theresa's posts with tag: childhood toys
 Kesempatan bertemu dengan Pak Ikegami dipakai juga untuk bertanya tentang boneka Daruma dari Jepang yang kudapatkan di Sydney. Boneka ini bila ditekan kepalanya akan mengucapkan kalimat-kalimat berbeda-beda untuk memberikan semangat pada seorang anak yang sedang belajar. Kemungkinan boneka ini dibawa oleh seorang anak Jepang ketika harus belajar di Sydney sehingga ketika mulai malas belajar ia seolah-olah diingatkan oleh Daruma untuk terus bersemangat belajar. 
 Sewaktu kecil kami berempat masing-masing memiliki seekor ayam. Aku anak perempuan sulung dengan ketiga adikku laki-laki. Kurungan ayam diletakkan di bawah pohon Jambu biji yang selalu berbuah lebat akibat "pupuk" yang terus menerus diproduksi oleh ayam. Ayam kami itu ayam Jawa, dan selalu berjenis betina. Pada siang hari ayam-ayam ini bebas berkeliaran di kebun dan nenek selalu memberikan sisa-sisa rajangan sayur pada mereka, itu merupakan cara mendaur ulang yang baik. Ayam sangat suka pada gagang kangkung atau bayam, tentu saja kadang dicampur dedak atau nasi. Mereka ayam petelur yang tangguh dan setiap bertelur, berkokok ria memanggil kami. Setiap anak boleh memiliki telur dari ayamnya, bisa direbus atau diceplok untuk makan pagi.
Kami sangat menyayangi ayam peliharaan kami. Jangan mencoba menyembelihnya, pasti semua anak akan mogok makan dan bahkan berurai air mata. Juga jangan sampai ada "ayam potong" yang menginap. Kalau ayam sudah dikenal dan disembelih, kami juga ngambeg makan dan merasa sedih. Setiap ayam yang menjadi peliharaan kami pasti menjadi sangat jinak, ada rahasianya. Dari buku cerita yang kami baca, bila ekor ayam ketika tiba diberi garam kasar banyak-banyak kemudian "didudukkan" pasti ia jadi jinak. Ternyata benar! Sudah dipraktekkan berkali-kali dan berhasil. Bahkan bila ayam berada di dekat kami mereka akan duduk menemani kami sampai kami pergi. Kami sungguh nakal, seringkali di atas punggung ayam kami letakkan sandal jepit kami dan dilepas pelan-pelan tanpa setahunya dan kami beranjak pergi. Berjam-jam kemudian kami intip, ayam itu masih berada di tempat semula, mendekam tanpa suara sampai ketiduran, yah keterlaluan! Setelah sandal diambil barulah ia pergi, kasihan!
Kini tinggal di Sydney tentu saja tidak memiliki ayam lagi namun pada suatu hari seorang anak membanting mainan kayunya hingga pecah berantakan. Mainan itu berupa para ayam mematok padi, bila mainan digerakkan, para ayam sibuk mematuki benih. Karena dibanting maka mainan menjadi rusak. Aku memperbaikinya, mengelem dan mengecat ulang serta menambah 2 ekor tikus untuk saling berebut makanan. Mainan kayu itu buatan Srilanka.Karena bantingan yang terjadi seekor ayam lehernya rusak, tidak bisa mematuk ke bawah jadi untuk mengatasinya dibuat tikus itu yang seolah berebut padi dengannya dan leher ayam menuju ke arah tikus seolah mengusirnya "Syuh syuhhhh!!!!" Ada juga ekor yang patah dan hilang dan sudah kubuatkan ekor baru. Nah, inilah sekelumit kisah tentang para ayam. 
Aku datang ke Australia pada tahun 1985 sebagai seorang seniman atas undangan The Australian Museum yang berada di dekat Hyde Park, Sydney untuk berpameran. Pameran itu juga disponsori oleh Garuda. Judul pamerannya :"Primitive Piggy Bank Fantasies" atau "Fantasi Celengan-celengan Primitif". Memang sejak dari kecil aku tertarik pada mainan terutama yang terbuat dari tanah liat akibat ayahku yang selalu mengadakan perlombaan berkarya setiap hari. Kebanyakan karya kami waktu kecil berupa boneka-boneka dari tanah liat. Aku sempat kuliah di ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) jurusan Seni Ilustrasi & Grafis namun jurusanku itu gedungnya bersebelahan dengan Seni Kriya, jadi aku suka ngelencer ke gedung sebelah melihat para mahasiswa Kriya berkarya. Kini ASRI menjadi ISI (Institut Seni Indonesia).
