Hari ini diet sudah dimulai, lha kok "ndilalah" (kebetulan) di televisi saluran 31 sedang ada pelajaran cara memijat kaki, karena unik maka perlu kutuliskan di sini. Tumpangkan kaki kiri pada paha kaki kanan (dipangku dalam keadaan bersilang membentuk letter L). Masukkan keempat jari tangan kiri pada sela-sela jari kaki kiri (lihat foto) dan tarik jari-jari kaki dengan gerakan ke atas dan ke bawah. Ganti posisi, tumpangkan kaki kanan pada paha kaki kiri dan lakukanlah hal yang sama. SAKIT lho! Tetapi itu baik untuk melatih jari-jari kaki agar tidak terkena rematik atau kaku-kaku. Silakan dicoba! Sepertinya jari-jari tangan bersalaman dengan jari-jari kaki! Belum pernah kulakukan hal itu sebelumnya! Perhatikan foto kaki bayi di sebelah kanan bawah, kaki kita harus dirawat sehingga lentur bak kaki bayi. Semua ruas jari digerakkan memutar dengan bantuan krim, juga telapak kaki diurut dan dipijat sendiri SETIAP HARI. Silakan dipraktekkan! Terutama bagi yang merasa sudah "tuirrr"...
Deadline baru saja berlalu, setiap bulan memang harus bersiap menulis artikel untuk majalah AusIndo. Badan rasanya capai sekali, sebulan ini acara yang dihadiri banyak sekali dan semuanya menyangkutkan kegiatan makan. Hari ini tibalah saat itu ketika kadar gula darah jadi tinggi dan kesadaran "baru" mulai timbul lagi untuk mendisiplinkan diri. Untung ada "black tea" yang bisa menolong menetralkan kembali yang sudah "tinggi" itu tetapi mulai besok harus dimulai lagi perjuangan itu -- DIET yang BAIK dan BENAR! Dalam coretan kartun di atas, seolah-olah aku menasehati si ikan untuk berdiet padahal aku lah seharusnya yang harus melakukannya (hehehe). Ya sutralah, besok kumulai lagi apa yang sudah pernah dilakukan itu, diet lagi dan lagi... Memang tidak mudah, terlalu banyak godaannya. Aku memiliki situs http://dietdiabet.blogspot.com/ lama belum diisi lagi, nah itu tanda-tanda kurang mendisiplinkan diri...OK, semangat, ayoo mulai lagi! ...
Tadi siang kami berbelanja ke Maroubra dan mampir di Asian Grocery Store-nya serta aku sudah memilih sebuah cetakan tumpeng...Eh, lha kok tertinggal! Dalam rekening pembelian juga belum tertulis, jadi cetakan tumpeng tertinggal di meja kasir, alamak! Padahal pada tanggal 19 Juli mendatang aku harus membuat Tumpeng Nasi Kuning. Piye hayo? Tentu saja yang termudah kembali lagi ke toko itu, tapi jauh nian dari sini. Oleh karena itu mohon ide ya teman-teman, adakah pengganti cetakan tumpeng yang kreatif? Dari koleksi foto tumpengku dalam 2 bulan ini saja tampil 3 contoh tersebut. Ada yang tampaknya dibentuk tanpa cetakan tumpeng. Ada ide gak teman-teman? Please... Makasih sebelumnya ya...
