg berjam-jam dan tahu putih keras yang sudah menyerap rasa Gudeg dan ayamnya! Jangan lupa masih ada arehnya dan sambal goreng kreceknya yang lunak dan sedap! (Hmmm enak sekali, cukup dibayangkan saja!). Bila ingin beli "take-away" tersedia juga, dibungkus daun pisang dan dibawa pulang. Mbok Cilik menyediakan tikar untuk duduk dan piringnya berhiaskan bunga-bunga (Piring Beling Kembangan), ia bekerja-sama dengan "Tukang Wedhang" yang menjual teh kental manis alias "Nasgithel" (Panas-legi-kenthel). Bagi-bagi rezeki karena ia sudah cukup laris dengan Gudegnya. Selesai makan tinggal dihitung apa saja yang dimakan. Silakan mencoba Gudeg Mbok Cilik, depan pasar, di depan Bioskop Indra, perhatikan jam bukanya!


Blog EntryJajanan di Yogya : Tamie SoenKiSep 18, '06 7:52 PM
for everyone

Seri Jajanan Nusantara : Telah dimuat sebagai artikel di Majalah Gamelan No.46 Edisi September 2005 (halaman 39)

Ini adalah secuil kisah imigran dari Tiongkok ke Indonesia. Keluarga Tang bermigrasi ke Indonesia pada tahun 1938 dari Kanton. Di Kanton menu utama adalah selalu mie dan kebanyakan orang makan "Mie Pangsit Kuah", namun Bu Tang Ping menciptakan menu baru ketika membuka restoran pada tahun 1956 di tepi Sungai Code, Yogyakarta. Bermula dari asal kata Tan Mien yang berarti "Mie Telur" ia menyebut masakannya Ta Mie. Mie telur buatan sendiri itu sebelum diberi kuah sengaja digosongkan dulu di dalam wajan baja yang dipanaskan di atas tungku kayu bakar. Asap kayu bakar membuat bau mie menjadi khas dan juga 'kuah nyemek' yang dimasak setelah itu memiliki aroma bau gosong yang sedap itu.

Ibu Tang meninggal pada tahun 1981 dalam usia 76 tahun. Dari tujuh orang anaknya, hanya satu yang mewarisi bakatnya memasak. Resep tradisional keluarga Tang diwariskan pada anak perempuannya yang bernama Tang Lae Fong (lahir pada tahun 1939). Meskipun tidak ada rahasia khusus dalam memasak Ta Mie, menurut Tang Lae Fong, untuk memasak diperlukan bakat. "Walau pun hanya 'plang-plung'...namun bakatnyalah yang menentukan rasa makanan tersebut"Ujarnya polos.

Pelanggan restoran kecil ini termasuk keluarga Keraton Yogyakarta dan Kasunanan Solo. Meja kayu sederhana dengan bangku panjang kayu adalah perabot rumah makan ini, bahkan bahan bakar untuk memasak juga kayu, serba kayu, simpel namun rasanya sungguh tidak bisa ditiru! Unik! Mie gosong ini tak bisa diketemukan di daratan Cina, lain dengan Ifumie.

Masih ada kesempatan bagi yang ingin mencicipi Ta Mie di Yogya, rumah makan kecil itu letaknya tak jauh dari tempat siaran Radio Reco Buntung. Pangsit gorengnya juga sedap!

Catatan: Aku selalu pesan Ta Mie (dengan udang dan ayam, tanpa daging babi - karena kebetulan tidak suka makan daging babi). Keluarga kami sudah berlangganan makan di tempat ini oleh karenanya sudah disebut "Makanan Keluarga"...berasal dari "Tang Dynasti".Sambil duduk menikmati makanan ini sekaligus bernostalgia dengan masa lampau. Dulu makan bersama ayah dan ibuku, kini dengan adik-adikku laki-laki, ipar serta anak-anak mereka. Tak terbayang sudah jadi sekian banyak, dulu rasanya hanya ayah-ibu dan kami berempat!

Keterangan Tambahan : Alamatnya sudah ketemu yaitu Jl.Jagalan Beji nomor 7, Yogyakarta dan telepon nomor 510 971


Blog EntryMakanan Bila Mudik ke Yogyakarta Sep 18, '06 9:11 AM
for everyone

Sudah menjadi kebiasaan bila pulang ke Yogyakarta pasti tidak bisa "mengelak" atau pun menahan diri untuk tidak menikmati makanan keharusan. Ketika mendengar aku akan pulang ke Yogya, ada teman yang menelepon hanya "berpuisi" sederetan daftar makanan kesukaannya. Di Australia kelihatannya kita jadi "kurang" makan yang "enak-enak" itu kecuali bila pergi ke arisan atau tinggal di daerah "Kampung Melayu" seperti Randwick, Kensington, Kingsford dan Maroubra yang penuh "Jajanan Nusantara".Tetapi untuk kesehatan memang seharusnya menghindarkan diri dari makanan "super enak" tersebut. Inilah daftarku (karena tiap orang daftarnya lain-lain):

