Kali ini tidak ada gambarnya, kilas balik. Pada tahun 1973 aku berada di Rumah Sakit Bethesda dan menderita sakit usus cukup parah. Perut seperti diiris sembilu sakitnya kadang tak tertahankan dan dokter hanya menyuruh perawat mengompres perutku dengan kompresan dipenuhi es batu. Obat-obatan antibiotika kelihatannya sulit diperoleh pada zaman itu. Ketika dalam keadaan sakit tak terperi "Nil By Mouth" (tidak boleh makan apapun atau minum apapun hanya pikiranku serta imajinasiku yang melayang pergi meninggalkan tubuhku yang sakit. Aku hanya berdoa menjerit kepada Tuhan untuk memohon pertolongan. Aku merasa bagaikan orang paling menderita di dunia ini.
Pada waktu-waktu aku dalam keadaan krisis aku menghibur diriku dengan menggambar dan membuat cerita serta catatan harian di BlockNoteku. Para perawat setiap hari memeriksa BlockNote itu karena ada gambar serta laporan tentang mereka disana, persis seperti ngeBlog tapi tidak di komputer namun dalam Blocknote. Aku selalu melihat segala penderitaanku dari segi yang penuh humor.
Seorang perawat mengingat bahwa ada seorang pasien di bangsal lain juga memiliki hobi menggambar namun pasien ini bisu. Akhirnya aku tahu tentang pasien calon dokter yang mondok di bangsal paling murah itu. Ia adalah tahanan G30S PKI dari sebuah penjara dan tangannya diborgol, kepalanya pernah dipukul popor senapan dan disiksa dengan listrik. Oleh karena siksaan itulah ia menjadi lumpuh separo (stroke) dan bisu. Ia hanya bisa menuliskan kata-kata yang ingin disampaikannya serta menggambar.
Aku berkomunikasi dengannya, tukar menukar salam dan gambar lewat perantaraan para perawat. Ruangku disebut Ruang 1 (bukan kelas utama, kelas ekonomi) dan bangsalnya adalah Bangsal L dimana tempat tidur berderet-deret dan privacy tidak ada. Ia dirawat bersama dua orang temannya yang lain, seorang calon pengacara dan seorang calon ahli ekonomi. Semua tangannya diborgol pada tempat tidur dan polisi menjaga mereka.
Aku ingat ketika pertama kali aku boleh berjalan, aku paksakan diriku berjalan menengok mereka. Perjalanan cukup jauh dari Ruang 1 ke bangsal L di Rumah Sakit Bethesda, mungkin lebih dari 1000 langkah, melompat-lompat seperti kangguru. Kalau aku menoleh, badan sempoyongan mau roboh (maklum waktu itu 6 bulan tidak pernah berjalan). Sampai juga aku ke bangsal L berkenalan dan berbicara dalam bahasa isyarat dengan sahabatku itu. Ia gembira sekali, orangnya penuh rasa humor dan optimisme.
Aku ingat waktu itu bulan Desember menjelang hari Natal, RSB sibuk menghias diri. Sobatku itu sudah diperbolehkan berjalan dan ia juga gantian menengokku. Para perawat bercerita bahwa ia membantu mereka membuat hiasan untuk palungan Natal. Bayangkan, calon dokter itu mampu membuat patung-patung domba untuk diletakkan di sekitar palungan.
Komunikasi dengan sobatku itu tidak bisa berjalan lancar karena semakin menjadi sehat semakin ketat penjagaan polisi dan akhirnya ia dikirimkan ke pulau Buru. Aku sedih dengan kepergiannya. Pada saat aku terbaring sakit, Nil By Mouth, infeksi menyerang, kompres es diperut, rasanya seperti dirajam namun aku mengingat sobatku itu yang nasibnya jauh lebih menderita, bahkan tidak diketahui lagi lanjutannya.
Dalam penderitaanku aku berdoa untuknya dan dalam penderitaanku aku merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan penderitaannya, penderitaanku terasa ringan. Dalam menderita itu kita harus ingat untuk mendoakan mereka jang jauh, sangat lebih jauh menderita daripada kita. Ketika dalam keadaan bersuka dan mengingat kembali penderitaan itu sebenarnya dalam deritalah jiwa kita diperkaya olehNya. Aku mondok di RSB persis selama setahun sepanjang tahun 1973.
Silakan membaca postingan lalu di http://theresajackson.multiply.com/journal/item/34