Tulisan ini kubuat untuk online buddyku yang baru Elisa (http://myelisa.multiply.com/) yang memiliki seekor kelinci untuk Tiffany anaknya. Memang memiliki "pets" tidak mudah, tetapi ada satu hal yang harus diperhatikan yaitu para binatang peliharaan itu harus didisiplinkan lagipula pemeliharanya kalau masih anak-anak juga harus didisiplinkan untuk mengurus binatang peliharaannya. Ketika aku masih kecil, aku juga memiliki "pets" bersama ketiga adik laki-lakiku. Kami didisiplinkan untuk mengurus para binatang tersebut yaitu kucing, ayam serta marmut. Kami berempat (aku si sulung) memiliki tabungan bersama dan pada suatu hari "dipecah" untuk membeli sepasang marmut. Ya, ampyun marmutnya dari 2 ekor berkembang pernah sampai 32 ekor, suaranya itu duh! "Guik-guik-guik-guikkkkk" Dan kami harus bergilir memberi makan. Untung kami memiliki kebun yang luas (http://rumah-ngabean.blogspot.com/) tapi sang marmut selalu kelaparan. Marmut dimasukkan dalam sebuah kandang gede berwarna hijau yang memiliki kaki jauh dari tanah. Kami berempat bergilir membersihkan kandang, harus disapu dan dibersihkan dengan air. Waduh baunya???? Sreng banget! Akhirnya ke 32 marmut mati satu persatu terkena penyakit, satu sakit semua ketularan! Sejak itu kapok berat memelihara marmut. Tetapi perkara memelihara marmut itu mempererat persaudaraan kami, melatih kami menghadapi suatu masalah bersama, menghadapi penyakit, mengurus sesuatu bersama, bahkan menghadapi kematian. Sampai sekarang kami berempat selalu terkenang pada para binatang itu, kami berlatih "berkeluarga" saat masih dini, mengurus permasalahan milik bersama, jadi rukun, guyup, melatih kedewasaan emosi. Kini punya Bubu dan Cupik. Sejak bayi sudah didisiplinkan. Tidur di toilet kami dan kotak kotoran mereka juga di sana selalu dibersihkan. Mereka pergi tidur pada jam 6 sore dan bangun atau dikeluarkan dari sana pada jam 10 pagi keesokan paginya. Tidak rewel! Jadi istilahnya pada jam 6 sore mereka di "turn off" besok pagi di "turn on" lagi! Dalam rumah juga banyak peraturan yang mereka harus taati misal tak boleh tidur di atas Day Bed, mereka taat. Makan tak boleh diacak-acak, mereka juga rapi. Jadi memang binatang peliharaan harus didisiplinkan kalau tidak kita yang payah. Semoga tips ini berguna bagi Elisa dan para pecinta binatang yang lainnya..Hehehe! Hitung-hitung punya "Pets" kyak punya "Teddy Bears", batterynya ya makanan mereka serta kasih sayang kita pada mereka...Mereka pasti akan membalas cinta kasih kita. Mbakyu Ratri dulu gak senang kucing, eh..Kucing-kucing malah lebih tertarik padanya, jadi ya...Senang pada kucinglah sekarang... Ada sebuah bangku gereja (Church Pew) di rumah nomor 17, itulah bangku tempat si Cupik minta dielus-elus, kalau ia berada di sana, ada lah maksudnya! Dan Bubu punya satu kursi putar hitam yang tak boleh diganggu gugat, itu miliknya (kuciang kok punya property ya?) CATATAN Semua binatang peliharaan dan tanaman di rumah kami diajak berkomunikasi dalam Bahasa Jawa..Hehehe! Mereka paham kok.
Namanya si Jeruk Bingung, karena pohonnya unik, sekitar 5 atau 6 citruses diokulasi jadi satu sehingga buahnya membingungkan ; ukurannya seperti oranges, kulitnya berwarna seperti lemon, halus seperti jeruk nipis (lime) dan airnya banyak seperti lemon dengan rasa dominan jeruk nipis. Pohon jeruk ini hadiah Sanae-san yang konon dibeli di "Vauclouse House" saat pameran hortikultura di musim semi (5 tahun yang lalu). Buahnya kunamakan si Jeruk Bingung. Beberapa minggu lalu saat rumah disemprot dengan air bertekanan tinggi, si pohon jeruk dipindah ke dalam pot oleh Phil dan Matthew. Sungguh dalam akarnya tertanam sehingga mereka harus berkutat cukup lama untuk mencabutnya. Kini si Jeruk Bingung bertengger dalam potnya yang baru dan diletakkan di depan rumah. Hampir-hampir "ia" mati, daunnya layu dan hampir luruh. Aku berbicara padanya :"Wis tho, aja mati, saka sak-kathahing uwit, mung kowe siji sing kepilih arep diajak pindah, dadi ya aja mati tho!" (Janganlah mati dari sekian banyak pohon hanya dikau seorang terpilih untuk diajak pindah, jadi ya jangan mati). Heran juga, kini si Jeruk Bingung sudah mulai "waras", sudah tegar tumbuhnya, semoga bisa "survive". Kuncinya juga, setiap hari disiram air dari selang dimiripkan percikan air hujan. Pada foto nampak Jeruk Bingung dalam keranjang berdampingan dengan "Valencia Oranges" semua hasil kebun rumah nomor 17, that's why the house is called "Lemon & Orange Cottage" ! Semoga si Jeruk Bingung bisa ikut pindah...Masih ada sebatang pohon Lemon dengan buah sarat terus menerus, yang itu tak bisa diajak pindah. Di suburbku, hampir setiap rumah memiliki tanaman pohon Lemon di kebunnya, buahnya sarat berjatuhan tak pernah dipetik saking banyaknya..Tapi Jeruk Bingung? Mereka tak punya...