Pameranku tujuannya untuk mensponsori anak asuh, mottonya " Give a Child a Future, Take a Piggy Bank Home!" dan itu adalah cikal bakal berdirinya Yayasan Pelita Kasih di GKI Bhayangkara kira-kira pada tahun 1989. Pameran-pameran ini juga pernah disponsori oleh Mantan Menteri Keuangan Indonesia Radius Prawiro. (Silakan buka http://primitive-piggy-bank-fantasies.blogspot.com/). Pameran-pameran seperti ini telah diadakan beberapakali dan yang terakhir diadakan di Australian MUseum lagi bersamaan dengan sebuah pameran besar berjudul "Beyond the Java Sea".   
 Aku mengenal boneka beruang Steiff dari Petra. Kami dulu sering menonton Pasar Malam Tong-Tong di Negeri Belanda dan selalu bermalam di rumah seorang polisi imigrasi bernama Petra. Ia seorang kolektor Steiff. Petra mempunyai seorang ayah Indo-Belanda, ketika kecil ia diberi hadiah Steiff Soft Toys. Sayangnya, ayahnya meninggalkan ibunya ketika Petra berusia 2 tahun.
Ingatan Petra tentang ayahnya hanyalah boneka-boneka Steiff tersebut. Sewaktu berteman denganku ia sudah tidak mempunyai ayah dan ibu lagi. Petra sebatang kara di dunia. Ia mempunyai kucing Anggora diberi nama "Big Spender" alias Spenny. Teddy Bearsnya yang kuno 2 buah itu hanya diberikan pada kucingnya.
Tahun lalu Petra meninggal dan seluruh koleksinya hilang bersama kepergiannya. Yang selalu kuingat adalah tautan perasaan Petra pada bonekanya. Bagi Petra boneka-boneka hadiah ayahnya itu merupakan bukti cinta ayahnya padanya pada waktu itu.Ayahnya kemudian menikah lagi dan berkeluarga, memiliki anak lagi namun tidak pernah menghubungi Petra mau pun ibunya walau pun mereka tinggal sekota. Ayahnya telah mengkhianati cintanya padanya dan pada ibunya namun untuk Petra bentuk cinta ayahnya yang dulu diperuntukkan padanya itu tersimpan pada boneka beruangnya. Kasihan si Petra! 
 The Doll Collectors Club of NSW Inc. memiliki anggota ribuan. Aku adalah anggota nomor 1624, baru masuk jadi anggota kira-kira setahun. Pesertanya tersebar di seluruh Australia tetapi kelompok pecinta boneka ini anggotanya kebanyakan tidak berusia muda lagi, rata-rata 60 hingga 90 tahun. Bagi para anggota yang di bawah 60 dianggap masih "muda belia", bayangkan walau sudah tua tapi karena punya hobi "bermain dengan boneka" mereka tampak sehat dan berbahagia. Pertemuan diadakan sebulan sekali setiap hari Sabtu pertama pada bulan itu di Balai Kota Granville. Pertemuan mendatang adalah pada tanggal 2 September 2006. Presidennya bernama Phyl Davis, orangnya tegas sekali. Aku aktif menulis di majalah kelompok ini yang terbit kwartalan (tulisan dalam bahasa Inggris, artikel yang pernah ditulis "My Grandma's Doll" dan yang terakhir menulis tetang "A Trip to Garden Island"). Bila sang anggota berultah ke 80 akan diangkat menjadi "Honorary Members" dan sudah banyak yang jadi HM termasuk sang presiden sendiri. Semua anggota bila hadir untuk meeting (rata-rata berjumlah 100-200) mendengarkan rapat resmi sambil mengerjakan hobi, ada yang merajut, quilting, dll sbgnya. Sungguh asyik! Dan semua punya koleksi Dolls yang tidak tanggung2! Bisa terkejut melihat koleksi mereka itu.