Tamie SoenKi - letaknya tidak jauh dari setasiun Radio Reco Buntung, dekat Jembatan tak jauh dari Bioskop Permata. Sebenarnya bangunan setengah kayu tersebut menumpang di atas kali. Dapurnya masih pakai tungku kayu bakar dan "kumuh" sekali, tetapi masakan mie yang digosongkan ini sungguh lezat, diberi kuah seperti Capcay. Hasil kreasi ibu si pengelola restoran yang berasal dari Cina ini tidak bisa diketemukan di Cina sendiri. Keluarga Kraton Yogya dan Kasunanan Solo pun langganannya. Aku sudah berlangganan makan di sini sejak balita bersama ayah-ibu dan adik-adikku. Sudah dijadikan makanan keluarga. Yang bisa dipesan lagi disini adalah Pangsit Gorengnya yang juga sedap! Pernah saking piringnya sudah pada "gumpil", aku bawa piring sendiri satu set karena bawa turis dari LN. Tak kusangka, si Tacik tersinggung berat dan ketika aku ke sana lagi tersedia piring khusus berpinggiran emas bagiku yang diberikan sambil cemberut. Tapi kini ia sudah baikan lagi, malah berteman dan artikelnya sudah terbit di Gamelan. Catatan: Piring berpinggir emas itu kini sudah "gerimpil-gerimpil" lagi (malah lebih parah). Dan waktu difoto, di dapur terdapat seekor tokek gemuk dekat tungku. Tapi, lupakan semua itu, konsentrasikan pada makanannya saja. Sungguh sedap dan nikmat! Kalau si Tacik m........ sudah tak ada penerusnya lagi (cerita ini rahasia lho ya karena ia tidak punya komputer punyanya hanya TV yang on terus 24 jam di meja depan). Foto-foto menyusul besok pagi! - (bersambung bila banyak peminat).

Catatan: Tungkunya tidak pernah mati apinya, bila selesai memasak selalu kayu bakar dikurangi dan sisa api dipergunakan untuk menjerang air dalam cerek. Saking tradisionalnya penampilan tungku ini, fotonya kupakai untuk membuat poster dapur umum di gempa ketika mencari Dana Gempa. Selamat membaca postingan berikutnya berjudul "Tamie SoenKi" (Seri Jajanan Nusantara).


Blog EntrySoto Pasar TriwinduSep 5, '06 10:56 PM
for everyone

Pasar Triwindu di kota Solo adalah pasar barang antik dan suku cadang bekas untuk sepeda motor. Pasar ini sering dikunjungi oleh turis dari manca negara bila ingin berburu dan mengumpulkan koleksi benda-benda unik. Terdapat antara lain pesawat telepon kuno, lampu-lampu gantung antik, pagar-pagar berhias dari besi cor, mata uang kuno dan berbagai benda menarik lainnya. Namun di balik kedai-kedai antik ini, nun di sudut kanan pasar terdapat "Soto Triwindu" yang terkenal. Walau pun terselip di ujung, banyak juga dicari orang.

Kuah soto yang mengepul dimasak dalam kuali tanah liat dan terletak dalam pikulan angkringan penjual soto. Setiap mangkuk diisi nasi, ditaburi brambang goreng dan daging kemudian dituangi kuah soto yang panas oleh penjualnya.

Di atas meja tersedia berbagai makanan sampingan, rempeyek kacang misalnya dan soto disajikan dengan irisan jeruk nipis serta kecap manis dan sambal. Minuman pun bisa langsung dipesan di tempat itu. Teriknya matahari menyebabkan orang selalu ingin minum yang serba dingin. Mereka tidak menyediakan "Iced Lemon Tea" tapi Anda bisa mengucurkan jeruk nipis sendiri ke dalam Es Teh Anda.

Sambil mata menengok ke jendela melihat orang lalu-lalang bersepeda motor, peluh bercucuran menikmati kuahnya soto serta pikiran berjalan memikirkan barang-barang antik yang tadi dilihat. Empal, babad atau pun iso juga bisa dipesan untuk menemani soto. Lupakan sebentar diet Anda. Hari itu semuanya dianggap "rendah kalori" dan "bebas kolestrol", bila sedang berwisata, diet boleh dihentikan sebentar.

Artikel ini sudah dimuat di Majalah Gamelan (Majalah Bulanan Berbahasa Indonesia di Australia) No. 46 Edisi Khusus "Jajanan Nusantara" dalam rangka menyambut HUT RI ke 60 (17 Agustus 2005) - tahun lalu. Silakan juga membaca : http://diabetkah.blogspot.com/ atau http://indoaus.blogspot.com/



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help