Tadi pagi kami kedatangan tamu, 9 orang banyaknya. Itulah mereka Umar dan keluarganya. Siapakah si Umar? Umar adalah anak laki-laki berusia 3 tahun yang digendong oleh Mbakyu Ratri dalam foto. Kami memang mempunyai banyak lemari "to be given away" , istilahnya di sini "units" dengan "4 shelves" semua seragam berwarna putih, pengganti lemari "built-in". Dulunya dijejer di flat kami di Darling Harbour. Kami putuskan untuk memberikan "units" tersebut pada keluarga yang membutuhkan. Melalui pak Pono kami mengenal keluarga dengan 4 anak ini dan mereka hari ini mendapatkan 4 units, 2 lemari pinus serta 1 lemari berlaci untuk pakaian dan beberapa rak buku. 4 orang pria tiba untuk menggotong seluruh lemari itu. Kebetulan ayah Umar bekerja di sebuah perusahaan pengangkutan jadi pada hari Sabtu bisa meminjam truk untuk mengangkut lemari-lemari itu. Kue-kue juga dibagikan. Sebagian diberikan pada Harry dan Dorothy tetangga depan yang kemarin memberikan "pomellos" hasil kebun mereka dan sebagian untuk oom dan tante sebelah. Keluarga Umar membawa kue untuk kami dan mereka datang dengan 3 mobil, 2 sedan dan 1 truk. Sebelum berlalu kami berfoto bersama :"Semoga lemari-lemari itu berguna di rumah yang baru ya!" Ujar kami. Kami melepas kepergian sahabat-sahbat baru kami bersama lemarinya. Bubu memeriksa kamar yang kosong, malam ini si Bubu dan Cupik tidur di sana karena kamar mereka aka "toilet kami" sedang diperbaiki. Tadi anak-anak menonton kucing di kebun ketika "yang dewasa" sibuk mengangkut lemari.
Dua foto bagian atas adalah si Ginger kucingnya si Is dan yang dua di bawah adalah si Cupik. Ginger sedang dikostkan ke kami karena Is pergi selama 10 hari. Ini perkara "titip-menitip kucing" soalnya sewaktu kami ke Port Macquarie selama 4 hari Bubu & Cupik juga dititipkan ke Is (tapi teteup tinggal di rumah hanya ditengok dan diberi makan). Si Ginger tahu kalu sedang "dititipkan", kalau siang tidur-tiduran dalam "shed" atau gudang perkakasku dan kalau minta makan datang mencariku. Pintar kan? Bahkan pada hari ia mulai dititipkan ia tahu, hari itu ia menungguku dengan setia di pintu gerbang ketika kami mau pulang ke rumah nomor 57. Bagaimana dengan Bubu & Cupik? Oh, biasa mereka tidak suka pada "anak kost", saingan berat! Tapi anak kost bernama Ginger teteup aja mencariku kalau lapar dan dapat hadiah "kadang-kadang" kalengannya Bubu & Cupik. CATATAN Ginger adalah seekor kucing gelandangan yang diambil oleh Is dan ia berterima-kasih. Bubu & Cupik lahir di bawah rumah nomor 17 dan kami ambil kalau tidak mereka juga jadi kucing gelandangan. Is selalu berkata bahwa kemungkinan Ginger adalah saudara tiri mereka. Mungkin? Siapa tahu?
Akhirnya tumpukan Mulch yang menggunung di samping rumah nomor 17 habis juga! Hari ini betul-betul bekerja keras, akhir dari 3 minggu kerja banting tulang... Mulch hadiah dari seorang Arborist (ahli tebang pohon) itu berasal dari taman tak jauh dari sini. Setiap pohon yang ditebang dimasukkan ke dalam mesin mirip peraut pinsil raksasa kemudian disemprotkan ke dalam bak sebuah truk. Mesin peraut itu terpasang persis di belakang bak truk. Kami mendapatkan sekitar 1/4 bak Mulch padat dan untuk memasukkan ke dalam karung serta menebarkannya di sekitar tanaman membutuhkan waktu 3 minggu. Pekerjaan memasukkan Mulch ke dalam karung dilakukan sendiri, kadang berdua dengan Yu. Terakhir hari ini harus selesai dan kami berimajinasi "menjual tembakau", perkarungnya @$200, hahaha! Jadinya semangat sehingga pekerjaan selesai hari ini. Tetangga juga diberi Mulch dan gara-gara Mulch hubungan dengan tetangga nomor 15 lebih baik. Ia memberi kami alas untuk alas kebun hingga rumput tidak tumbuh. Alas tersebut ditaruh di kebun sayur dan ditumpangi Mulch agar rumput ilalang tidak tumbuh. Aduh leganya, Mulch-nya akhirnya habis juga...Tinggal 12 karung yang besok akan ditebarkan di kebun 57. Param kocoklah obatnya! Duh!!! Mungkin ada 200 karung Mulch sudah ditebarkan di halaman kedua rumah.