Pada tanggal 29 dan 30 Juli 2006 yang lalu kelompok ini mengadakan Doll Fair 2006. Perayaan itu diadakan setahun sekali tiap akhir Juli dan diikuti 200 stall holders. Berbagai boneka dan beruang antik diperjual-belikan dalam fair ini. Aku membeli 2 vintage Teddy Bears yaitu Helmut (Teddy Bear buatan Jerman tahun 1920) dan si Brownie (Buatan Jerman tahun 1930an). Teddy Bear termahal pada pameran itu laku 10 ribu Dolar, pemiliknya bernama Asmuni orang Malaysia dan sudah menyimpan sang beruang selama 25 tahun. Walau pun Teddy Bear itu yang termahal dalam pameran itu, bukan berarti boneka beruang yang lain kalah nilainya, dari tahun ke tahun usia para beruang naik dan nilainya tak terkatakan.
Mengumpulkan Teddy Bears ada seninya dan caranya tersendiri. Teddy Bear yang dipilih untuk dikoleksi syarat pertama adalah bukan harganya namun apakah pada pandangan pertama kita sudah suka pada penampilannya. Sesudah itu banyak faktor yang menentukan misal buatannya, pembuat paling terkenal adalah Margaret Steiff dan berasal dari Jerman. Steiff awal tahun 1900an adalah awal terjadinya Teddy Bear yang dibuat karena Presiden Teddy Rossevelt berburu beruang dan ketika melihat anak beruang, iba hatinya hingga buruannya dilepaskan. Sejak itu boneka beruang dibuat dan disebut Teddy Bear, desain pertama dibuat Margaret Steiff yang terkena polio namun walau duduk di kursi roda mampu mencengangkan dunia dengan desain Teddy Bearnya yang imut-imut dan kini sangat dicari orang. Punya 1 Steiff asli tahun 1905 misalnya harganya bisa ribuan dolar! Sayangnya karena zaman perang Steiff Teddy Bears banyak yang musnah. Indonesia belum mengenal Steiff, selain harganya tak terjangkau, adakah orang yang mau mengeluarkan duit segitu banyak untuk sebuah boneka beruang? Dalam budaya barat, anak yang baru lahir seringkali dibelikan Teddy Bear yang bergengsi hingga bisa dipakai kenangan sampai ia dewasa. Rata-rata orang Australia kelahiran tahun 1900 hingga 1950 memiliki Teddy Bear saat bayi, ada yang masih disimpan hingga kini. Teddy Bears buatan Australia yang terkenal buatan JoyToys atau Lindeman (Lindee Toys) atau Jakas Toys. Merk-merk ini kini juga langka jadi bernilai. 
 Aku sudah tinggal di Sydney, Australia selama 13 tahun. Aku single dan tinggal bersama sepupuku yang juga single. Kami bekerja-sama selama ini menciptakan pekerjaan untuk kami sendiri. Kami melayani pelayanan terjemahan tercepat se Australia dari Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggris dan sebaliknya, selesai dalam waktu 24 jam bahkan bisa ditunggu. Selama delapan tahun kami juga telah menerbitkan Majalah Berbahasa Indonesia Gamelan yang terbit setiap bulan dengan tiras 10 ribu eksemplar tersebar 80% di Sydney dan sisanya ke seluruh Australia namun bulan April kemarin kami akhiri.
Namun bukan berarti berhenti menulis, kami masih menulis untuk Majalah Berbahasa Indonesia lain bernama Ausindo terbitan Sydney, kami mengirim 6 halaman setiap bulan. Tugasku masih mengabadikan kegiatan masyarakat Indonesia di Sydney sebisaku baik dalam bentuk jepretan lensa maupun artikel. Baru-baru ini ada tiga hal yang menarik; kedatangan seorang Dhalang berkeliling ke sekolah-sekolah di Australia, Kwartetnya Jaya Suprana dan 2 hari yang lalu "Semalam di Ranah Minang" bersama kelompok dari Sumatera Barat. Kami juga mempunyai sekolah Bahasa Indonesia bernama "Indooz Language Centre".
