Aku sedang menengok si Jeruk Purut di dekat Mail Boxku ketika Harry tetanggaku berjalan ke pagar dan menyapaku:"Have you got a minute for me?" Aku pun mendekat, sudah 3 tahun kita bertetangga dan baru kali ini bertegur sapa untuk kedua kalinya (*Keterlaluan*). Ia bilang:"For more than sixty years I could sing this song without knowing the meaning" Lalu ia menyanyikan lagu itu, aduh dinyanyikan dengan nada dan tekanan sinyo Ambon! Padahal ia sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia, apalagi Ambon!
Aku tercengang "speechless". Aku berkata :"Harry, let me invite you and Dorothy for lunch!" Diputuskan undangan makan siang keesokan harinya. Walau pun lagu itu sudah kuterjemahkan secara cepat-cepat, pada hari kami makan siang bersama, lagu itu dinyanyikan lagi olehnya dan direkam sebagai "Video Klip" sepanjang satu menit. Silakan buka di http://theresajackson.multiply.com/video/item/4
Kata-katanya adalah : He manise! Sege-segoyang-goyang badane! Sapa kawin kan pinda dua, habis bulan gaji bagi dua!
Harry menyanyikan dengan penuh semangat, pede banget, dan kelihatannya ia jadi tiba-tiba berubah menjadi seorang sinyo Ambon! Arti kata-kata itu :"Hei, manise! (gesek-gesek - sege-sege?) goyang-goyang badannya! Siapa kawin artinya berubah jadi berdua dan sehabis gajian berarti gaji harus dibagi 2." Aku menterjemahkan artinya pada Harry dan ia tertawa terkekeh-kekeh! "At least I know the meaning now and there is no bad conotation there!" Soalnya ia berkata bahwa para serdadu Jawa yang mengajarinya dulu selalu mentertawakannya sehabis ia menyanyikan lagu itu.
Ditertawakannya bukan karena lagunya tapi karena penyanyinya yang bisa menirukan persis kata-katanya kayak orang Ambon! Siapa tidak geli? Aku pun geli sampai keluar air mata (geli sekaligus terharu). Bayangkan, kata Dorothy sejak berjumpa dengannya ia selalu menyanyikan lagu itu, selalu bergumam lagu itu bahkan sampai pada hari ini. Ia belajar menyanyikan sejak berusia 14 tahun! Dorothy ikut lega bahwa rahasia arti kata-kata itu terpecahkan! Sepasang suami-isteri itu mesra sekali lho! Rukun dan damai keluarganya.
Baca juga kisahnya di http://tamukita.blogspot.com/2006/08/belajar-sejarah.html dan juga http://tamukita.blogspot.com/2006/08/david-versus-goliath.html
Kami menyuguhinya Mie Jawa dan Ayam Bakar dan Harry membawa oleh-oleh Lemon, Valencia Oranges dan Pomellos. Ia seorang "gardener" sejati. Lemon kami dibandingkan miliknya persis seperti "David versus Goliath" (*Malu.com.au*).
Kota Casino terletak 726 kilometer dari Sydney, di perbatasan antara New South Wales dan Queensland. Pada tahun 1944-1947 itu sekitar 5000 Prisoners of Wars dari Dutch East Indies ditempatkan di sana. Supadi, Supardjo dan Rubini adalah para "Duta Besar Indonesia" yang baik bagi Harry dan penduduk di Casino.
Bayangkan di suburb sepi gung-liwang-liwung, tidak ada orang Indonesianya selain kami, lha kok tetangga depan nomor 17 , orang Aussie tulen (a true blue fair dinkum Aussie!) kok bisa menyanyikan lagu Ambon dan tetangga satunya lagi di nomor 57 adalah Indo-Belanda berasal dari Bandung dan Madura! Weleh-weleh! Kecilnya dunia!