 
"Gebrok, gebrokkk, gebrokkkk!!!!!" Suara pintu di"gebrok" oleh si Cupik tadi pagi. Tidak hanya itu, ia pun mengeong-ngeong dengan sangat kerasnya. Ada apakah gerangan? Dengan bersungut-sungut kubuka pintu kantorku di rumah nomor 17 dan Cupik dengan pandangannya minta aku mengikutinya ke dapur. Dengan malas aku mengomel mengikutinya dan...ASTAGANAGA!!!! Ya, ampyun betul. Sebuah panci yang terjerang di kompor telah mengeluarkan asap, aku lupa! Tadi sedang merebus "spaghetti" dengan air "secukupnya" dan terlupa! "Aduh, Pik..Kau berjasa hari ini!" Aku berkata padanya seraya berlari mematikan kompor gas. Si Cupik duduk tegak dengan kuping berdiri di dekat pintu dapur. Aku mengelus kepalanya dan berseru pada Yu Ratri :"Wah, Yu...Hampir saja kita kebakaran!" Dan kulihat dengan sudut mataku si Bubu tidur dengan malasnya di atas kursi hitam dekat perapian! Biasanya yang suka bertugas memberitahu "apa-apa" itu si Bubu, lha kok hari ini si Cupik? Bubu biasanya memberitahukan pada Yu beberapa hal yaitu air sudah mendidih atau mesin cuci sudah selesai bertugas atau jemuran masih di luar dan hari hujan. Cupik tak pernah melakukan hal-hal tersebut...Aneh, hari ini si Cupik berjasa! Nah, teman-teman...Lumayan kan punya ASISTEN KUCIANG??? Duh! Hari ini menunya Spaghetti dengan saus Ricotta Cheese plus Baby Spinach. Ada gosongnya dikit spaghettinya tapinya! Oh, Cupik! Hari ini kau hebat deh! Keasyikan di komputer sampai terlupa kompor di dapur!
Timbunan mulch di samping rumah tinggal separuhnya. Aku bekerja keras setiap hari "berMulching-ria", memasukkan ke dalam kantung besar dengan garu serta menebarkannya keliling kebun. Pada foto tampak beberapa hasil karyaku tapi masih banyak yang harus dikerjakan. Tetangga juga kuundang untuk mengambil mulch. Tetangga samping sudah mengambilnya tetapi tetangga depan tidak mengambil mulch namun malah memberiku 'panen' kebunnya berupa "buah jeruk Pomello". Dalam bulan Juli ini pekerjaan mengurus mulch harus selesai ...Bisa gak ya? Lumayan, lengan jadi kuat dan setiap hari berolah raga. Batu bata dibeli di Flower Power @ 49 sen untuk batas mulch, sudah membeli sekitar 100 biji masih kurang juga. Hari ini acaranya membersihkan "tea room". SELINGAN Bagaimana dengan Bubu & Cupik? Sementara tidur di Tea Room tetapi setiap sore Bubu protes keras, ingin tidur di toilet aka kamar mereka. "Gak bisa Buuu...Toiletnya kan sedang diperbaiki....!" Duh, kasian juga! Cara protes si Bubu lucuuu sekali, ya sebisanya wong ia seekor kuciang! Pokoknya kita tau bahwa ia protes...