Diantara mengerjakan tugas-tugas itulah aku memiliki hobi membuat katalog serta menyusun cerita mainan yang menjadi koleksiku. Kadang-kadang aku juga mewawancarai orang Indonesia yang memiliki tautan terhadap keluarganya melalui mainan yang dibawanya ke Australia. Bukan hanya mainan namun juga benda-benda lain yang memiliki kenangan tertentu terhadap kampung halaman. Kisah-kisah itu ditulis dalam "Toys of Migrants in Australia" silakan buka http://theresajackson.blogspot.com/
Pada malam hari aku bekerja di perpustakaan buku dan mainanku dan memotret mainan serta menyusun katalog. 
 Mengumpulkan mainan kuno sudah kulakukan kira-kira tiga tahun terakhir ini secara serius. Sebelumnya ada juga mainan yang dikumpulkan namun tidak terlalu banyak, alasannya karena kekurangan tempat. Selama 6 tahun terakhir aku hidup di sebuah flat berukuran 60 meter persegi, walau pun terletak di tengah kota namun lingkup geraknya sempit. Pada tahun 2003 kami membeli sebuah rumah kira-kira 40 menit naik kereta api dari kota. Rumah itu sederhana, bentuknya seperti rumah panggung di tanah seluas 620 meter persegi. Dari situlah hobi mulai berkembang, karena ada tempat untuk 'mengembang-biakkan' hobi serta memelihara kucing. Sepuluh tahun dilalui hidup tanpa kucing dan hobi disingkat. Sejak tahun 2003 semuanya berubah.
Ketika masih kecil, bila meminta mainan pastilah semua tergantung pada orang tua kita. Pada saat aku kecil mainan tidaklah terlalu mudah diperoleh karena keadaan keuangan ayahku, semuanya serba terbatas. Ayahku lebih sering membuat mainan untuk kami sendiri karena ia seorang mekanik.
Kini setelah dewasa dan berprofesi tentunya diri kita bebas untuk menentukan apa yang harus dibeli dan tidak. Mainan masa lampau yang tak terjangkau harganya kini menjadi tersedia dan itulah yang kulakukan sekarang. Menjangkau yang dulu tak terjangkau. Koleksiku berupa vintage teddy bears, tin toys (mainan kaleng), vintage dolls (boneka kuno) dan lain-lain sebagainya yang menarik hatiku dan dulu "tak terjangkau".
Waktu kecil keluarga kami tidak mempunyai banyak uang dan setiap hari ayah mengadakan perlombaan untuk kami, macam-macam lomba yang diadakan untuk mengasah kreativitas kami misalnya ; lomba membuat kapal dan mobil dari kertas dan lidi, lomba membuat boneka-boneka dari tanah liat (lempung), lomba memasak (ayahku jagoan masak), lomba menggambar, lomba membuat layang-layang mini. Pokoknya tak ada seharipun berlalu tanpa perlombaan dan hadiahnya sebenarnya sederhana, misalnya buku bacaan, kelereng, atom, bola dll sbgnya, namun asyik. Anak-anaknya menjadi kreatif dan berani mengungkapkan diri dalam bentuk karyanya. Kami berempat memiliki hobi menggambar. Lantai rumah boleh digambari dengan kapur tulis asal kemudian bertanggung-jawab untuk membersihkannya kembali.
Mainan yang paling berkesan untukku adalah sebuah boneka beruang berwarna hitam. Kebetulan seorang tante berulang tahun sama denganku dan ia sering menitipkan mobil VWnya untuk parkir di bengkel kami jadi pada hari ulang tahunku biasanya ia memberikan hadiah mainan padaku. Hadiahnya adalah bekas mainannya waktu kecil. Boneka beruang bermata beling itu bagus sekali dan sangat kusayangi, tetapi karena seringnya dipindah-pindah akhirnya "ketlingsut" entah berada dimana. Sekarang dalam koleksiku terdapat beberapa boneka beruang hitam buatan Jerman, agak mirip seperti "Beertje" yang hilang itu.
Silakan membuka http://theresajackson.blogspot.com/ dan menengok Archives mulai dari bulan Mei. 
|  | Kumpulan kisah di balik setiap mainan koleksi Theresa dengan ingatan masa kecil, semua mainan bercerita dan terutama penekanannya pada mainan yang dibawa berimigrasi ke Australia, silakan buka http://theresajackson.blogspot.com/ |
| |