Kisah ini sambungan dari http://theresajackson.multiply.com/journal/item/881 Yah, saat itu aku memberikan sebuah meja pada seorang teman Sanaesan yang orang Indonesia. Ternyata kini teman itu berada di Indonesia dan flatnya dihuni oleh seorang Jepang bernama Kayoko-san. Sanae-san bertanya padaku kalau aku punya seperangkat kursi untuk meja tersebut. "Punya!" Jawabku dan kemarin seperangkat kursi kukirimkan ke sana naik mobil dikemudikan oleh Mbakyu Ratri. Lengkap sudah meja Retro itu kini beserta kursinya yang se-zaman. Daun meja retro itu bisa dipanjang-pendekkan, buatan Australia tahun 1950an. Kutuliskan di atas kertas untuk pemiliknya yang baru : "A Table and some good chairs invite good companies!" Lha, iya lah..Contohnya kami mengobrol sambil minum teh. Lucu juga obrolannya campuran antara broken English dan broken Japanese. Lucunya lagi, ada yang ikut minum teh yaitu salah satu koleksi Teddy Bear-ku yang kuajak serta karena paginya kami ke Dolls Society Club (harus bawa boneka - aku anggota pecinta boneka di organisasi itu nomor 1623 dan Yu nomor 1624 berarti anggotanya ribuan kan?). Sehabis minum teh, ada kegiatan origami. Kayoko-san menghias flat itu dengan karya origaminya (kertasnya dibawa dari Jepang). Yu rajin belajar padanya, aku motretin saja. Habis itu aku bertanya pada Kayoko apakah bisa membuat origami udang? Ia belum pernah membuatnya jadi kuajari membuatnya. Aku berkata padanya itulah satu-satunya ilmu yang kupunyai "membuat origami udang", satu aja dah cukup! Hahahaha! Tak terasa waktu makan malam tiba! Hidangannya "Ikan Salmon" dimasak a la Jepang (pan fry). Semua dekorasi terbuat dari origami, tatakan gelas, tempat buah, tempat sumpit dll sbgnya. Pulang perut kenyang dan dapat ilmu origami baru (untuk Yu Ratri) dan "origami udang" untuk Kayoko-san. Sebuah rendezvous dengan sebuah meja yang menghasilkan persahabatan! Gochiso samadeshita!
Hari ini kami mendapat tamu kecil yang istimewa, namanya si Daniel. Ia adalah putra pasangan Robert dan Henny. Keistimewaannya, kelahirannya sangat dinanti-nantikan. Delapan kali diusahakan melalui IVF tetapi tidak berhasil malah pada kehamilan kesembilan tidak melalui IVF lagi, secara natural! Robert orang Sydney (keturunan Inggris), Henny orang Solo (wong Jowo) dan kini lahirlah si Daniel yang dinantikan bertahun-tahun itu. Kali ini aku dipanggil Tante TJ bukan Oma TJ karena Robert hampir sebaya denganku. Si kecil Daniel sungguh "cute", seorang bayi yang lucu dan tidak rewel "a very contented baby". Foto dengan latar belakang bendera diambil di KJRI Sydney sedangkan foto keluarga diambil di rumah nomor 57.
Setiap kali pulang ke Indonesia, tujuan utama Yogyakarta, pasti minuman yang paling dirindukan adalah JUS SIRSAK. Biasanya aku pergi ke Toko Ramai dan di bagian atas terdapat "Food Court"nya, di sana aku selalu mencari seorang teman yang punya sebuah resto. Ia menjual Nasi Goreng, dulu ia teman sekelas sewaktu di SD, lulus jadi SH tapi kok pilih buka warung nasi goreng. Sambil mengobrol dengannya aku pesan Jus Sirsak tanpa gula. Nah, ini kemarin sewaktu pergi ke Bankstown, kami sekalian berbelanja dan mendapatkan buah idamanku itu yaitu SIRSAK walau pun segeluntung setelah ditimbang harganya $12.50. Karena Sirsak mengandung karbohidrat dan fruktosa maka 1/8 buah itu kumakan untuk dinner. Wis, cuman Sirsak tok.. Dulu, di kebunku di Rumah Ngabean (http://rumah-ngabean.blogspot.com/) ada sebatang pohon Sirsak yang selalu berbuah. Itu lah juga yang membuatku rindu pada buah satu ini. Konon khasiatnya banyak sekali bisa untuk anti kolestrol, membersihkan kandung kemih serta mengobati ambeien. Nah, daun Sirsak ditakuti tikus, bila daun ditebarkan di sudut-sudut bertikus pasti tikus-tikus pergi karena tak menyukai baunya. Juga bijinya bisa dipakai sebagai pestisida (digerus, konon beracun). Sambil makan buah Sirsak, bijinya kukumpulkan untuk ditanam pada musim semi mendatang! Duh, enaknya membayangkan punya sebatang pohon Sirsak di kebun! Dulu sewaktu kecil aku sering mengumpulkan daun Sirsak dan kurendam dalam air di kuali. Beberapa hari kemudian yang tertinggal adalah rangka daun Sirsak yang kemudian dijemur hingga kering dan bisa diwarnai dan dipakai sebagai pembatas buku (let-let boekoe..Hehehe!).Oh, indahnya masa-masa itu! Dan pohon Sirsak selalu banyak semut angkrangnya...Tapi toh teteup menarik!
Kedua rumah sudah dicuci bagian luarnya dengan air bertekanan tinggi. Kebun dan halamannya sudah dirapikan dan dibersihkan. Kini giliran bagian dalam rumah nomor 17. Hari ini kamar mandi dibersihkan, tegel dirapikan. Itu berarti para kuciang harus "pindah kamar", bukankah kamar mandi nomor 17 adalah kamar mereka selama ini? Pindah ke mana? Diputuskan nantinya sementara pindah ke nomor 57 tapi sementara ini masih boleh di rumah nomor 17 namun...Pindah ke gang di antara kamar-kamar dan kamar mandi (ada gang memanjang). Tenda-tenda mereka sudah di pindahkan ke situ dan Cupik pertama yang ditunjuk untuk pindah ke sana. Cupik menurut, ia diam saja. Tidur saja di tenda tetapi Bubu? Alamak! Banyak tingkahnya itu kuciang! Ia marah-marah, terus menerus menolak, bersembunyi dan ketika dipaksa tidur ia mengomel panjang sekali. Apa akal? Ya, aku pasangi pintu sementara di mulut gang, jadi kini mereka seperti berada di dalam kamar. Apa akibatnya? Heran bin ajaib Bubu berhenti mengomel, bahkan langsung tidur. Jadi kucing bisa protes juga rupanya! Sore ini kami belanja makanan kucing dan Cupik ..Ya, kok bisa-bisanya mengajakku ke dekat tas plastik berisi belanjaan kalengan dan merogohnya mengisyaratkan untuk minta dibukain kalengannya? Ya, kok bisa ya? Weleh-weleh???? Itulah hiburan punya KUCIANG, batterynya ya makanan kalengannya itu...Duh! Rewel je...Pilih-pilih pula! Pintu sementara ditutup botol Aqua dan lampu dimatikan....Rrrrrrrrrrrr....(Kasur bayinya dapat dari tetangga sebelah karena dah gak dipakai lagi...).
Tiba-tiba di samping rumah nomor 17 kini terdapat sebuah bukit. Bukit Mulch! Mulch terbuat dari pohon yang digerus dengan mesin khusus hingga tergiling semuanya, ya daunnya plus ranting mau pun akar dan dahannya. Ini adalah daur ulang bila menebang pohon. Yang paling bagus adalah GUM TREE MULCH karena baunya harum wangi seperti minyak kayu putih. Orang yang diperbolehkan membuat Mulch adalah seorang ahli disebut ARBORIST. Kebetulan aku memiliki seorang murid yang pekerjaannya jadi Arborist dan aku memesan "Gum Tree Mulch" darinya. Karena ia tidak punya maka ia minta pada temannya dan si Grant temannya itu memberiku hadiah mulch terbuat dari gum tree yang kuinginkan. Waduh, Grant datang dengan truknya dan menuangkan 1/4 bak truk Mulch ke halaman samping. Baunya harum kemana-mana! Kini berhari-hari kerjaku memasukkan mulch ke dalam "bags" dan menebarkannya keliling kebun. Mulch berguna untuk menyuburkan tanah, menghemat air karena tanah yang tertutup mulch jadi lembab dan juga indah. Mulch ditaburkan di sekeliling tanaman dan pohon serta pinggiran kebun. Karena terlalu banyak Mulch aku keliling ke tetangga, mereka boleh ambil juga. Bahkan tetangga nomor 15 menghadiahiku dengan plastik khusus untuk menutup tanah sebelum dituangi mulch, 50 meter panjangnya! Hehehehe! Semacam barter tanpa perjanjian! Setiap hari kerjanya di kebun menuang mulch ke karung, menggali mulch dan menggotong serta menebar mulch di halaman belakang. Duh, pegalnya!!!! Tapi sehat kan? Dingin pun tak terasa! Level gula darah pun turun...
Beberapa hari ini sibuk sekali. Kedua rumah dicuci oleh 2 orang pekerja dengan semprotan air yang disebut "Water pressure" dan dilanjutkan kebun ditata sesudah itu "cuci gudang". Memang untuk persiapan menjual, sama dengan ketika menyewa, rumah harus ditata rapi sehingga tampil bersih menawan. Nah, ketika "cuci gudang" itu lah aku "bertemu" kembali dengan kursi ini. Duh nasibnya "sang kursi". Dibeli ketika ada pameran seorang temanku dari jurusan Kriya di ASRI. Terbuat dari kayu sawo dan pada saat kubeli yaitu sekitar tahun 1985 harganya 400 ribu rupiah (satu set 4 kursi dengan mejanya semua dari kayu sawo). Eh, pada suatu hari "tiba-tiba" kursi ditaksir iparku dan dibawa ke rumah mereka dan waktu itu anak-anak adikku itu masih balita. Ya, si Alvin kecil menggunakan si kursi sebagai "kuda-kudaan kayu" dan "braaak" terjerembablah si kursi dan lengannya yang melingkar itu patah menjadi dua. Kursi kuambil dan kucari si pembuat aslinya, ternyata sebuah perusahaan meubel milik Pak Hasyim. Memang temanku itu desainernya tetapi yang membuat adalah para tukang Pak Hasyim. Kursi pun diperbaiki menjadi bagus kembali. Bertahun-tahun berlalu aku pindah ke Australia, ketika pulang kulihat kursi itu sudah diambil oleh sepupuku. Nah, bertahun-tahun kulihat kursi itu di sana sampai pada suatu hari kulihat si kursi rusak lagi. Apa pasal? Anak sepupuku itu sudah beranjak remaja, pada suatu hari karena frustrasi, ia praktekkan jurus karatenya ke kursiku itu. Gebrakannya membuat lengan si kursi patah lagi. Aku ambil dan dikirim ke tempat Pak Hasyim lagi. Setelah diperbaiki, keempatnya plus mejanya kuangkut bersama barang lain dalam container ke Australia. Eh lha dhalah temenan, walau pun sudah dibungkus sedemikian apik, ...Akhirnya lengan kursi itu patah pula lagi! Di Sydney mau di"obati" ke mana tuh kursi? Ada beberapa bisa ditemukan di internet sih. Ini sedang kutanyakan berapa biayanya untuk menyambung lengannya tersebut! Sudah jauh-jauh dibawa kok ya masih bernasib sama! Wis jan! CATATAN Lucunya Bubu Cupik suka bermain di atas kursi itu (main petak umpet) ketika kursi masih dalam bungkusannya sehingga ketahuan kalau patah. Is tetangga tanya :" Who did that?" Kujawab :"Bubu and Cupik did that." Dia marah-marah:"Impossible! They are just two cats!" Hehehehe! Habis siapa kali ini hayo???
Sangu dalam perjalanan yang paling praktis adalah ONIGIRI (Rice Balls). Ini bukan SUSHI, lain. Yang memperkenalkan adalah Sanae-san. Nasi yang ditanak adalah Koshihikari, sewaktu masih hangat tambahkan garam sedikit serta mirin. Letakkan segumpal di tengah potongan Gladwrap dan isi dengan sayur (timun, avocado) dalam hal ini kuisi abon kemudian kepal menjadi bulatan. Onigiri biasanya dimasukkan ke dalam tas kain yang bagus dan diedarkan dengan mudah di mobil. Boleh juga dimakan dengan telur rebus dan sayur lalapan. Telurnya kali ini telur asin buatan sendiri tapi yang belum masin benar! Nah, itu dia kotak buatan Mbak Ratri dari kertas (brosur iklan dan lain-lain). Bukankah ini cara mendaur ulang yang baik? Onigirinya? Sedaaaap! (Bersambung)
Bagaikan BURKE & WILLS yang memulai ekspedisi mereka keliling Australia, kami menempuh jarak 400 kilometer ke arah mendekati Queensland ke kota Port Macquarie. Kami berangkat berlima (grup yang pergi ke Tasmania pada bulan November lalu, dulu berenam tapi satu berhalangan). Semua biaya dibagi! Untuk adilnya pemilik serta pengemudi mobil yaitu Stephen & Winda tak usah membayar bensin tapi biaya bensin dibagi tiga. Biaya keseluruhan $120 jadi seorang hanya @$40, cukup hemat kan? Makanan juga bila dibeli biayanya dibagi namun banyak sumbangan makanan dari masing-masing! Lumayan! Pokoknya meriah. Hotel juga demikian, kebetulan itu jatahnya Winda, hotel milik Wyndham. Ceritanya menyusul nanti tetapi dengan pembagian biaya yang adil begini, biaya piknik bisa ditekan namun kami "enjoy" banget! (Hehehehe!). Dalam mobil bila piknik sudah tersedia nasi (2 macam dalam 2 rice cooker, Jasmine Rice dan...Basmati). Aku teteup diet lho, kalau tak ada nasi aku membuat WRAP, sehat itu. Ada juga teh hitam dalam termos dan air minum serta buncis (untukku) dan buah-buahan seperti jeruk mandarin misalnya. Dan Mbakyu Ratri sudah membuat banyak kotak-kotak kecil dari kertas daur ulang untuk tempat sampah (nanti ya fotonya! Lutuuu deh pokoknya, praktis). Dengan mobil sendiri begini setiap ada OUTLOOK bagus bisa berhenti untuk melihat, sayangnya perjalanan kami banyak diwarnai hujan namun demikian teteup hebring deh! Persahabatan kami berlima juga tambah akrab. (Bersambung)
Kami berangkat ke Port Macquarie cukup pagi (meninggalkan rumah pukul 6.30 dan telah tiba di rumah Winda serta Stephen pada jam 7 pagi). Mobil Avencis ditukar dengan Tarago dan kami berangkat pada jam 8 pagi. Winda telah menyiapkan Bihun Goreng dan dibawa dalam sebuah panci plus satu stoples brambang gorengnya. Setelah menjemput Lianna, kami berangkat menuju ke Port Macquarie sekitar jam 8.30 pagi. Jalanan belum terlalu ramai. Di tengah perjalanan kami berhenti untuk makan pagi di suatu tempat perhentian. Pedoman mengemudi di Australia harus berhenti setiap 2 jam (STOP, REVIVE, SURVIVE). Di tempat perhentian yang tersedia selalu terdapat fasilitas tempat duduk, meja dan toilet serta air bersih. Di sana kami bertemu dengan dua orang turis dari negeri Belanda (namanya Corina dan Iris, ibu dan anak). Mereka berasal dari Utrecht. Keduanya menyewa sebuah CAMPERVAN untuk berkeliling Australia selama 18 hari. Menurut mereka biayanya 400 Euro atau @$45 perharinya! Murah sekali! Mobil Toyota Lucida itu telah diubah menjadi HOTEL BERJALAN dengan fasilitas dua tempat tidur yang bisa juga menjadi sofa, meja, lemari es, kompor gas, televisi, tempat air minum. Kami jadi tertarik, sambil mengobrol mereka dihadiahi sepinggan Bihun Goreng masakan Winda plus taburan Brambang Goreng. Bila tertarik, silakan buka http://jucy.com.au/ Sekali-kali boleh dicoba juga! Dari Australia mereka akan meneruskan perjalanan ke Selandia Baru. CATATAN Kami pergi dari hari Sabtu tanggal 7 Juni hingga Senin tanggal 9 Juni 2008. Pulangnya harus mengejar deadline menulis artikel untuk majalah Ausindo (kali ini hanya 4 halaman, sudah tepar! Judulnya : Timbertown (Australia 100 Tahun yang lalu - 2 halaman), Menjadi Judge Judy di Port Macquarie's Court House - 1 halaman, Bihun Goreng Istimewa (1 halaman) - Istimewa karena bisa dipakai sebagai alat untuk menggalang persahabatan). (Bersambung)
Siang ini kiriman kerikil dan Bush Rocks tiba. Ternyata oleh truck drivernya kerikil langsung "dituang" ke drive way. Jadi hari ini kerja keras memindahkan kerikil dengan sekop ke samping rumah. Pekerjaan cukup berat! Bush Rocks-nya indah sekali, langsung asal letak saja sudah bagus namun rencananya akan dibuat "Rock Garden". Nah, tulisan ini dibuat jam 3.30 pagi, sebentar lagi kami akan berangkat ke Port Macquarie, sebuah kota wisata sekitar 400 kilometer dari Sydney ke arah mendekati Queensland. Rencananya kami berlima (grup yang ke Tasmania kemarin minus 1 orang) akan berada di sana untuk menghabiskan "long weekends" ini. Mohon pamit dulu ya teman-teman, online-nya lagi mungkin hari Senin tanggal 9 Juni sepulang dari sana atau 10 Juni (karena harus mengejar deadline majalah). Sampai jumpa! CATATAN Yang nyetir Stephen, mbakyu Ratri hanya "drive" sampai ke rumah Stephen & Winda saja. Mobil kami akan ditinggalkan di garasi mereka dan ganti naik Tarago yang lebih besar. Sementara itu para kuciang tidak di-kost-kan tapi ditinggalkan di rumah dititipin si Is tetangga sebelah (Thanks Is, also the two pigeons Brownnie & Melati). Menurut Is, pengambilan Bush Rocks oleh Flower Power biasanya dengan izin ketika ada pembangunan, pembukaan hutan, terowongan dll jadi tidak bisa asal ambil oleh yang tidak berwenang, maka daripada itulah batu-batu harganya mahal.
| |